Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaArtikelKeadaan Bumi Zaman Dulu, Disebut Dunia Air dan Hanya 23,5 Jam Sehari

Keadaan Bumi Zaman Dulu, Disebut Dunia Air dan Hanya 23,5 Jam Sehari

Keadaan Bumi zaman dulu sangat berbeda dengan kondisinya saat ini. Laporan seputar perbedaan ini diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience.

Dari jurnal tersebut, diketahui bahwa peneliti University of Colorado mengungkap info mengejutkan yang mampu menyita perhatian publik.

Baca Juga: Asteroid Raksasa Hampiri Bumi Akhir April 2020, Akankah Bertabrakan?

Info apa itu? Hal inilah yang akan kita kupas tuntas pada pembahasan kali ini. Pastikan anda simak ulasan yang kami bagikan ini.

Keadaan Bumi Zaman Dulu

Sebagaimana yang kita tahu, 3/4 Bumi diselimuti oleh air. Dimana air ini berperan penting dalam menunjang kehidupan di dalamnya.

Namun dalam studi terbaru menyebut bahwa Bumi dulu sepenuhnya berupa air alias tidak ada daratan sama sekali. Hal ini sesuai dengan apa yang dikutip dari Astronomy, Rabu 11 Maret 2020.

Dalam titik ini, pulau-pulau diperkirakan menyebar secara global di seluruh permukaan lautan. Kabar ini tentu saja tak tercetus begitu saja.

Sudah ada penelitian yang dilakukan kalangan ilmuwan dalam memastikannya. Dalam melakukan penelitian keadaan Bumi zaman dulu, Benjamin Johnson selaku pemimpin telah mengumpulkan data penting.

Data tersebut berupa hasil analisis terhadap 100 sampel batuan yang didapat dari daerah kering di Panorama. Dimana Panorama sendiri adalah wilayah di pedalaman barat laut Australia.

Lalu mengapa batuan menjadi elemen yang diteliti? Perlu untuk anda ketahui, batuan ternyata membawa jejak dari lingkungan dimana terbentuknya.

Batuan ini terbentuk dalam sistem ventilasi hidrotermal yang ada di dasar laut. Dalam kurun waktu ribuan tahun, batuan ini tak hilang dan kini terekspos.

Adanya batuan ini bisa membantu ilmuwan dalam meneliti keadaan Bumi zaman dulu dari wilayah perairan. Penelitian yang dilakukannya ini juga bertujuan untuk mempelajari saluran air yang mengalir di atasnya secara lebih mendalam.

Dari penelitian tersebut, ilmuwan berhasil mengungkap fakta bahwa kondisi lautan pada 3,2 miliar tahun lalu kaya akan isotop oksigen.

Bahkan kandungan tersebut jauh lebih banyak daripada isotop oksigen yang ada di daratan pada masa sekarang. Hal inilah yang membuat peneliti menarik kesimpulan bahwa dulu Bumi sepenuhnya air.

Kondisi Bumi yang sepenuhnya air pun seringkali disebut sebagai dunia air. Walau demikian, tak ada yang bisa memastikan bahwa tak ada benua yang muncul dari dalam lautan.

Bukti Keadaan Bumi Zaman Dulu adalah Dunia Air

Dalam meneliti batuan, ternyata ditemukan bukti lain yang membuat ilmuwan semakin yakin bahwa dulu Bumi sepenuhnya air.

Adapun bukti tersebut yaitu temuan mineral kuno atau yang dikenal dengan zirkon. Penemuan zirkon ini memperlihatkan bahwa Bumi memang sudah mempunyai air mulai 4,4 miliar tahun silam.

Sebagaimana yang kita tahu, masa itu bertepatan dengan waktu terbentuknya planet Bumi dan termasuk sejarah kelautan yang panjang.

Setelah diyakini bahwa keadaan Bumi zaman dulu adalah dunia air, lantas kalangan ilmuwan mulai mendebatkan bagaimana asal usul kehidupan.

Kini ilmuwan tengah ramai memperbincangkan asal usul munculnya organisme dengan sel tunggal paling awal yang ada di Bumi.

Mengingat dulunya Bumi tak memiliki daratan, apakah mungkin jika organisme tersebut pertama kali ada di dekat lubang hidrotermal di dalam lautan?

Hal ini seakan sulit dipercaya. Pasalnya, wilayah ini diketahui mempunyai suhu yang panas dengan kandungan mineral yang melimpah.

Maka dari itu, saat ini ilmuwan masih terus menelitinya. Tak bisa dipungkiri bahwa kajian ini memang membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Sehari di Bumi Dulunya Hanya 23,5 Jam?

Selain diyakini sebagai dunia air, keadaan Bumi zaman dulu juga diperkirakan hanya memiliki waktu selama 23,5 jam dalam seharinya.

Info mengejutkan ini didapat dari penelitian yang membandingkan perputaran Bumi dulunya dengan sekarang. Jika dulu, Bumi berputar sebanyak 372 kali.

Sementara untuk saat ini, planet yang kita tinggali ini berputar hanya 360 kali dalam setahun. Tak heran jika waktunya lebih lama, yakni menjadi 24 jam sehari.

Terkait hal tersebut, ilmuwan berhasil mengungkapnya dari penelitian yang melibatkan fosil cangkang moluska dari era Cretaceous akhir. Penelitian ini pun sudah diterbitkan di AGU’s journal Paleoceanography and Paleoclimatology.

Dari penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan diatas, dapat diketahui bahwa keadaan Bumi zaman dulu tak bisa disamakan dengan kondisinya saat ini. Keadaannya berubah seiring berjalannya waktu. (R10/HR-Online)

- Advertisment -