Satwa Langka Terancam Punah, Apa Penyebabnya?

satwa langka terancam punah
Harimau, salah satu satwa langka yang terancam punah. Foto: Ist/Net

Satwa langka terancam punah. Populasi satwa liar semakin sedikit. Salah satu penyebabnya adalah kanker yang menyerang satwa langka.

Selain itu juga adanya kelainan sel yang muncul karena mutasi sehingga dapat merusak fungsi sel dan sangat mematikan. Peluang hidup satwa juga dipengaruhi oleh kelainan tulang belakang dan bentuk wajah.

Masalah genetik pada satwa-satwa ini dapat diatasi dengan teknologi modifikasi genom, pemindahan satwa ke habitat dan penangkaran yang lebih baik.

Penelitian tentang dinamika genom satwa liar juga diperlukan, meskipun telah ada teknologi genomik yang modern.

Penyebab Satwa Langka Terancam Punah

Satwa langka terancam punah disebabkan oleh berbagai penyakit genetik yang sangat mematikan. Selain itu, sampai saat ini masih marak perburuan ilegal.

Di alam maupun penangkaran, perkawinan cenderung sekerabat yang menyebabkan komposisi genetika hampir sama.

Spektrum kerja sistem imun tubuh tidak dapat dikembangkan karena variasi genetik yang sama dari perkawinan sekerabat.

Terkumpulnya mutasi berbahaya menyebabkan turunnya tingkat harapan hidup suatu kelompok satwa akibat perkawinan sekerabat. Hal ini jadi salah satu penyebab satwa langka terancam punah.

Satwa yang bertulang belakang, pada fungsi tubuhnya sangat bergantung pada gen untuk menjaga sel selalu sehat.

Gen pada umumnya mempunyai dua salinan dalam sel. Setiap salinan tersebut mempunyai variasi atau biasa disebut alel.

Variasi dalam salinan gen dapat bermutasi dan merusak fungsi sel. Namun, gen masih dapat berfungsi apabila salah satu salinan mengalami mutasi, sedangkan yang lainnya tidak.

Peluang dua salinan bermutasi yang bertemu dapat mengganggu fungsi gen bila perkawinan sekerabat dilakukan.

4 Satwa Langka Terancam Punah

Beberapa satwa langka terancam punah saat ini, diantaranya adalah badak. Hewan ini termasuk satu dari subspesies badak putih.

Populasi dari badak berstatus kritis. Sampai saat ini, badak putih utara yang terdapat di dunia tersisa hanya tiga ekor saja.

Badak yang tersisa itu terdiri dari dua betina dan satu jantan. Badak tersebut dipelihara dan dirawat di kebun binatang San Diego, Amerika Serikat.

Satwa langka terancam punah selanjutnya adalah kanguru jenis Makropod. Kanguru jenis ini beradaptasi dengan lingkungan dan berada di atas pepohonan.

Kanguru pohon ada di Queensland dan Australia. Namun, akan lebih banyak ditemukan di Papua Nugini.

Untuk merawat anak-anaknya, kanguru pohon juga sama dengan kanguru lainnya yakni memiliki kantong pada bagian perut.

Baca Juga: Laba-laba Tanpa Mata, Adaptasi Hidup di Kegelapan

Satwa langka terancam punah selanjutnya adalah komodo. Komodo terbesar mempunyai ukuran panjang 3 meter, sementara untuk beratnya bisa mencapai 70 kilogram.

Komodo kini dilindungi di Taman Nasional Komodo. IUCN mengkategorikan komodo sebagai satwa langka terancam punah.

Hewan yang terakhir terancam punah adalah harimau Sumatera. Kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan karena keberadaan spesies harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 300 sampai 400 saja.

Habitat harimau terusik akibat dari pembukaan secara ilegal lahan kelapa sawit. Jika dibiarkan saja, populasi harimau ini kemungkinan akan punah pada tahun 2050 mendatang.

Modifikasi Genom dan Upaya Translokasi

Mutasi gen berbahaya pada saat dapat diatasi dengan modifikasi genom sehingga dapat membantu konservasi satwa langka terancam punah.

Modifikasi genom ini merupakan cara untuk menyelamatkan populasi dari hewan langka. Telah dilakukan percobaan pada musang berkaki hitam di Amerika.

Daya tahan tubuh musang dapat meningkat dan terhindar dari penyakit mematikan. Para peneliti juga ingin melakukan penyelamatan pada satwa yang terancam punah dengan mengontrolnya melalui gen.

Modifikasi ini telah berhasil diterapkan pada beberapa hewan, diantaranya adalah sapi, monyet dan nyamuk. Ke depan perlu dilakukan juga pada satwa langka terancam punah.

Modifikasi dilakukan di laboratorium untuk keperluan agrikultur dan medis. Namun, belum ada prediksi secara akurat mengenai gen baru yang dimasukkan untuk merubah populasi generasi baru.

Mutasi gen berbahaya juga dapat diatasi dengan cara translokasi. Translokasi merupakan upaya memperbanyak individu baru dalam populasi yang hampir punah.

Individu baru ini tentunya harus dari populasi yang berbeda agar menghasilkan genetik yang bervariasi. Sehingga mutasi berbahaya bisa diminimalisir.

Meskipun upaya translokasi dinilai cukup baik, namun perlu diketahui sejarah genetik populasi asal mula individu.

Langkah pertukaran individu spesies antarnegara harus melalui pengawasan yang ketat mengenai kondisi kesehatannya.

Hal tersebut dilakukan agar jumlah variasi genetik satwa langka tercukupi untuk kebutuhan penangkaran. Selain itu, agar dapat menyelamatkan satwa langka terancam punah. (R10/HR-Online)