Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaBerita BanjarLumpuh Sejak 8 Tahun, Warga Kota Banjar Ini Manfaatkan Waktunya Lebih Produktif

Lumpuh Sejak 8 Tahun, Warga Kota Banjar Ini Manfaatkan Waktunya Lebih Produktif

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Meski kondisi fisiknya tak memungkinkan untuk melakukan kegiatan lebih leluasa, namun Ghufron Tozani (48), warga RT. 5B, RW. 5, Lingkungan Margasari, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, memanfaatkan waktunya untuk kegiatan lebih produktif.

Diketahui, kondisi fisik Ghufron yang kini hanya bisa duduk di kursi roda, karena kedua kakinya lumpuh akibat saraf terkilir sejak 8 tahun lalu. Ia pun tak bisa berbuat banyak dalam menjalani hari-harinya bersama keluarga.

Kendati serba terbatas, Ghufron mengaku sejak sebulan terakhir ini mulai mencoba memanfaatkan kayu yang ada di rumahnya, atau pun di rumah orang tuanya untuk membuat rak perabotan atau meja.

“Saya hanya iseng saja, daripada ini kayunya tidak dipakai, mending dibuat sesuatu yang lebih manfaat, misal buat rak atau meja kecil-kecilan,” tuturnya, kepada Koran HR, Selasa (17/03/2020).

Meski hanya membuat sesuatu yang digunakan untuk pribadi, Ghufron mengaku tidak sempat kepikiran untuk mengembangkan kemampuannya dalam dunia perkayuan. Sebab, ia merasa hanya iseng dan mengisi waktu-waktu kosong untuk hal yang produktif.

“Kalau keinginan saya hanya ingin sehat lagi, bisa berjalan lagi seperti dulu. Namun, karena terbentur biaya, ya saya sama istri fokus mengurus anak dulu, menyenangkan anak hingga lulus sekolah,” ucapnya.

Selama ini Ghufron memang mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa program PKH maupun Program Sembako, Ia mendapatkan bantuan tersebut setiap bulannya. Namun, untuk masalah bantuan pengobatan dirinya, ia mengaku belum ada.

Selama ini, ia pernah melakukan pengobatan di Yogyakarta, namun belum membuahkan hasil. Termasuk menempuh berbagai pengobatan alternatif.

“Dulu pernah dikasih roda, itu pun sudah rusak. Ini yang saya pakai juga rodanya sudah agak rusak. Saya ingin ada roda lagi buat di dalam rumah, dan yang ini untuk kegiatan di luar,” imbuhnya.

Meski dalam kondisi kurang memungkinkan dan mengandalkan istri sebagai tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai buruh tani, Ghufron mengaku hanya bisa berharap anak-anaknya bahagia dengan menyelesaikan sekolah.

“Kalau saya sih nanti lagi, yang penting anak dulu. Kemarin sempat kumpul-kumpul buat pengobatan, namun ya begitu, terpakai lagi buat kebutuhan. Jadi anak dulu lah yang paling penting,” pungkasnya. (Muhafid/Koran-HR)

- Advertisment -