Asal Usul Wisata Alam Cisangkal, Kampung Durian di Pangandaran

Asal Usul Wisata Alam Cisangkal, Kampung Durian di Pangandaran
Kampung Wisata Cisangkal. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran (harapanrakyat.com).- Kampung wisata Cisangkal yang dikenal karena buah duriannya ternyata sudah berlangsung sejak puluhan hingga ratusan tahun silam. Bahkan, dari hasil alam ini menjadi sumber ekonomi masyarakat sekitar.

Diketahui, kampung wisata Cisangkal ini berada di Dusun Mekarmulya, Desa Bangunkarya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Dulunya, kampung ini dikenal sebagai Kampung Kalimanggis yang berarti Kali adalah air dan manggis adalah buah.

“Dulu di sini ada pohon manggis besar yang menjadi induk dari pohon manggis yang ada di sini. Namun setelah berubah, kampung ini berubah menjadi Dusun Karangbungur dan Dusun Mekarmulya. Dusun Mekarmulya ini sejak tahun 2013 merancang sektor wisata alam Cisangkal,” jelas Sukaedin, Kadus Mekarmula, Selasa (3/3/2020).

Cisangkal, kata Sukaedin, merupakan nama mata air yang terdapat di hutan lindung yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber atau penampung cadangan air. Luas lahan penampung cadangan air itu oleh warga diberi nama “sirah warang” itu ada sekitar 20 hektar.

“Nama Cisangkal sudah ada sejak orang tua atau nenek moyang zaman dahulu. Cisangkal sendiri berasal dari kata “Ci” yang berarti air dan “sangkal” adalah pencegah atau penangkal,” ungkap Sukaedin

Masih dikatakan Sukaedin, mata air ini digunakan masyarakat sebagai penangkal kekeringan panjang yang menyebabkan kelaparan dan dahaga pada masa itu. Konon menurut orang tua zaman dahulu ketika mandi di mata air Cisangkal dapat memberikan efek kepada seseorang menjadi lebih bercahaya, segar dan berkharisma.

“Sejak 2 abad lebih yang lalu, hutan cisangkal sudah dilindungi dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Sehingga hutan ini sama sekali tidak tersentuh oleh proses pembukaan lahan untuk pertanian dan tetap menjadi hutan alami sebagai sumber mata air yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sampai saat ini,” papar Sukaedin lagi.

Masih menurut Sukaedin, karena dilestarikan dan dijaga sejak turun temurun potensi hutan Cisangkal bisa dimanfaatkan sampai saat ini.

Sebagai contohnya, di lokasi tersebut terdapat banyak pohon durian. Bahkan, ada 5 pohon durian unik hasil dari warisan nenek moyang dahulu yang bentuk pohonya sangat besar dan rindang.

Warga sekitar memberikan nama lokal pada pohon ini dengan sebutan Si Kantong, Si Piit, Si Tenggok, Si Kunir dan Si Kerah.

Sikantong berbentuk panjang seperti kantong. Dari rasa sangat memuaskan seperti montong dan warnanya putih.

Si tenggok, lanjut Sukaedin, dahulu dikisahkan pohon si tenggok ada yang mau menebang untuk dijadikan kayu kebutuhan masyarakat umumnya. Namun kepergok warga sehingga si penebang pergi dan meninggalkan bekas ke pohon durian tersebut sehingga sampai saat ini masih berbekas.

Sedangkan dengan pohon yang disebu si kerah yang berdiameter besar, pada waktu musim berbuah banyak orang yang berburu durian dengan cara memungut sampai terjadi insiden keributan yang akhirnya dinamai si kerah.

“Si kunir dikarenakan warna durian berwana kuning seperti warna kunir, dan untuk  durian Si piit termasuk durian yang berbentuk kecil di antara yang lainnya. Bentuknya sangat kecil dan unik disamakan dengan bentuk postur burung piit, tapi buahnya manis bijinya kecil dan dagingnya tebal,” pungkasnya. (Madlani/Koran HR)

Loading...