Rabu, Mei 25, 2022
BerandaBerita BanjarDampak Social Distancing, Omset Pemilik Usaha Kuliner di Kota Banjar Anjlok

Dampak Social Distancing, Omset Pemilik Usaha Kuliner di Kota Banjar Anjlok

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Dampak pemberlakukan social distancing atau upaya mencegah penularan penyakit dengan mengurangi kontak langsung dengan orang, ternyata berdampak besar pada pengusaha kuliner di Kota Banjar. Otomatis pendapatan mereka pun anjlok.

Seperti yang diungkapkan pemilik Rumah Makan Cobek Beti Tanjungsukur, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Wulan Beti (38), bahwa sejak pengumuman dari Pemerintah Pusat dan disusul Pemprov Jabar, terkait upaya memperlambat virus corona (Covid-19) ini menyebar ke masyarakat, usaha kulinernya mengalami penurunan pendapatan.

Bahkan, dia mengaku omset harian yang biasanya lebih dari Rp 20 juta, kini anjlok sampai 70 persen. Sehingga, kondisi tersebut membuat dirinya kebingungan.

“Tidak tahu harus bagaimana lagi kalau seperti ini terus. Ini pengaruhnya sangat signifikan bagi kami,” kata Wulan, kepada Koran HR, Selasa (17/03/2020).

Dia pun mengungkapkan, menurunnya omset usahanya ini merupakan yang pertama kali selama dirinya bergelut di bidang kuliner, meski sebelumnya dia juga merasakan dampak adanya isu tsunami yang membuat kunjung wisata ke Pangandaran turun drastis.

Wulan meminta agar pemerintah juga menyikapi persoalan ini, selain melakukan upaya agar penularan virus asal China itu menyebar di Indonesia.

“Rumah makan Cobek Beti kan salah satu yang menjadi buruan wisatawan yang hendak ke Pangandaran. Ketika yang ke sana dibatasi karena virus ini, maka wisatawan pun berkurang. Jadi ini harus dicarikan solusi yang baik agar kita juga tidak anjlok sekali,” ungkapnya.

Menurut Wulan, kerugian itu salah satunya beberapa konsumen yang sudah melakukan booking tempat untuk acara di rumah makannya dibatalkan. Termasuk acara Harley Davidson di Pangandaran, dan Cobek Beti menjadi tempat singgahnya pun turut dibatalkan.

Tak hanya rumah makannya saja, rumah makan lainnya yang ada di Banjar, menurut Wulan, juga sama merasakan dampak dari virus corona.

Sebagai antisipasi penyebaran virus, lanjut Wulan, tentunya sebagai pengusaha menerapkan SOP general cleaning, yakni semua yang ada di tempatnya itu benar-benar dijaga kebersihannya, termasuk alat makan, tempat makan maupun lainnya.

“Soal makanan tentu saja nomor satu kebersihannya, termasuk karyawan kami harus pakai masker dan sarung tangan. Jadi, kalau mau ke sini jangan sungkan, Insya Alloh aman. Mudah-mudahan ke depan tidak seperti ini lagi,” harap Wulan.

Hal senada juga dirasakan Romli, salah satu pedagang mie ayam yang kerap mangkat di sekitar Kantor Kelurahan Mekarsari, Kota Banjar. Ia mengaku kaget tiba-tiba konsumennya menurun drastis setelah adanya pengumuman dari pemerintah soal social distancing.

Di hari pertama pemberlakukan aturan itu, kata Romli, dagangannya hanya laku sekitar 50 persen dari biasanya. Sementara, di hari keduanya malah semakin sepi.

“Lah ini lihat saja tempat cucian mangkoknya, airnya masih bersih. Jadi memang yang beli sangat berkurang. Bingung harus bagaimana kalau begini terus,” ucapnya.

Romli juga berharap agar pemerintah melakukan upaya terbaik dalam menghentikan penyebaran virus corona, tanpa merugikan para pelaku usaha, terutama makanan.

“Semoga cepat ada pencerahan atau apa lah. Paling penting adalah bagaimana masyarakat supaya seperti biasanya lagi,” pungkas pria yang akrab dipanggil Pak Unyil ini. (Muhafid/Koran-HR)

- Advertisment -