Minggu, Januari 23, 2022
BerandaBerita CiamisMenelisik Kampung Dokdak di Ciamis, Sentra Perkakas yang Selalu Bising Pukulan Besi

Menelisik Kampung Dokdak di Ciamis, Sentra Perkakas yang Selalu Bising Pukulan Besi

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Namanya kampung Dokdak. Memang unik nama kampung ini. Kata Dokdak merupakan bahasa sunda yang artinya benturan benda keras yang menghasilkan bunyi nyaring yang tak beraturan.

Ya, memang kampung yang berada di Dusun Ciwahangan, Desa Baregbeg, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ini selalu bising suara pukulan besi. Kampung ini dikenal sebagai sentra perkakas. Karena mayoritas warganya memiliki keahlian pandai besi.

Warga di kampung ini setiap harinya memproduksi berbagai perkakas seperti pisau, parang, sabit, golok dan alat-alat pertanian. Aktivitas pembuatan perkakas ini ternyata sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan sudah turun temurun ke beberapa generasi.

Meski begitu, keberadaan kampung ini tidak begitu populer. Padahal banyak perkakas yang dihasilkan dari kampung ini dipasok ke berbagai daerah di Jawa Barat. Bahkan kualitas perkakasnya pun sudah teruji bagus dan tahan lama.

Terdapat 42 Pabrik UMKM di Kampung Dokdak

Saat HR Online berkunjung ke kampung Dokdak, Selasa (12/02/2020), memang benar di sepanjang jalan terdengar suara pukulan besi. Warga di kampung ini kebanyakan membangun pabrik perkakas di sekitar rumahnya. Dengan artian usaha mereka masih skala rumahan atau belum ada yang membangun pabrik besar.

Para pengrajin pandai besi di Kampung Dokdak ini juga masih menggunakan cara-cara tradisional saat membuat perkakas berbahan besi. Dari informasi yang dihimpun, terdapat 42 pabrik UMKM yang setiap hari memproduksi perkakas.

Setiap satu pabrik rata-rata dikelola oleh tiga orang. Mereka bekerjasama mulai dari membakar besi hingga kemudian dibentuk menjadi sebuah perkakas. Selain terdapat pabrik pengolahan besi, di kampung ini juga terdapat pabrik yang khusus membuat gagang perkakas yang terbuat dari kayu.

Produksi gagang perkakas kemudian dijual ke pabrik pengolahan perkakas besi. Mereka saling mengisi untuk sama-sama meraup keuntungan.

Keahlian Pandai Besi Diwariskan Secara Turun Temurun

Saat berkunjung ke Kampung Dokdak, HR Online mencoba menemui salah seorang pengrajin pandai besi bernama Uju (63). Uju merupakan pengrajin yang sudah malang melintang di usaha pembuatan perkakas.

“Saya menekuni usaha perkakas ini sudah puluhan tahun atau sejak saya masih muda. Saya menekuni ini karena orangtua saya dulu sebagai pengrajin pandai besi dan keahliannya diwariskan kepada saya,” ujar Uju.

Menurut Uju, hampir semua pengrajin pandai besi di kampung Dokdak merupakan warisan dari orangtuanya. Karena dari sejak dulu mata pencaharian warga di kampung tersebut mayoritas sebagai pengrajin pandai besi.

“Saya pun tidak tahu persis awal ceritanya kenapa di kampung ini banyak pengrajin pandai besi. Hanya kalau disebut kampung Dokdak memang benar karena di sini selalu bising oleh pukulan besi para pengrajin,” ujarnya sembari tertawa.

Uju menjelaskan, meski saat ini jaman sudah modern, namun para pengrajin di kampungnya masih mempertahankan cara-cara tradisional. Setiap kali produksi, lanjut dia, membutuhkan tenaga sampai 2 atau 3 orang.

Satu orang, lanjut Uju, bertugas melakukan pembakaran besi pada sebuah pipa. Orang ini melakukan pembakaran hingga besi benar-benar panas dan sudah bisa dibentuk. Kemudian ada orang yang bertugas memukul-mukul besi untuk dibentuk menjadi sebuah perkakas. Biasanya dalam proses pembentukan perkakas dilakukan oleh dua orang.

“Meski dikerjakan oleh 2 sampai 3 orang, namun dalam sehari bisa sampai memproduksi puluhan hingga ratusan perkakas. Perkakas yang dimaksud seperti parang, pisau, golok atau congkrang. Kalau orang awam melihat proses pengerjaannya pasti bakal menilainya sulit. Tapi kalau yang sudah biasa atau ahlinya, mungkin bisa dikatakan mudah,” ungkapnya.

Pengrajin di Kampung Dokdak Belum Pernah Tersentuh Bantuan

Uju mengatakan bahan besi yang digunakan tentu mengambil yang berkualitas. Bahan yang digunakan menggunakan besi per yang mengandung baja. Dengan begitu perkakas yang dihasilkan benar-benar tajam, kuat dan bisa digunakan dengan jangka waktu lama.

“Untuk bahan besi kami dipasok dari Bandung. Jadi sudah ada jaringan pemasok besi yang sudah biasa bekerjasama dengan kami,” ungkapnya.

Sementara mengenai pemasaran produk, Uju mengaku masih memasok untuk kebutuhan di wilayah Jawa Barat. “Pasokan barang masih dikirim ke Tasikmalaya, Bandung dan daerah di sekitar Jawa Barat saja,” ujarnya.

Besi yang dibakar dan dibentuk sudah menjadi sebuah perkakas. Foto: Fahmi/HR

Uju mengaku belum pernah mendapat suntikan dana dari pemerintah daerah. Meski tidak pernah mengajukan, namun dirinya tidak akan menolak apabila pemerintah daerah memberikan perhatian untuk kemajuan usahanya.

“Kalau pengrajin Kampung Dokdak ada yang membina serta memberikan suntikan bantuan modal usaha, mungkin bisa lebih berkembang. Karena persoalan kami sulit berkembang tak lain dari terbatasnya modal,” ujarnya.

Meski tanpa bantuan pemerintah, Uju pun yakin pengrajin pandai besi di kampungnya tidak akan pernah mati. Karena profesi pandai besi di kampungnya sudah menjadi pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun.

“Anak muda di sini sudah dilatih oleh orangtuanya agar bisa menjadi pengrajin pandai besi. Dan hal itu sudah membudaya sejak dulu. Jadi saya yakin pengrajin pandai besi di kampung ini tidak akan pernah habis,” ujarnya.

Rencana Menggelar Festival

Ditemui terpisah, Pjs Kepala Desa Baregbeg, Owoy, mengatakan, meski belum ditetapkan sebagai sentra perkakas, namun Kampung Dokdak sebenarnya sudah layak untuk ditetapkan. Karena untuk pembuatan perkakas di kampung ini sudah berlangsung lama dan diwariskan secara turun temurun.

“Kami dari pemerintah desa sebenarnya sudah memiliki rencana dalam mendorong para pengrajin pandai besi agar lebih maju, salah satunya dengan menggelar Festival Kampung Dokdak. Festival ini tentu untuk mengenalkan kampung tersebut agar lebih dikenal secara luas,” ujarnya.

Owoy mengatakan sentra perkakas di kampung tersebut sudah selayaknya segera ditetapkan. Selain itu harus dibuat merk agar mudah mengangkat nama perkakas yang diproduksi di Kampung Dokdak.

“Untuk menciptakan brand tentu harus ada merk. Nah hal ini sedang kita pikirkan. Produknya ini sudah ada. Tinggal bagaimana kita mengemasnya saja. Kami tentu berharap perkakas dari kampung ini bisa populer hingga mampu mengangkat nama Ciamis,” pungkasnya. (Fahmi2/R2/HR-Online)

- Advertisment -