Banyak Pemudik, Penyebab ODP di Ciamis Melonjak Hingga 76 Orang

penyebab ODP di Ciamis
Juru Bicara Covid-19 Center Ciamis, dr Bayu Yudiawan. Foto: Dok Humas.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Banyaknya warga Ciamis yang pulang kampung dari berbagai daerah zona merah menjadi salah satu penyebab ODP di Ciamis meningkat tajam. Umumnya warga datang dari Jakarta, Bandung, dan Bekasi.

Juru bicara Covid-19 Center Ciamis, dr Bayu Yudiawan, mengatakan,  jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP)  di Ciamis mencapai 132 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 56 orang dinyatakan selesai masa pemantauan, sehingga jumlah ODP saat ini sebanyak 76 orang.

Sementara jumlah Pasien Dalam Pengawasan atau PDP di Ciamis ada 5 orang yang tersebar di berbagai wilayah di Ciamis. Satu orang diantaranya sudah dinyatakan sembuh dan hasil tes Corona-nya pun negatif. Pasien tersebut sudah dipulangkan, namun statusnya menjadi ODP (Orang Dalam Pemantauan).

Baca Juga: Update Kasus Corona di Ciamis 26 Maret: ODP 76, PDP 5, Positif 0

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak memberi stigma yang berlebihan pada orang-orang yang baru datang dari luar kota, yang penting bagi orang yang baru datang dari daerah zona merah, agar isolasi diri di rumah selama 14 hari. Jangan interaksi dengan lingkungannya dan lakukan physical distancing atau jaga jarak minimal 2 meter,” kata dr Bayu.

Saat ini, lanjut dr Bayu, orang yang baru datang dari luar negeri banyak ditolak, padahal dari segi resiko sama saja antara orang yang baru datang dari luar negeri maupun orang yang baru datang dari daerah zona merah seperti Jakarta.

Selain ODP dan PDP, Ada Istilah OTG

“Ada istilah baru yakni OTG atau Orang Tanpa Gejala, yakni orang-orang yang baru datang dari zona merah tapi tidak menunjukkan gejala sakit. Data OTG sudah kami sebarkan ke RT, RW dan Kepala Desa, ini bisa jadi acuan untuk mengamankan lingkungan dengan cara membantu isolasi bagi para OTG, juga agar tidak ada stigma negatif dan menimbulkan ketakutan berlebihan pada warga yang datang dari zona merah,” terang dr Bayu.

Menurutnya, dalam mencegah penyebaran Covid-19 bukan hanya menjadi tugas para petugas medis, namun diperlukan partisipasi dari masyarakat, mulai dari RT, RW, Kepala Desa, dan masyarakat lainnya.

“Memerangi Covid-19 bukan hanya tugas kesehatan, namun diperlukan partisipasi dari seluruh elemen masyarakat seperti RT, RW, Kades dan masyarakat lainnya,” katanya. (Ndu/R7/HR-Online)

Loading...