Saluran Tak Berfungsi, Puluhan Hektare Sawah di Blok Ranca Kota Banjar Terendam Banjir

Hektare Sawah
Puluhan hektare sawah di Lingkungan Bojongsari, RT. 03, RW. 04, Blok Logokbatok, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, terendam banjir. Foto: Rizki/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-Puluhan hektare sawah di Lingkungan Bojongsari, RT. 03, RW. 04, Blok Legokbatok, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, terendam banjir.

Pantauan Koran HR di lokasi, genangan air yang merendam sawah sedalam paha orang dewasa, atau sekitar 50-60 cm. Sejumlah warga pun memanfaatkan genangan air tersebut untuk mencari ikan.

Saat dijumpai Koran HR, Selasa (28/01/2020), Daturrahman (59), salah seorang pemilik sawah, mengatakan, blok pesawahan yang biasa disebut sawah ranca itu rutin tergenang air ketika musim penghujan.

Menurutnya, sekitar 20 hektare sawah yang sering terdampak banjir itu akibat tidak berfungsinya saluran air dengan baik, dan sekitar 50 petani mengalami kerugian setiap tahunnya.

Bahkan, kata Daturrahman, ketika hujan deras turun secara terus-menerus, genangan air di sawah miliknya bisa mencapai pinggul orang dewasa, sehingga tidak mungkin bisa ditanami padi.

Selain itu, Daturrahman juga mengeluhkan saluran air yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Menurutnya, saluran air yang ada terlalu dangkal, khususnya saluran pembuangan yang tidak cukup untuk menampung debit air.

“Penyebabnya banjir itu karena saluran airnya tidak berfungsi. Saluran yang di tengah sawah terlalu kecil, sementara yang di ujung untuk pembuangannya juga tidak berfungsi. Kalau hujan tidak muat airnya, pasti balik lagi ke sawah,” jelasnya.

Dirinya sudah sering mengajukan untuk perbaikan kepada pihak pemerintah, baik kelurahan maupun pemerintah kota. Namun, hingga saat ini belum juga ada realisasinya. Padahal kejadian puluhan hektare sawah terendam banjr terjadi setiap musim hujan.

“Sebenernya dari dulu sudah sering saya ajukan supaya diperbaiki, saya mah tidak minta ditembok, cukup di perdalam saja, tapi sampai sekarang belum juga ada tindak lanjut,” ungkap Daturrahman.

Hal senada dikatakan Dede (54), salah seorang petani di komplek pesawahan ranca. Dia mengeluhkan sawahnya yang hanya bisa panen di musim kemarau. “Punya saya ada sekitar 100 bata, dalam setahun paling 1 kali panen di musim kemarau, itu juga hanya dapat 7 kuintal kalau lagi bagus,” ungkapnya.

Dede juga mengaku dirinya ragu untuk menanam padi di musim hujan kali ini. Karena menurutnya, ketika memaksakan untuk ditanami saat musim penghujan, kemungkinan akan rugi.

“Sekarang sawah saya tidak ditandur, takut malah rugi. Kalau hujan terus sudah pasti terendam,” tuturnya.

Dede berharap, saluran air yang ada bisa segera diperbaiki, karena mayoritas masyarakat di lingkungannya merupakan petani, dan banyak yang memiliki sawah di komplek pesawahan ranca.

“Saya ngga ada kegiatan lain selain di sawah. Di sini juga kebanyakan petani, ya banyak yang sawahnya terendam. Harapan saya ya diperbaiki saluran airnya, karena kalau tidak, pasti banjir lagi tiap hujan. Hampir puluhan hektare sawah selalu terendam,” ungkap Dede. (Rizki/Koran-HR)

Loading...