Lobster Air Tawar, Berkah Warga di Perbatasan Kota Banjar-Ciamis

Nelayan penangkap lobster air tawar di Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar
Nelayan penangkap lobster air tawar di Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, memperlihatkan lobster hasil tangkapannya dari saluran air yang ada di daerahnya. Photo: Galuh Nur Fattah/HR.

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Lobster air tawar merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, tepatnya di sepanjang saluran air yang mengalir hingga ke wilayah Patok Wesi, Desa Kelapa Sawit, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, di dalamnya terdapat lobster air tawar yang hidup secara liar.

Keberadaan lobster di saluran air tersebut menjadi berkah bagi warga sekitar sebagai tambahan penghasilan. Warga pun berharap ke depan bisa dikembangkan untuk budidaya lobster air tawar.

Seperti yang diungkapkan Teguh (25), warga Dusun Sindangmulya, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, yang merupakan nelayan penangkap lobster air tawar, kepada Koran HR, Senin (06/01/2020).

“Keberadan lobster ini belum banyak diketahui orang. Para nelayan yang menangkap pun belum banyak jumlahnya. Bahkan saya sendiri baru mulai fokus menangkap sejak dua bulan ke belakang,” tuturnya.

Teguh juga mengatakan, harga lobster air tawar di pengepul per-kilonya sekitar Rp 80.000. Namun, ketika sudah ada di pasaran harganya terkadang bisa mencapai Rp 120.000 per kilonya.

Menurutnya, dengan adanya lobster ini dapat menjadi alternatif mata pencaharian bagi masyarakat yang ada di wilayah perbatasan tersebut, baik warga Banjar dan juga warga Ciamis.

“Sampai saat ini ketersediaan lobster yang ada di aliran air tersebut bisa dikatakan 100 persen tergantung pada musim, karena belum ada upaya-upaya untuk membudidayakannya. Jadi ketersediaannya benar-benar bergantung pada musim,” tuturnya.

Jika musim kemarau tiba, maka hasil tangkapan pun bisa sangat menurun, bahkan ketika saluran air benar-benar kering, nelayan di sekitar lokasi bisa libur untuk sementara waktu, sampai musim hujan datang dan saluran terisi kembali oleh air.

Teguh sebagai salah satu nelayan lobster berharap ke depannya pemerintah mau memfasilitasi untuk pengembangan industri budidaya lobster air tawar, agar tidak sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan di alam. (Galuh/R3/HR-Online)