Libur Corona, Pelajar Pangandaran Hampir Diamuk Massa Karena Bermesraan di Tempat Umum

Pelajar Pangandaran
Salah seorang pelajar Pangandaran sedang diproses di Polsek Cijulang setelah kedapatan bermesraan di tempat umum. Foto: Enceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Adanya kebijakan belajar dari rumah dalam upaya pencegahan virus Corona Covid-19, malah disalahgunakan oleh sejumlah pelajar Pangandaran, Jawa Barat.

Seperti yang terjadi pada Rabu, (18/3/2020), sebanyak 9 pelajar terciduk sedang bermesraan di tempat umum. Warga yang mendapati para pelajar tersebut di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang akhirnya menyerahkannya kepada Polisi.

Namun, beberapa warga sempat emosi dan para pelajar yang kedapatan bermesraan tersebut hampir diamuk massa.

AKP Rahmat Fanani, Kepala Polisi Sektor Cijulang, Kabupaten Pangandaran, mengatakan ada 9 pelajar yang diserahkan warga kepada Polisi. Mereka terdiri dari 6 pelajar laki-laki dan 3 pelajar perempuan.

“Para pelajar yang diserahkan warga kepada kami bukan hanya dari Kecamatan Cijulang, ada juga yang berasal dari Kecamatan Cimerak, Kecamatan Parigi, dan Kecamatan Langkaplancar,” kata Rahmat.

Menurutnya, warga menyerahkan 9 pelajar tersebut ke polisi lantaran resah. Warga mendapati pelajar berlaku tidak wajar di tempat umum.

“Intinya warga resah, mereka menilai perilaku laki-laki dan perempuan yang berkerumun apalagi di tempat gelap itu tidak wajar,” katanya.

Para pelajar yang malah bermesraan tersebut dinilai tidak patut. Karena seharusnya mereka belajar di rumah selama 2 minggu dalam rangka antisipasi dan pencegahan penyebaran virus Corona Covid-19.

“Kami sudah menghubungi orang tua dari 9 pelajar ini. Kepada mereka kami mengimbau agar anak-anaknya dipantau untuk belajar di rumah dan agar anak-anak ini tidak lagi melakukan hal serupa,” tegasnya.

Sementara itu, Ade Kasmana, Kepala Dusun Balengbeng, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, menuturkan, para pelajar Pangandaran tersebut sudah datang berulang kali dalam beberapa hari ini.

“Sudah dari beberapa hari lalu, mereka datang ke tempat ini. Perilakunya meresahkan warga, hingga kemudian warga sepakat, pelaja-pelajar ini diserahkan kepada Polisi,” terang Ade.

Lantaran khawatir massa beringas dan menganiaya kesembilan pelajar tersebut, pihaknya membawa mereka ke Polisi.

“Takutnya terjadi hal tak diinginkan, karena warga juga sudah geram, makanya kami serahkan kepada Polisi agar para pelajar ini jera,” pungkasnya. (Ceng2/R7/HR-Online)