Tikus Zaman Purba Ditemukan di Cina, Mamalia Pengerat Berusia 120 Juta Tahun

tikus zaman purba
Ilustrasi tikus zaman purba. Foto: Ist/Net

Belum lama ini peneliti berhasil menemukan fosil tikus zaman purba di area kuburan hewan Formasi Jiufotang di Provinsi Liaoning Cina.

Adapun tim peneliti yang berhasil menemukan fosil tersebut adalah Yuanqing Wang, ahli Paleontologi yang berasal dari Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata di Beijing.

Mamalia pengerat ini diperkirakan hidup sekitar 120 juta tahun lalu. Dengan perkiraan usia tersebut, tikus ini diduga hidup selama periode Kapur bersama dinosaurus.

Penemuan Fosil Tikus Zaman Purba

Pada Kamis 28 November 2019, para peneliti mengungkap bahwa fosil tikus purba yang ditemukan berasal dari spesies multituberculate.

Sekilas untuk diketahui, Multituberculata adalah satu-satunya spesies mamalia yang mengalami kepunahan secara menyeluruh. Tak ada satu pun keturunannya yang masih hidup sekarang.

Jika dibandingkan dengan semua garis mamalia, sejarah fosil spesies tikus zaman purba ini bisa sampai 100 juta tahun lamanya.

Fosil tikus ini memiliki julukan Jeholbaatar kielanae. Menariknya, hewan purba Jeholbaatar kielanae ini mempunyai bobot sekitar 1,5 ons.

Dengan bobot tersebut, fosil tikus ini ditemukan dalam bebatuan yang ternyata berasal dari era Cretaceous. Dimana zaman tersebut memiliki rentang waktu 79 juta tahun setelah dinosaurus punah pada 145 juta tahun lalu.

Mulanya, tikus Jeholbaatar kielanae ini hidup bersama dinosaurus. Selama hidupnya, tikus Jeholbaatar kielanae memakan tanaman berbunga atau angiospermae yang ada pada 140 juta tahun lalu.

Baca Juga: Purba Fosil Burung Purba Fukuipteryx Ditemukan di Jepang, Usianya Sudah 120 Juta Tahun

Dijelaskan juga bahwa tikus purba ini termasuk hewan omnivora yang tak hanya memakan tanaman saja, akan tetapi juga cacing dan artropoda.

Saat makan pun, tikus zaman purba ini melakukan gerakan menggigit secara vertikal layaknya kucing. Tak hanya itu, cara makannya juga mirip dengan sapi karena suka menggerakkan rahang bawah ke samping.

Agar bisa dicerna dengan baik, semua santapannya akan dilahap dengan cara dipotong dan digiling, kemudian menariknya mundur.

Hidupnya mulai terusik saat ada asteroid luar angkasa yang jatuh ke Bumi. Dalam peristiwa ini, dinosaurus mengalami kepunahan.

Namun berbeda dengan tikus purba Jeholbaatar kielanae yang berhasil bertahan hidup. Meski usianya sudah sangat tua, namun fosil tikus ini ditemukan secara utuh.

Bahkan peneliti menyebut ada gigi atas dan bawah yang masih jelas terlihat dalam penemuan fosil tersebut. Fosil tikus purba ini benar-benar terawetkan.

Karakteristik Tikus Jeholbaatar kielanae

Dalam temuan fosil tikus purba Jeholbaatar kielanae, ilmuwan berhasil mengungkap beberapa karakteristiknya selama hidup di masa silam.

Dari ukuran, tikus Jeholbaatar kielanae ini tak memiliki badan yang besar layaknya hewan purba lainnya. Bahkan ukurannya hampir serupa dengan tikus modern.

Badan tikus zaman purba ini juga dipenuhi dengan bulu. Uniknya, hewan purba ini mempunyai kemampuan pendengaran yang luar biasa.

Para peneliti pun semakin tertarik untuk mempelajarinya. Dalam penelitian yang dilakukan, ilmuwan menemukan fakta bahwa fosil tersebut memperlihatkan bagian tulang yang aneh.

Tulang aneh di dalam telinga tikus ini berukuran kecil dan dikenal dengan incus. Tulang ini ditemukan di bagian belakang tulang lebih besar yang dikenal dengan malleus.

Dengan telinga yang tak biasa, tikus ini mampu mendengar berbagai jenis suara. Selain itu, kemampuannya dalam mendengar juga memudahkannya dalam mencapai jenis gerakan mengunyah yang sesuai dengan makanannya.

Berkat kemampuannya dalam mendengar, tikus ini juga mampu mempertahankan diri dari ancaman dinosaurus yang memiliki pergerakan cepat. Sebut saja Iguanodon, Muttaburrasaurus, Microraptor, dan Sauropelta.

Tak hanya memiliki sistem pendengaran yang mumpuni, tikus zaman purba ini juga memiliki bentuk pipi bagian bawah yang tak kalah mencuri perhatian.

Dari temuan fosilnya, para peneliti menyebut bahwa karakteristik yang dimiliki tikus purba Jeholbaatar kielanae, termasuk rahang dan telinganya, dipengaruhi oleh jenis makanannya.

Hubungan tersebut seakan menyibak misteri mengenai bagaimana dan mengapa alat pendengaran hewan berubah di semua rantai evolusi yang selama ini memang ingin diketahui ilmuwan.

Sang penemu fosil, Yuanqing Wang, juga menjelaskan bahwa tikus purba ini memang mirip dengan tikus modern yang ukurannya besar.

Hanya saja, ditegaskan bahwa Jeholbaatar kielanae adalah cabang evolusi yang terpisah dengan tikus. Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa tikus zaman purba ini termasuk salah satu evolusi dari mamalia Multituberculata. (R10/HR-Online)

Loading...