Kebaya Indonesia Jadi Budaya Negara Bagian Amerika

Kebaya Indonesia
Kebaya Indonesia yang dikembangkan di salah satu negara bagian Amerika. Foto: Net/Ist

Kebaya Indonesia yang merupakan warisan peradaban yang sampai sekarang sudah digemari oleh dunia. Amerika serikat salah satu negara yang sekarang mengembangkan kebaya menjadi budaya rakyatnya.

Pengembangan kebaya berawal dari usaha pemberdayaan masyarakat, khususnya di Negara Bagian Maryland Amerika untuk menggerakkan roda ekonomi.

Chad Buterbaugh, Pakar Kerakyatan dari Dewan Kesenian dan Departemen Perdagangan Maryland di Baltimore sangat mengapresiasi pengembangan kebaya meskipun berawal dari usaha kecil dan usaha perintis.

Ketertarikannya terhadap seni, membuat kebaya menjadi hal yang Ia sukai karena memiliki nilai seni yang sangat tinggi.

“Kami tertarik dengan para seniman, mereka juga bekerja sebagai pengusaha pada usaha kecil dan perintis, serta dengan cara itu mereka mengembangkan usaha,” ungkap Chad dilansir dari VOA Indonesia.

Awal Mula Kebaya Indonesia Jadi Budaya Negara Bagian Amerika

Nuri Auger, seorang perempuan yang berasal dari Padang, membawa keahliannya mendesain dan menjahit baju kebaya ke Amerika.

Nuri sudah tinggal di Amerika selama hampir tiga dekade. Wanita paruh baya ini sebelumnya tidak menyangka kebaya akan disukai dan dijadikan salah satu budaya di Amerika.

Pada awalnya Ia mendapatkan uang hibah dari program Folklife Apprenticeship untuk program pendidikan yang memadai aktivitas seorang pakar.

“Seperti anugerah, tidak menyangka orang Amerika memberikan uang untuk mengembangkan kebaya. Mungkin ini yang bisa saya berikan kepada kampung halaman Indonesia, dengan mengenalkan budayanya kepada peradaban dunia,” ungkap nuri.

Kemudian, melalui program tersebut Nuri mengajarkan keahliannya dalam menjahit kebaya kepada Stacy Stube yang juga keturunan dari Indonesia.

Stacy merupakan seorang perancang muda di Amerika dan melalui kebaya, Ia mengembangkan minatnya terhadap budaya yang berasal dari negara kelahirannya.

Minat Stacy ini kemudian menjadi motivasi lebih bagi Nuri untuk mengembangkan kebaya bersama-sama di Amerika.

“Saya bangga ada perempuan setengah Indonesia yang mempunyai minat terhadap kebaya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengembangkan dan berbagi bersama Stacy,”kata Nuri.

Budaya Indonesia Diteruskan di Amerika

Ketertarikan Chad terhadap kebaya yang membuatnya memilih Nuri menjadi pemenang dari program hibah yang menunjang pengembangan dan aktivitas para pakar tersebut.

Program tersebut dibuat supaya sebuah kebudayaan tidak hilang dari peradaban manusia. Seperti yang dikatakan chad, sebuah budaya harus bisa dipastikan terwariskan kepada setiap generasi.

“Program ini adalah untuk memastikan sebuah tradisi atau suatu budaya diteruskan  dari satu generasi ke generasi berikutnya,” jelasnya.

Kebaya ini kemudian diharapkan untuk terus berkembang melalui komunitas tersebut, dan bisa menjadi penggerak roda ekonomi yang kuat bahkan antar Negara. (Muhafid/R6/HR-Online)