Imbas di Rumah Aja dan Takut Lockdown, Omzet Pedagang Pasar Banjar Menurun

omzet pedagang pasar banjar
Aktivitas ekonomi di pasar Kota Banjar mulai sepi sejak adanya wabah virus Corona. Foto: Muhlisin/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Dampak kebijakan pemerintah tentang pengurangan aktivitas kerumunan di ruang publik dan imbauan stay at home atau di rumah aja berimbas pada omzet pedagang Pasar Banjar. Terutama dirasakan oleh penjual berbagai komoditas kebutuhan pokok di pasar Kota Banjar, Jawa Barat.

Seperti yang dialami oleh Dede (55) penjual sayur, cabai dan bumbu dapur di pasar Kota Banjar. Dede mengatakan, semenjak merebaknya wabah virus corona kondisi pasar belum stabil dan konsumen yang pergi ke pasar terus menurun.

“Biasanya mau puasa mah sudah rame tapi ini masih sepi. Kemarin saja yang lewat nggak banyak. Mungkin entar kalau udah reda kayaknya ramai lagi,” kata Dede kepada HR Online, Senin (30/3/2020)

Biasanya, kata Dede, dalam keadaan stabil dan ramai, dirinya bisa menjual komoditas cabai sampai 50 kilo gram per hari, namun sekarang hanya bisa menghabiskan sekitar 10-15 kilo gram per hari.

Untuk meminimalisir kerugian, ia pun mulai mengurangi pasokan stok beberapa komoditas sayur mayur dan jenis cabai-cabaian.

“Sayuran nggak stok banyak sekarang mah, takut buat jaga-jaga kalau ada lockdown kayak di Tasik,” katanya.

Meski demikian, untuk perlindungan dari wabah virus Corona, ia mengaku selalu menggunakan alat pelindung diri berupa masker sebagai pencegahan.

“Kalau masker pakai biar aman, katanya biar yang sakit nggak nambah dan meringankan beban pemerintah,” kata Dede.

Hal senada juga dikatakan Erik Gunawan, penjual komoditas daging ayam. Dia menambahkan, sejak adanya wabah virus Corona, omzet pedagang Pasar Banjar ini juga mengalami penurunan. Kata Erik, penjualan dagingnya berkurang drastis dan harga jualnya menurun.

Pada saat ramai biasanya Eka bisa menghabiskan sekitar 1 kuintal daging ayam per hari, namun sekarang hanya bisa menjual 40-50 kilo gram.

“Semoga coronanya cepat hilang aja biar jualannya bisa ramai, apalagi ini udah mau bulan puasa,” imbuhnya.

Ketika ditanya kenapa dirinya tak memakai masker untuk pelindung, Erik mengatakan, bukannya tidak menyayangi kesehatan, tapi dirinya mengaku sudah biasa selain itu juga maskernya sedang langka dan mahal.

“Kalau fasilitas kesehatan yang lain kemarin sudah ada cuman kalau masker banyak juga yang nggak pakai. Kalau dikasih sama pemerintah mungkin ya pada mau pakai,” tandasnya. (Muhlisin/R7/HR-Online)  

Loading...