Jumat, Mei 20, 2022
BerandaBerita CiamisDiduga Akibat Gagal Kontruksi, TPT di Kawasen Ciamis Ambruk

Diduga Akibat Gagal Kontruksi, TPT di Kawasen Ciamis Ambruk

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Diduga akibat gagal kontruksi, Tembok Penahan Tanah (TPT) jalan di Dusun Panamun, RT 25 RW 007, Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, ambruk, belum lama ini.

Dari pantauan Koran HR di lapangan, lebih dari 10 meter TPT yang dibangun pada akhir 2018 dari anggaran bantuan keuangan APBD Kabupaten Ciamis ini ambruk. Sebagian lagi mengalami keretakan serta miring dan nyaris ambruk.

Eni Hartini, warga sekitar, ketika ditemui Koran HR, Selasa (04/02/2020) lalu, mengatakan, ambruknya TPT tersebut diakibatkan tidak kuat menahan air hujan. Sehingga, temboknya ambruk dan menutup ke area pesawahan milik warga.

“Kejadiannya sekitar semingguan yang lalu. Hal itu karena di sepanjang TPT ini tidak terdapat saluran rembesan, sehingga tembok terdorong oleh air dan ambruk,” katanya.

Menurut Eni, sejak TPT tersebut dibangun, dirinya setiap hari memantau dan tahu bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.

“Kebetulan saya kan disini jualan kopi, jadi tahu dari awal pembangunan ini. Pembangunan TPT ini sepertinya bukan dikerjakan oleh pihak desa, karena semua pekerja itu orang luar Desa Kawasen. Seperti yang ambruk ini, ini pekerjanya katanya dari Pamarican. Dan yang sebelahnya lagi, itu pekerjanya dari Cigayam. Kalau pemborongnya jarang datang kesini,” terangnya.

Eni juga mengatakan, pembangunan TPT tersebut tidak dibuatkan pondasi, sehingga riskan terjadinya ambruk.

“Dari awal juga pembangunan ini tidak dipasang pondasi. Itu baru langsung dipasang di atas permukaan bibir sawah. Jadi wajarlah jika sekarang ambruk. Saya juga dulu pernah bertanya kepada para pekerja, namun saya malah dibentak,” ungkapnya.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Kawasen, Agus Sugara, saat dikonfirmasi olehKoran HR, membenarkan adanya bangunan TPT yang ambruk.

“Ya kemarin juga kami sudah melihat kondisi yang ambruk. Memang secara kasat mata, itu diakibatkan kurang kuatnya kontruksi bangunan,” katanya.

Saat dipertanyakan tentang dugaan gagal kontruksi proyek tersebut dikerjakan oleh pihak ketiga (pemborong), Agus Sugara membenarkan hal tersebut.

“Kebetulan program itu berlangsung pada tahun 2018. Dan saat itu, Kepala Desanya masih yang definitif. Kalau saya kan hanya PJs yang di beri SK pada tahun 2019 kemarin. Nah saya juga sempat menanyakan pekerjaan yang ambruk ini kepada para perangkat desa,” katanya.

Dari penjelasan perangkat desa, kata Agus, mereka membenarkan jika pekerjaan itu dikerjakannya bukan oleh pemerintah desa, melainkan oleh pihak ketiga.

“Mekanismnya, jelas tidak tahu, karena saat itu kewenangannya ada di kepala desa Zenal Arifin,” terangnya. (Suherman/Koran HR)

- Advertisment -