Selasa, Juli 5, 2022
BerandaBerita CiamisHarga Melejit, Pengrajin Minyak Kelapa di Bangbayang “Gulung Tikar”

Harga Melejit, Pengrajin Minyak Kelapa di Bangbayang “Gulung Tikar”

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Pengrajin minyak kelapa murni (virgin coconut oil) di Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, gulung tikar. Hal itu disebabkan karena harga bahan baku terus merangkak naik dan semakin sulit dijangkau.

Abas, salah satu pengrajin minyak kelapa di Desa Bangbayang, Senin (06/01/2020), mengatakan, sudah hampir enam bulan tidak membuat minyak. Alasannya karena selain harga kelapa terus melejit, harga jual minyaknya rendah, kalah bersaing dengan minyak kemasan ataupun minyak curah.

Menurut Abas, saat harga kelapa masih murah, dalam satu minggu bisa memproduksi sampai lima kali, dengan rata-rata setiap kalinya menghasilkan 4 kg minyak. Namun, setelah harga biji kelapa melambung tinggi, untuk memproduksi minyak kelapa dia harus berpikir dua kali.

Bahkan Abas lebih memilih tidak membuatnya karena tidak sebanding dengan biaya produksi. Biji kelapa semakin mahal, disisi lain harga minyak kelapa harus bersaing dengan harga jual minyak curah.

Abas mengungkapkan, untuk sekali produksi (satu jirangan) per 40 biji kelapa, setidaknya harus mengeluarkan uang sekitar Rp. 135.000 – 140.000. Dari jumlah biji kelapa atau modal yang dikeluarkan, dia hanya mendapatkan 4 kg minyak.

Sebab rasionya, 1 biji kelapa dapat menghasilkan 1 ons minyak. Dengan perhitungan tersebut, maka belum terhitung upah kerja. Dan harga pokok minyak sudah mencapai Rp. 35.000/ kg.

“Dengan harga seperti itu, otomatis kalah bersaing dengan jenis minyak-minyak goreng lainnya,” katanya.

Untuk saat ini, kata Abas, ketimbang harus membuat minyak, lebih baik menjual gelondongan saja, terpenting tidak putus dalam usaha. Meski demikian, kalau ada yang membutuhkan, dia siap menjembataninya.

“Sebab, masih ada pengrajin yang eksis,” katanya.

Abas menambahkan, selama harga biji kelapa melambung dan sistem pembuatannya dilakukan secara manual, dapat dipastikan perajin minyak kelapa akan gulung tikar. Sebab pendapatan yang diperoleh tidak seimbang dengan biaya produksi.

“Adapun yang masih berjalan disebabkan cara membuatnya sudah menggunakan teknologi/ mesin yang canggih. Sehingga tidak begitu besar mengeluarkan biaya produksi,” terangnya. (Dji/Koran HR)