Belajar Memilah & Mengolah Sampah, Sejumlah Santri Magang di TPS 3R KSM Bagusantri Banjar

Belajar Memilah & Mengolah Sampah, Sejumlah Santri Magang di TPS 3R KSM Bagusantri Banjar
Sejumlah santri saat magang di TPS 3R KSM Bagusantri, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Sejumlah santri Ponpes Miftahul Huda Al Azhar Kota Banjar, mengikuti magang pemilahan dan pengolahan sampah di TPS 3R KSM Bagusantri, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

Magang tersebut dilakukan setelah adanya tempat pengolahan sampah di lingkungan pesantren untuk mengolah sampah yang ada.

Aziz, salah satu santri Ponpes Miftahul Huda Al Azhar yang ikut magang, menyebutkan, sebanyak 10 santri ditugaskan untuk mengikuti kegiatan pemilahan sampah di 2 TPS, yakni di Rejasari dan sekitar Doboku, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

“Kita ini diarahkan oleh dinas terkait untuk belajar bagaimana memilah, mengolah, dan memanfaatkan hasil dari sampah. Setelah ini, diharapkan nantinya pengelolaan sampah di pesantren bisa lebih mandiri, dan menjadi bekal santri untuk lebih peduli terhadap lingkungan, terutama masalah sampah,” tuturnya, Selasa (10/03/2020).

Menurut Aziz, melihat proses pengelolaan sampah yang ada di TPS, ada potensi yang cukup besar dari pemanfaatan sampah untuk kehidupan sehari-hari, baik untuk bidang pertanian maupun ekonomi.

“Kita di sini diajarkan bagaimana melihat sampah yang bisa dijual, diolah menjadi pupuk, serta bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Mudah-mudahan saja ke depan santri bisa lebih peduli lagi terhadap lingkungan, dan tidak buang sampah sembarangan,” kata Aziz.

Kepala TPS 3R KSM Bagusantri, Abdul Holik Ibrahim, menyambut baik adanya sejumlah santri yang mau belajar mengelola sampah di tempatnya. Apalagi TPS 3R KSM Bagusantri menjadi salah satu tempat untuk pendidikan bagi mereka yang akan belajar pertanian ke Jepang.

“Saat ini ada tiga anak dari Sleman dan Purwokerto yang akan ke Jepang, namun mereka belajar dulu di sini. Memang di sini menjadi tempat belajar bagi mereka yang ingin belajar pengolahan sampah maupun pertanian,” terang Holik, yang juga pernah belajar di Jepang dalam bidang pertanian selama 8 bulan pada tahun 2001 silam.

Melihat keberadaan sampah yang dikelolanya itu diharapkan bisa menjadi contoh bagi santri yang akan mengelola sampah di lingkungannya. Apalagi jika pengelolaannya dilakukan secara jelas dan profesional.

Ia pun mencontohkan, selama satu tahun pengelolaan sampah di TPS Bagusantri bisa menghasilkan sebesar Rp 36 juta, dan bisa memberikan PAD ke Kota Banjar sebesar Rp 5 juta.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, saya yakin malah pusing sendiri. Tapi saya ajak bagaimana kita memanfaatkan dengan baik, dan bisa menghasilkan. Ini menjadi tantangan bagi kita, apalagi menularkan hal-hal positif kepada kalangan muda,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)