Rabu, Mei 25, 2022
BerandaBerita TerbaruGuru MTs di Pangandaran yang Rusak Sandal Siswanya Dinilai Menodai Dunia Pendidikan

Guru MTs di Pangandaran yang Rusak Sandal Siswanya Dinilai Menodai Dunia Pendidikan

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Perbuatan seorang guru MTs di Pangandaran, tepatnya di Kecamatan Cigugur, yang menghukum siswa dengan merusak sandalnya dinilai telah menodai dunia pendidikan. Pasalnya sanksi dari guru terhadap muridnya itu dianggap tidak mendidik sama sekali.

Hal itu dikemukakan Rizky Fazry Gunawan, mahasiswa Pangandaran yang sedang mengenyam pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta.

Rizki mengatakan, harusnya guru MTs di Pangandaran itu menimbang akibat dari hukumannya terlebih dahulu, apakah berdampak positif atau malah sebaliknya.

“Harusnya guru ketika memberi sanksi itu mempelajari dulu sisi psikologis siswanya, apalagi sanksi diberikan yakni merusak sandal itu dilakukan saat jam pelajaran dan di hadapan siswa lain,” kata Rizky kepada HR Online, Selasa (28/1/2020).

Rizky melanjutkan, bisa saja di kemudian hari siswa yang dirusak sandalnya itu dendam, lantaran telah dipermalukan di hadapan teman-temannya.

“Jika aturan sekolah memperbolehkan guru merusak sandal siswa saat jam pelajaran, maka aturan tersebut harus ditinjau ulang, karena sama sekali tidak punya nilai pendidikan yang baik,” katanya.

Menurutnya, ada berbagai cara untuk menyadarkan siswa yang memakai sandal saat jam pelajaran. Apalagi siswa tersebut punya alasan yang masuk akal kenapa tidak memakai sepatu dan malah memakai sandal.

“Ada keterbatasan ekonomi dari siswa ini, sehingga ketika sepatunya basah, dia terpaksa memakai sandal, karena tidak ada sepatu lain lagi. Dengan merusak sandalnya, ini justru melukai perasaan siswa tersebut,” tuturnya.

Baca Juga: Oknum Guru di Pangandaran Rusak Sandal Muridnya, Ramai Dibahas di Medsos

Guru MTs di Pangandaran yang Rusak Sandal Siswanya Tengah Dibina

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Pangandaran, Nana Supriatna, mengatakan, guru MTs yang merusak sandal siswanya kini sedang dibina melalui pengawas Kemenag.

“Kalau dilihat dari SK ASN-nya, guru MTS itu penugasannya di MI, sementara kalau di MTS itu dia hanya diperbantukan,” tutur Nana.

Nana mengimbau agar para guru yang berada di bawah naungan Kemenag Pangandaran, tidak memberi hukuman yang berlebihan kepada siswanya.

“Memberi sanksi itu boleh saja jika siswa melanggar, tapi lihat dulu sanksinya itu apa, jangan sampai sanksi yang diberikan malah merampas hak siswa dan melukai perasaannya,” katanya. (Ceng2/R7/HR-Online)

- Advertisment -