Onen-onen Sangkur asal Mulyasari Kota Banjar Miliki Nilai Filosofis yang Harus Dijaga

Dian Herdiana, seniman Kota Banjar asal Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, saat menunjukkan Onen-onen Sangkur. Foto: Muhafid/HR.
Dian Herdiana, seniman Kota Banjar asal Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, saat menunjukkan Onen-onen Sangkur. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Helaran seni dalam rangka Hari Jadi ke-17 Kota Banjar, Jawa Barat, menjadi momen perdana Onen-onen Sangkur asal Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman tampil di hadapan publik.

Diketahui, Onen-onen Sangkur yang menyerupai babi hutan itu sengaja diangkat oleh Desa Mulyasari, sebagaimana cerita yang masih melekat di masyarakat, terutama yang berada di lereng Gunung Sangkur terkait keberadaan kerajaan bagong yang dikuasai Ki Tekel.

Seniman Banjar yang juga warga Mulyasari, Dian Herdiana (40), menjelaskan, Onen-onen Sangkur buatannya itu diambil dari cerita yang berkembang di masyarakat, dan memiliki nilai-nilai filosofis yang perlu dijaga serta pantangan yang harus dihindari.

Dari wujudnya, Dian menjelaskan, bahwa Onen-onen Sangkur menggambarkan bagong yang merupakan penghuni di Gunung Sangkur. Sedangkan, wajah bagong yang terbuat dari kayu itu melambangkan kehidupan dan kematian.

Sementara itu, daun hanjuang merah yang menjadi rambut onen-onen tersebut melambangkan perbatasan, sebagaimana Kota Banjar berada di perbatasan Jabar-Jateng. Biasanya, daun ini sering digunakan masyarakat untuk batas tanah.

“Ada juga kembang hoe atau palem, itu memiliki arti kelestarian hutan. Sebab, kembang tersebut adanya hanya di hutan, bukan di pemukiman warga. Maka dari itu, kami ingin menyampaikan bahwa hutan itu perlu dijaga dengan baik, toh manfaatnya juga ke kita,” terangnya.

Lebih lanjut Dian menjelaskan, adapun penggunaan Janur memiliki arti cahaya suci yang sangat berguna bagi masyarakat. Termasuk sebagaimana ketentuan dalam helaran seni ini untuk membuat kreasi dari Janur.

“Nah, semua yang sudah dirakit ini, kemudian cara penggunannya adalah dengan diangkat yang memiliki makna menjadi tanggungan semua pihak. Artinya, keberadaan cerita ini harus dilestarikan oleh semua pihak dari berbagai aspek, termasuk pesan-pesan yang ada di dalamnya,” ucap Dian, yang juga pembuat wayang golek.

Sosok Ki Tekel dalam cerita penguasa bagong Gunung Sangkur merupakan makhluk halus yang sampai saat ini dipercaya masih menjadi penguasa bagong. Pemburu bagong, kata Dian, banyak yang enggan berburu di wilayah Gunung Sangkur lantaran anjingnya kerap mati.

Bahkan, seorang pemburu dari Tasikmlaya dengan 15 anjingnya justru mati semua saat berburu bagong di Gunung Sangkur. Jadi banyak yang enggan ke sana untuk berburu. Jika pun ada yang menembak, bagongnya tidak ada yang mati.

Hal tersebut dipercaya karena keberadaan Ki Tekel di gunung tersebut. Pernah ada juga seseorang bertemu dengan Ki Tekel saat memakan singkong rebus di hutan. Ki Tekel meminta untuk mencicipi makanan tersebut. Setelah dirasa kenyang, Ki Tekel pun pamit.

“Mungkin sebagai rasa terima kasih karena dikasih makan, Ki Tekel bilang kalau mau satu kandang silakan ambil saja. Ini artinya kalau mau bagong sudah diperbolehkan. Nah, kesempatan ini dimanfaatkan pemburu bagong agar ia dapat buruannya. Jadi istilahnya sudah ada izin dulu. Kalau belum ada, ya jelas tidak akan berhasil,” terangnya.

Sementara, ketika ada bagong yang masuk ke rumah warga, Dian menyebut bahwa bagong tersebut diketahui salah satu yang diusir oleh kawannya, sehingga pergi dari hutan dan ditangkap warga.

Selain Ki Tekel, keberadaan Batu Begu yang bisa bergerak sendiri juga menambah keyakinan warga akan keberadaan kerajaan bagong di Gunung Sangkur. Batu tersebut bergerak menunjukkan di mana bagong itu berada.

Dian mencontohkan, ketika batu mengarah ke Utara, itu berarti kawanan bagong sedang memakan di tanaman di lahan milik warga yang ada di wilayah Utara kawasan Gunung Sangkur. Sedangkan, di daerah lainnya tidak kena.

“Batu itu bergerak sesuai dengan keberadaan bagong. Intinya, ini menunjukkan semua warga yang ada di wilayah Gunung Sangkur pasti kebagian jatah untuk memberi makan bagong. Dengan kata lain, ada masanya masing-masing kapan mendapatkan giliran diserang hama bagong,” tuturnya.

Dari cerita ini yang diwujudkan dalam Onen-onen Sangkur atau bebegig, Dian berharap dapat dilestarikan, agar di kemudian hari generasi penerus tetap melestarikan kebudayaan warisan para leluhur yang penuh dengan nilai filosofis ini.

Cerita Tentang Ki Tekel

Sementara itu, Kasi. Pemerintah Desa Mulyasari, Kandar, mengatakan, cerita Ki Tekel di wilayahnya memang sudah bertahan sejak puluhan tahun silam. Bahkan, semenjak dirinya masih kecil sudah mendengarnya.

Kandar menjelaskan, Ki Tekel merupakan manusia biasa yang kemudian dibawa makhluk halus hingga keberadaan tidak diketahui. Namun seiring dengan waktu, ada warga yang kerap berjumpa Ki Tekel saat berada di dalam hutan Gunung Sungkur.

“Memang banyak kejadian yang dihubungkan dengan Ki Tekel, apalagi seperti ada kesurupan, biasanya dikaitkan dengan itu,” katanya.

Dengan adanya Onen-onen Sangkur yang ditampilkan perdana dalam HUT ke-17 Kota Banjar ini, pihaknya berharap menjadi salah satu ikon Mulyasari dan bisa terus dilestarikan.

“Nanti kalau ada hajatan kan bisa dipentaskan, berkeliling dulu dan sebagainya. Pada prinsipnya ini adalah kebudayaan kita, ciri khas daerah kita yang harus dijaga dengan baik,” pungkas Kandar. (Muhafid/Koran-HR)

Loading...