Selasa, September 27, 2022
BerandaBerita TerbaruTeknologi CRISPR Cas9, Modifikasi Gen dalam Sel Kanker

Teknologi CRISPR Cas9, Modifikasi Gen dalam Sel Kanker

Teknologi CRISPR Cas9 dipakai untuk menghasilkan dua set data berbeda secara metodologi. Layar akan memverifikasi hasil dari masing-masing data.

Cancer Dependency Map telah menunjukkan proyek tentang gen yang sangat vital untuk kelangsungan hidup sel kanker. Gen tersebut telah disimpan dalam berbagai dataset.

Masih menjadi perdebatan, apakah kumpulan data tersebut cocok antara satu sama lain. Namun, layar genetik CRISPR-Cas9 pan-kanker menemukan dua set data yang besar. Setelah dibandingkan, ternyata terbukti konsisten.

Modifikasi Gen dalam Sel Kanker dengan Teknologi CRISPR Cas9

Layar CRISPR-Cas9 mampu meniru bias dari layar lainnya. Satu layar berasal dari Wellcome Sanger Institute, sementara yang lain dari Broad Institute.

Layar teknologi CRISPR Cas9 telah diintregasi untuk membentuk Peta Ketergantungan Kanker. Ketergantungan kanker secara spesifik adalah target terapi menurut Broad Institute.

Mutasi genetik menimbulkan sel kanker tumbuh. Selain itu juga lebih rentan spesifik tidak mempunyai sel normal.

Namun sayang sekali hubungan antara ketergantungan kanker dan fitur genetiknya kurang dipahami. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya Peta Ketergantungan Kanker. Peta tersebut bersumber dari eksperimen dengan garis sel kanker di laboratorium.

Para peneliti dalam risetnya memakai teknologi CRISPR Cas9 untuk memodifikasi gen dalam sel kanker. Satu per satu sel kanker dimatikan guna mengukur kelangsungan hidup mereka.

Kemudian, untuk menentukan target obat yang layak diambil dari gen yang paling esensial atau dikenal sebagai dependensi.

Dalam artikel yang berjudul Kesepakatan Dua Set Data yang Ketergantungan Kanker Gen CRISPR-Cas9 Pan-kanker Besar, menyatakan secara rinci mengenai perbandingan temuan antara Wellcome Sanger dan Broad muncul pada 20 Desember di Nature Communications.

Temuan dari hasil layar sesuai di berbagai metrik, baik itu dengan dependensi umum maupun spesifik yang diidentifikasi oleh kedua studi.

Namun, ada perbedaan dalam protokol dan reagen eksperimental. Terdapat biomaker yang kuat dari ketergantungan gen yang ditemukan di satu set data.

Teknologi CRISPR Cas9 untuk Pengembangan Obat Kanker

Para peneliti telah mereproduksi dependensi umum serta spesifik dua dataset. Mereka juga mengambil biomarker dari ketergantungan gen hasil temuan melalui satu dataset.

Kemudian data tersebut dipulihkan pada yang lain. Pada analisis sangat teliti, tidak bias dan menunjukkan pendekatan yang sama sehingga dapat diidentifikasi mengenai target obat.

Wellcome Sanger mengumumkan tentang studinya yang memvalidasi reproduksibilitas layar genetik teknologi CRISPR Cas9.

Tidak perlu diragukan lagi akan kemanjurannya serta menetapkan tentang standar ketat dalam menilai set data ketergantungan gen CHRISH Cas9 pada kanker pankreas.

Penelitian ini memajukan perbandingan dan integrasi database mengenai ketergantungan kanker. Penelitian juga menghasilkan kumpulan data gabungan skala yang dirasa sudah cukup.

Untuk mempercepat penemuan serta pengembangan obat kanker yang baru, telah digabungkan 725 model kanker. Penggabungan tersebut mencakup 25 jenis kanker yang berbeda.

Cancer Dependency Map mempunyai tujuan untuk memberikan pedoman bagi pasien untuk dapat merawat kanker yang presisi.

Kesenjangan translasi antara sekuensing genom dapat dihubungkan. Sehingga dapat menyediakan obat presisi bagi penderita kanker.

Penelitian sangat penting dilakukan untuk menunjukkan validitas metode eksperimental. Disamping itu juga untuk menunjukkan konsistensi data yang dihasilkan teknologi CRISPR Cas9.

Penggabungan dua set data ketergantungan kanker diharap dapat memberikan akses kekuatan statistik yang kuat. Sehingga daftar target generasi perawatan kanker bisa dipersempit untuk berikutnya.

Kelemahan Metode CHRISPR

Metode CHRIPSR kadang mempunyai kelemahan di luar target. Modifikasi yang ditargetkan tidak sepenuhnya berhasil, kadang meleset dari rencana.

Banyak negara yang sudah mencoba mengaplikasikan metode ini. Karena metode ini terbilang baru, maka diperlukan uji coba dan riset lanjutan. Dengan demikian, dapat menghasilkan pengaplikasian metode yang baik.

Pada tahun 2015, beberapa peneliti dari China telah melakukan modifikasi gen pertama pada embrio manusia.

Embrio yang dimodifikasi tidak viabel untuk mengubah gen yang mempunyai tanggung jawab terhadap terjadinya talasemia B. Dari hasil penelitian tersebut tidak sesuai dengan harapan.

CHISPR dilakukan pada 86 embrio, 54 dari 71 embrio yang bertahan dilakukan pengujian secara genetik. Kemudian, hanya 28 sambungan yang berhasil.

Dari 28 sambungan, hanya satu fraksi saja yang berisi materi genetik pengganti. Selain itu, teknologi CRISPR Cas9 juga menghasilkan beberapa mutasi yang tidak diinginkan.(R10/HR-Online)