Hujan Salju di Arab Saudi, Tanda Kiamat?

Hujan Salju di Arab Saudi
Fenomena hujan salju di Arab Saudi. Foto: Twitter Kedubes Arab Saudi di AS.

Hujan salju di Arab Saudi disebut-sebut sebagai salah satu tanda kiamat. Fenomena hujan salju yang terjadi di Kota Tabuk, Arab Saudi memang mencengangkan. Pasalnya, suhu udara kota yang ada di perbatasan Yordania-Arab Saudi itu biasanya panas dan kering.

Hanya saja beberapa hari terakhir justru diselimuti salju. Sontak pemandangan serba putih menarik perhatian warga dunia. Foto-foto seputar hujan salju di Kota Tabuk pun bertebaran di dunia maya.

Sejumlah video bahkan memperlihatkan unta yang sedang berjalan di tengah-tengah salju. Jika biasanya unta biasa berjalan di atas pasir gurun, kini unta-unta tersebut terlihat berada di hamparan putih salju.

Video lainnya juga menampakkan sejumlah warga Tabuk, Arab Saudi yang tengah bermain dengan salju. Selain video, beredar pula foto-foto seperti mobil-mobil yang terjebak di jalanan bersalju di Kota Tabuk.

Hujan Salju di Arab Saudi Karena Badai di Daratan Eropa

Dikutip HR Online dari ABC News, Sabtu (18/1/2020), suhu Kota Tabuk saat hujan salju mencapai 4 derajat celcius. Suhu tersebut membuat Tabuk jadi daerah paling dingin di Arab Saudi.

Ahli meteorologi senior AccuWeather, Eric Leister, menyebut fenomena langka di Arab Saudi tersebut disebabkan badai hebat di Eropa Selatan dan Mediterania.

“Badai itu menuju ke Timur Tengah minggu lalu. Ini yang membuat suhu dingin di Kota Tabuk yang diikuti hujan salju,” kata Leister.

Dari penelusuran HR Online, rupanya hujan salju di Arab Saudi ini bukan yang pertama kali terjadi. Pasalnya fenomena serupa juga terjadi pada April 2019 lalu.

Sementara, saat ini badai dahsyat juga melanda negara lain di Timur Tengah. Seperti di Uni Emirat Arab (UEA), badai ditandai dengan hujan deras, akibatnya ibu kota UEA, Dubai, banjir. Begitupun dengan kota lainnya di UEA, kota Sharjah juga terendam air.

Eric Leister menegaskan, akibat badai yang terus bergerak ke Timur mengakibatkan banjir dahsyat dan hujan salju yang cukup lebat di wilayah Timur Tengah.

“Sistem badai ini bergerak ke arah Timur sehingga menyebabkan banjir mematikan dan salju lebat,” kata Leister.

Selain hujan salju di Arab Saudi, salju yang turun musim dingin membuat sedikitnya 69 orang tewas di Kasmir, Pakistan, dan India. Hal itu terjadi lantaran salju lebat yang diikuti longsoran salju menimpa 3 kawasan tersebut.

Tercatat, 53 rumah hancur di Pakistan akibat longsor salju. Pada insiden tersebut, 50 orang berhasil diselamatkan dari tumpukan salju.

Sementara di Afganistan, 39 orang yang tersebar di sejumlah provinsi meninggal akibat salju. Udara dingin yang dibawa salju disinyalir sebagai penyebab meinggalnya puluhan orang, hanya dalam kurun waku dua minggu.

Hujan Salju di Sejumlah Wilayah Timur Tengah, Tanda Kiamat?

Hujan salju di Arab Saudi dan wilayah Timur Tengah lainnya banyak dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat. Namun sejumlah ahli meterologi menyebutnya sebagai dampak dari perubahan iklim.

Salah satunya disebut oleh Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan. Dia menyebut salju yang turun di Arab Saudi adalah bukti nyata adanya perubahan iklim.

“Cuaca ekstrim seperti salju yang turun di kawasan yang tidak biasanya merupakan dampak perubahan iklim. Ini nyata terjadi,” kata Dodo dikutip dari berbagai sumber.

Apabila merujuk pada musim, lanjut Dodo, Bumi bagian Utara memang sedang musim dingin. Namun pada kenyataannya, salju penanda musim dingin itu justru turun di tempat tidak biasa seperti di negara yang dikenal dengan cuaca panasnya.

“Ini pertanda suhu di lapisan atmosfer kawasan tersebut lebih dingin, tidak seperti biasanya. Karena kondisi udaranya dingin, maka awan-awan yang turun masih dalam bentuk salju,” terang Dodo.

Dodo bahkan memprediksi jika fenomena tak biasa itu bisa juga terjadi di negara lain yang biasanya tidak bersalju.

“Sejalan dengan perubahan iklim, di masa mendatang bisa saja terjadi hujan salju seperti di negara Arab,” katanya.

Fenomena seperti hujan salju di Arab Saudi diprediksi Dodo juga bakal terjadi di daerah yang termasuk lintang lebih rendah, seperti halnya terjadi juga di Yunani. (Ndu/R7/HR-Online)

Loading...