Rabu, Mei 18, 2022
BerandaBerita BanjarPeluang Besar Pengembangan Tanaman Porang di Kota Banjar

Peluang Besar Pengembangan Tanaman Porang di Kota Banjar

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Tanaman Porang atau Iles-iles menjadi daya tarik untuk dikembangkan. Apalagi beberapa waktu lalu telah ramai seorang mantan pemulung menjadi sukses berkat tanaman porang yang diekspor ke luar negeri.

Di Kota Banjar, tanaman ini biasa ditemukan di pekarangan rumah atau di areal pegunungan. Tapi kini sudah mulai dikembangkan, bahkan kabarnya sudah berlangsung sekitar 4 tahun lalu.

Menurut Kasi. Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Banjar, Tatang Makhtum, tanaman porang yang merupakan jenis umbi-umbian ini sudah dikembangkan oleh salah seorang warga Banjar yang bernama Ujang Jalal, sekitar 4 tahun.

Dari pengembangan yang sudah berjalan saat ini, kabarnya kontrak di tahun 2020 ini dengan perusahaan yang ada di Jawa Timur sudah mencapai 500 ton.

“Semua bibitnya dari dia. Di beberapa titik sudah ada plasma-plasmanya, sehingga petani yang mengembangkan ini bisa lebih mudah terjangkau dan terkontrol,” kata Tatang, kepada Koran HR, Selasa (04/02/2020).

Tak hanya dikembangkan dan tersebar di wilayah Kota Banjar, bahkan sejumlah wilayah di Kabupaten Ciamis juga sudah mengembangkan tanaman porang yang bibitnya berasal dari Kota Banjar.

Hanya bermodalkan lahan yang tidak dimanfaatkan, petani porang sudah bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Apalagi jenis tanaman ini terbilang cukup mudah ditanam.

Tatang mengaku sempat tidak percaya, saat pertama kali mengetahui porang yang kembangkan oleh warga tersebut jumlah yang dihasilkannya bisa mencapai ton-tonan dengan lahan yang tidak terlalu besar. Bahkan, di lahan 30 bata saja bisa menghasilkan sekitar 50 ton dalam sekali panen.

“Awalnya sempat tak percaya, tapi setelah melihat langsung saya percaya, karena bentuknya yang besar dan beratnya bisa mencapai 5 hingga 10 kilogram per satu porangnya,” imbuhnya.

Soal harga, Tatang menyebut, untuk porang basah bisa mencapai Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogramnya. Yang lebih mahal lagi adalah katak-nya, yakni sebutan bagian bintil pada tanaman yang tumbuh di antara batang, harganya bisa mencapai sekitar Rp 110 ribu per kilogram.

“Kelihatannya memang sepele dan sering kita abaikan. Padahal ini sangat berpotensi sekali untuk dikembangkan. Nanti kita ke sana bareng-bareng ya,” kata Tatang, kepada Koran HR.

Di tempat yang sama, Kabid. Ketahanan Pangan DKPPP Kota Banjar, Nanan Rohanan, mengatakan, keberadaan porang sebenarnya bukan hal yang aneh lagi, terutama bagi orang tua zaman dulu. Sebab, porang bisa dimanfaatkan sebagai sumber pangan lokal pengganti beras.

“Kalau orang zaman dulu saat kesulitan beras, ya mengkonsumsi porang. Sekarang malah ramai lagi, bahkan bisa diekspor ke luar negeri. Ini peluang besar untuk warga Kota Banjar,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan porang asal Banjar kabarnya secara kualitas lebih baik dari daerah yang lebih dulu mengembangkan, yakni di Jawa Timur. Maka dari itu, ini menjadi peluang besar untuk memanfaatkan lahan-lahan yang tidak digunakan.

“Pada intinya ini menjadi peluang besar bagi warga untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur menjadi lebih produktif. Sehingga manfaatnya lebih banyak daripada tidak digunakan,” kata Nanan. (Muhafid/Koran HR)

- Advertisment -