Spesies Kumbang Baru Berhasil Diidentifikasi, Ini Metode yang Digunakan

Spesies Kumbang Baru
Spesies Kumbang Baru yang ditemukan. Foto: Ist/Net

Spesies kumbang baru belum lama ini ditemukan oleh tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam penemuan tersebut, para peneliti mengungkap ada 4 spesies baru sekaligus.

Untuk mengenal lebih dekat keempat spesies baru tersebut, tim lantas melakukan penelitian lebih mendalam. Dalam penelitian yang dilakukan, terungkap sejumlah info menarik yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

Penelitian tersebut memungkinkan tim untuk mempelajari sekaligus mengetahui karakteristik hingga makanannya. Mengenai info lengkapnya, anda simak saja ulasan berikut.

Penemuan Spesies Kumbang Baru

Jenis kumbang baru ditemukan peneliti LIPI di Maluku Utara, tepatnya di wilayah Kepulauan Ternate, Halmahera, dan Obi.

Dalam penemuan tersebut, diketahui bahwa keempat spesies kumbang ini berasal dari genus Epholcis. Hal ini tentu saja sangat mengejutkan banyak pihak.

Bagaimana tidak? Selama ini kita tahu bahwa kumbang Chafer genus Epholcis hanya ada 6 spesies saja. Hal ini sudah ditemukan sekaligus diidentifikasi pada tahun 1957.

Penemuan dan pengidentifikasian tersebut dilakukan oleh Britton di Australia, tepatnya di New South Wales dan New Queensland.

Adanya penemuan spesies kumbang baru pun mampu menambah deretan spesies di alam yang berhasil diungkap melalui penelitian.

Terkait penemuan 4 jenis kumbang tersebut, tim peneliti menamainya dengan Epholcis obiensis, Epholcis arcuatus, Epholcis acutus, dan Epholcis cakalele.

Penamaan tersebut bukan tanpa alasan. Nama yang diberikan didasarkan pada tarian adat khas Maluku, pulau penemuan, hingga ciri fisik yang dimilikinya.

Untuk penamaan Epholcis obiensis sendiri dipengaruhi oleh Pulau Obi yang memang menjadi lokasi temuannya. Dengan demikian, nama tersebut akan selalu mengingatkan kita dengan tempat penemuannya.

Kemudian untuk spesies kumbang baru Epholcis arcuatus, nama tersebut diberikan karena melihat bentuk kaki belakangnya yang melengkung. Dimana arcuatus sendiri berarti berbentuk busur.

Selanjutnya Epholcis acutus. Sama halnya dengan Epholcis arcuatus, nama Epholcis acutus juga didasarkan pada bentuk fisik. Kumbang ini diberi nama acutus yang berarti berujung tajam. Hal ini diketahui dari sudut pronotum.

Beralih ke Epholcis cakalele. Jenis kumbang baru ini mengusung nama yang diambil dari suatu tarian tradisional di Maluku.

Dibalik namanya yang unik, spesies kumbang ini ternyata sangat suka makan daun pohon Eucalyptus. Tak hanya itu, kumbang baru ini juga termasuk pemakan bunga cengkeh maupun tumbuhan dari famili Myrtaceae lainnya.

Metode Penelitian Spesies Kumbang Baru

Dalam penemuan jenis kumbang baru, Raden Pramesa Narakusumo dari Pusat Penelitian Biologi LIPI mulanya tengah melakukan riset bersama peneliti asal Jerman yang bernama Michael Balke.

Awalnya, keempat kumbang yang ditemukan ini hanya dianggap sebagai spesies kumbang yang biasa ditemukan di Papua dan Australia. Namun ternyata dugaan tersebut salah.

Dugaan tersebut ditepis dengan memanfaatkan metode penelitian yang canggih dan mumpuni. Dimana metode tersebut mampu mengidentifikasi jenis kumbang baru ini dengan baik.

Terkait metode apa yang digunakan dalam mempelajari spesies kumbang baru tersebut, peneliti diketahui telah memanfaatkan metode taksonomi klasik, teknik makro fotografi, dan teknik diseksi genitalia.

Baca Juga: Temuan Fosil Stupendemys Geographicus, Kura-kura Raksasa Bertanduk

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Pramesa, metode tersebut mengandalkan penelusuran lewat publikasi lawas, penelitian morfologi, hingga studi banding. Studi banding ini dilakukan dari satu museum ke museum yang lainnya.

Berbicara mengenai metode yang dimanfaatkan ini, peneliti menjelaskan bahwa teknik tersebut beda dengan metode yang diterapkan ketika menemukan 110 spesies kumbang moncong Trigonopterus.

Dimana kala itu, metode yang digunakan ialah Turbo Taxonomy atau Integrative Taxonomy. Metode ini mengintegrasikan teknik taksonomi klasik dan genetika molekuler.

Sebelum metode diterapkan, kesulitan dalam mengidentifikasi spesies kumbang baru tentu saja dirasakan. Hal ini dikarenakan kumbang baru ini sekilas mirip dengan Maechidius sehingga kurang mendapat perhatian.

Bukan hanya itu saja, kurangnya kesadaran akan keberadaan spesies Epholcis baru ini juga karena minimnya pengumpulan spesimen.

Terlepas dari itu semua, penelitian mengenai identifikasi fisik tunggal kumbang sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2015 lalu.

Dibalik temuan jenis kumbang baru ini, peneliti menyebut kemungkinan masih ada banyak kumbang lainnya yang belum teridentifikasi. Tak mengherankan karena kawasan Indonesia memang begitu luas.

Mengenai penemuan spesies kumbang baru dari genus Epholcis sendiri diketahui telah dirilis pada awal bulan Februari 2020 ini. (R10/HR-Online)

Loading...