Kisah Pengrajin Wayang Golek Kota Banjar

Wayang Golek
Dian Herdiana saat membuat kerajinan wayang golek di sanggar Putra Budaya Sari miliknya di Lingkungan Desa Mulyasari, Kota Banjar. Foto: Muhlisin/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Wayang golek adalah budaya warisan leluhur yang diakui oleh dunia, bukan hanya Indonesia dan masyarakat Jawa Barat. Untuk itu perlu dilestarikan agar tidak punah diterpa zaman.

Setidaknya kalimat itu yang pertama terlontar dari Dian Herdiana (40), seorang pencinta seni dan pengrajin wayang golek dari Sanggar Putra Budaya Sari di Dusun Sukamaju, RT. 2, RW. 4, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, kepada Koran HR, saat ditemui di sanggarnya, Selasa (18/02/2020).

Dulu, kata Dian, Kota Banjar bisa dikatakan gudangnya pengrajin wayang golek. Ada sekitar 100 lebih teman-teman seprofesi yang bergelut sebagai pengrajin wayang golek. Namun, kini hanya beberapa saja yang tersisa dan mampu bertahan.

Bukan saja di Banjar, bahkan di daerah lain di Jawa Barat pun dikabarkan banyak teman-teman satu komunitas yang kini sudah beralih profesi.

“Dulu mah banyak di Banjar, sekarang sudah jarang, tinggal beberapa saja. Ini juga meneruskan bapak saya yang memulai di tahun 60-an,” tutur pria yang sudah menekuni dunia seni wayang golek sejak 23 tahun silam.

Pembuatan Wayang Upaya Melestarikan Budaya

Tak hanya menceritakan kisahnya, Dian pun menjelaskan proses membuat wayang golek hingga berbentuk unik, menarik, dan pantas dibawa ke panggung pentas serta bernilai jual ekonomis.

“Bahannya saya ambil dari kayu albasia. Setelah dibentuk pola tokoh wayang, kemudian dipahat hingga benar-benar menyerupai. Setelah itu, dipadukan dengan badan wayang, dicat dan diberi baju agar penampilannya terlihat cakep,” terangnya.

Untuk menyelesaikan satu buah wayang golek dibutuhkan waktu sekitar lima hari, bahkan bisa lebih cepat, tergantung tingkat kesukaran dan jenis wayang yang dibuat. Dian mencontohkan, seperti wayang dengan tokoh Semar, tidak bisa diselesaikan dalam waktu cepat, mengingat perut Semar berbentuk bulat dan besar, sehingga dibutuhkan keuletan dan kesabaran agar hasilnya maksimal.

“Paling cepat biasanya satu hari. Untuk pembuatan pakaian sama badan, saya dibantu oleh teman-teman yang lain,” katanya.

Selain kerajinan wayang golek, Dian pun membuat aksesoris lain, seperti iket dalang, blangkon, gantungan wayang, kaos, dan berbagai aksesoris lain yang menyangkut dunia seni wayang.

Harga satu buah wayang hasil karya yang ia tawarkan pun bervariasi, mulai dari harga Rp 150 ribu sampai Rp 1,5 juta, tergantung bentuk dan kualitas wayang yang dipesan.

“Kalau harga tentu menyesuaikan dengan kualitas dan nilai seni dari karya, soalnya bisa saja membuat satu wayang tapi kualitas hidup dari bentuk yang dihasilkan berbeda,” jelasnya.

Adapun untuk pangsa pasar kerajinan wayang golek, saat ini yang paling banyak pesanan diantaranya dari Yogyakarta, Bali, Magelang, Garut, Bekasi, dan beberapa daerah lainnya yang di Jawa Barat.

Dian menyebutkan, meski selama ini masih mendapat pesanan, namun beberapa tahun ini kerajinan wayang golek cenderung mengalami penurunan drastis. Tak hanya di Kota Banjar, tapi di daerah lain juga sama.

Bahkan, dulu karyawan yang membantunya membuat kerajinan wayang golek jumlahnya mencapai 56 orang, namun sekarang hanya menyisakan tiga orang saja.

“Mungkin sekarang zamannya sudah berbeda, banyak alat-alat kesenian modern yang lebih digandrungi. Jadi ada pergeseran atau degradasi budaya,” ujarnya.

Meski demikian, Dian berharap semua pihak, baik pemerintah maupun komunitas seni budaya, bersatu padu menyadarkan generasi muda agar tidak melupakan seni budaya bangsa. Terlebih anak-anak sekolah harus dikenalkan dan diberi wahana edukasi budaya, terutama kebudayaan lokal daerah.

“Harus kita jaga bersama jangan sampai punah, karena wayang sudah menjadi kebanggaan dunia, bukan hanya Indonesia saja, makanya harus dilestarikan,” harapnya.

Dian menambahkan, rencananya ia juga akan membuat seni onen-onen Gunung Sangkur yang isinya kisah Ki Tekel, yakni sosok ghoib pengasuh bagong.

“Tapi sebelum itu, akan kita perkenalkan dulu saat HUT Kota Banjar sembari melihat respon masyarakat,” pungkas pria yang juga pembuat wayang Kila Lakbok, dan wayang Kawung yang mengisahkan Ciung Wanara. (Muhlisin/Koran HR)

Loading...