Minggu, Agustus 14, 2022
BerandaBerita PangandaranButuh Bantuan Pemerintah, Balita Asal Cijulang Pangandaran Menderita Penyakit Aneh

Butuh Bantuan Pemerintah, Balita Asal Cijulang Pangandaran Menderita Penyakit Aneh

Berita Pangandaran (harapanrakyat.com).- Seorang balita yang bernama Agni Aulia Rahman (5) asal Dusun Bantarkawung RT 2 RW 7, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, membutuhkan bantuan. Sebab, penyakit yang menderanya tidak jelas, sehingga ia hanya bisa tengkurap saja dan tidak bisa bersuara.

Holil, ayah Aulia, menuturkan, keanehan yang dialami anaknya tersebut membuat dirinya bingung. Sebab, ketika masuk bulan Rajab anaknya tidak pernah rewel, terlihat bahagia, serta selalu senang. Sedangkan pada malam harinya bisa tidur normal seperti biasanya.

Namun ketika masuk Bulan Mulud, kata Holil, anaknya selalu rewel dan pada malam hari susah tidur, jadi harus begadang terus.

“Kalau bulan biasa ya normal-normal saja. Secara medis kita sudah ikhtiar berobah ke Dokter dan divonis penyempitan otak, atau kurang berkembang syarafnya,” kata Holil saat diwawancara Koran HR, Senin (30/3/2020).

Holil menjelaskan, dirinya sudah bolak-balik berobat ke Puskesmas Cijulang maupun dokter spesialis di Banjar sesuai tahapan dan anjuran dari segi medis.

“Saya harap ada perhatian pemerintah. Soalnya ini seolah terisolir karena balita ini disebut difabel, padahal bukan, disabilitas juga bukan. Selama 1 bulan, biaya susu anak saya mencapai Rp 1,2 juta,” tuturnya.

Dalam kondisi seperti ini, Holil sempat memiliki cita-cita ingin menghibahkan tanahnya untuk pengambangan perikanan dan penelitian mahasiswa yang memerlukan.

“Saya minta pemerintah untuk membantu memotivasi siapa pun, bukan hanya saya saja. Orang yang seperti saya karena tidak mampu akhirnya dibiarkan saja,” kata Holil.

Holil berharap kepada pemerintah untuk bangkit bersama demi melakukan kebaikan untuk sesama, agar bermanfaat dan tidak merasa asing dan terisolir.

“Saya mengelola kelompok perikanan Kawung Sari, dan juga mencoba membangun kawasan ekonomi esensial (KEE) dan juga penanaman 20.000 kitri di Batukaras. Itu dari uang pribadi agar ini bisa menebus kesembuhan anak saya,” pungkasnya. (Mad/Koran HR)