Pemdes di Ciamis Ini Kecewa Warga Tanam Pohon Pisang di Jalan, Kades: Mengganggu

Desa Ciherang
Dedi Sugiarto, Kepala Desa Ciherang, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Pemerintah Desa Ciherang, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menanggapi aksi warga Dusun Kubangpari yang menanami jalan penghubung antar desa dengan pohon pisang.

Kepala Desa Ciherang, Dedi Sugiarto, mengaku kecewa dengan aksi warga tersebut, lantaran tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu. Selain itu, aksi warga disebut Dedi, telah mengganggu akses jalan warga yang lain.

“Terus terang saja kami merasa sedikit kecewa atas adanya aksi tersebut. Hal ini bukan berarti kami tidak mau untuk dikritik, namun meskinya warga mempertanyakan dulu terkait persoalan yang mereka keluhkan,” terang Dedi saat dikonfirmasi HR Online, Senin (10/02/2020).

Berita Terkait: Protes Jalan Rusak, Puluhan Warga di Banjarsari Ciamis Tanam Pohon Pisang

Menurut Dedi, jalan Dusun Kubangpari itu sebenarnya sudah masuk di dalam  Daftar Usulan Rencana Kegiatan Pekerjaan (DURKP) tahun 2020. Bahkan kegiatan pembangunannya pun sudah dipastikan akan dilaksanakan pada tahun 2020.

“Jalan ini memang dulunya pernah dibangun oleh Pemkab Ciamis, bahkan sudah masuk dalam daftar usulan perpindahan status, namun begitu, pihak kami tetap memasukan jalan ini ke dalam DURKP,” ungkapnya.

Kondisi jalan Dusun Kubangpari, diakui Dedi sudah butuh perbaikan, karena itu pihaknya memasukkannya ke dalam DURKP.

“Bahkan pada bulan Januari 2020 kemarin, pihak kami sebenarnya sudah melakukan pengukuran jalan ini bersama sama dengan lembaga yang ada, seperti RT dan juga yang lainnya. Jadi Insyaallah, jalan ini akan digarap pada tahun ini,” katanya.

Rencana pembangunan jalan tersebut, kata Dedi, bukan lantaran adanya aksi warga. Namun pembangunan jalan Dusun Kubangpari memang sudah jadi prioritas pada tahun 2020.

“Pembangunannya akan kita laksanakan di tahun ini, tapi ini bukan karena ada aksi ya. Dari awal sebelum adanya aksi juga, jalan ini sudah menjadi prioritas di tahun 2020,” kata Dedi.

Dedi meminta masyarakat lebih mengerti, karena pembangunan jalan memerlukan berbagai tahapan.

“Masyarakat juga harus lebih mengerti lagi, karena pembangunan itu di perlukan tahapan, nggak mungkin kan dalam satu tahun akan bisa mengcover seluruh wilayah,” terangnya.

Kepala Desa Ciherang ini juga membantah jika warga mengatakan, jalan tersebut sudah puluhan tahun tidak dibangun.

“Sejak saya menjabat sebagai kepala Desa Ciherang selama enam tahun. Jalan ini sudah pernah ada perbaikan yang dilakukan oleh Pemkab Ciamis,” paparnya.

Dedi menganggap persoalan jalan rusak tersebut adalah usaha untuk menggoreng isu.

“Jadi terlalu sangat digoreng, jika kerusakan jalan ini sudah lebih dari sepuluh tahun. Bahkan panjangnya juga itu hanya sekitar 300 meter, itu sudah mencakup dari ujung tower hingga perbatasan dengan Desa Cibadak,” katanya.

Aksi Warga Tanam Pisang di Jalan Ganggu Jalur Transportasi

Sementara itu, sejak ada aksi warga yang memblokir jalan dengan menanam pohon pisang, jalur transportasi warga terganggu. Terutama bagi pengendara roda empat yang tidak bisa lewat jalan tersebut. Pro dan kontra pun muncul di tengah masyarakat.

“Jelas dengan adanya pemblokiran jalan ini banyak juga warga yang mengeluh kepada kami. Baik melalui WhatsApp, Mesenger dan ada juga yang langsung datang ke desa untuk memohon agar kami bisa melakukan tindakan,” ungkap Dedi.

Menanggapi permintaan warga yang ingin agar jalan yang diblokir warga dibuka, Pemdes Ciherang kemudian mengumpulkan sejumlah tokoh masyarakat pada Minggu (9/2/2020) malam.

“Semalam setelah aksi juga kami telah mengumpulkan sejumlah tokoho masyarakat untuk memberikan pengetahuan serta pengertian terkait persoalan pembangunan jalan,” katanya.

Dedi mengungkapkan, pihaknya sudah berusaha memberi pengertian, namun jalan yang diblokir dengan pohon pisang belum juga dibuka.

“Entah ada apa dibalik ini semua, kita berfikir positif saja. Tadi pagi juga kami sudah melakukan koordinasi dengan Muspika, seperti Babinkamtibmas dan Babinsa,” terangnya.

Koordinasi itu dilakukan, lantaran pihak Pemdes khawatir akan terjadi hal yang tidak diharapkan lantaran muncul pro dan kontra.

“Makanya polisi kan mempunyai keweanangan untuk nanti melakukan tindakan jika emang kegiatan tersebut telah melanggar aturan, minimal masyarakat juga akan bisa lebih bijak lagi. Protes boleh boleh saja, namun tetap harus elegan dan tetap lakukan koordinasi dengan semua pihak,” ungkapnya.

Informasi HR Online di lapangan, aksi yang dilakukan warga juga sempat diduga dikaitkan dengan akan dilaksanakannya pemilihan kepala desa serempak.

Desa Ciherang sendiri merupakan salah satu desa yang akan mengikuti pemilihan kepala desa pada April mendatang. (Suherman/R7/HR-Online)

Loading...