Jumat, Agustus 19, 2022
BerandaBerita BanjarBerkah Corona, Penjual Jamu di Kota Banjar Ramai Pembeli

Berkah Corona, Penjual Jamu di Kota Banjar Ramai Pembeli

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Penjual jamu di Kota Banjar, Jawa Barat ketiban rezeki saat wabah Covid-19 merebak di Indonesia.

Keberadaan minuman tradisional yang baik untuk kesehatan ini memang sudah dikenal luas dan banyak digemari. Apalagi setelah pandemik Covid-19, jamu banyak dicari lantaran diyakini bisa menambah daya tahan tubuh.

Marsih (45) seorang pedagang jamu keliling warga Gang Mesji, Dusun Jelat, Kota Banjar, mengatakan, dirinya berjualan jamu sudah puluhan tahun.

“Sudah lama saya berjualan jamu keliling ini, dimulai sejak tahun 1996 lalu, ketika satu gelasnya saya jual Rp. 500, sampai sekarang yang harganya Rp. 2000 per gelasnya, atau bisa lebih sesuai dengan permintaan pembeli yaitu jamunya ditambah telur,  madu atau rempah-rempah lainnya “ ungkap Marsih, Rabu (15/4/2020).

Dari usaha ini, Marsih mengakui penghasilannya cukup lumayan bisa menghidupi anak-anaknya, apalagi setelah suaminya meninggal karena sakit beberapa tahun yang lalu.

“Allhamdulillah dengan jualan jamu kecil-kecilan ini bisa menambah penghasilan bagi kehidupan saya bersama anak-anak saya, di tengah ketika saya diberi cobaan harus kehilangan suami  untuk selamanya,” kenangnya.

Penjual Jamu di Kota Banjar Banyak Mendapat Pesanan

Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, permintaan jamu lumayan cukup meningkat. Bahkan tak sedikit penggemar jamu yang datang langsung ke rumah Marsih.

Para pembeli biasanya memesan jamu untuk meningkatkan kekebalan dan kekuatan tubuh, apalagi saat ini sedang merebak wabah Corona.

“Mereka biasanya memesan jamu untuk ketahanan tubuh, seperti jahe merah, kunyit besar, rempah-rempah lainnya yang mempunyai khasiat untuk memperkuat daya tahan tubuh. Mereka meminta saya untuk meracik bahan-bahan tadi menjadi jamu sesuai permintaan pesanan,” imbuhnya.

Baca Juga: ‘Berkah’ Virus Corona, Pedagang Jamu Keliling di Ciamis Laris Manis

Adapun harga yang ditawarkan tergantung dari bahan-bahan racikannya itu. Apabila bahan racikannya mudah didapat berarti murah, dan sebaliknya kalau bahan racikannya susah dicari dan tidak ada di pasar maka otomatis akan mahal.

Racikan itu nantinya akan disimpan di bekas air mineral ukuran 600 ml, dan akan dijual dengan harga sekitar Rp 20.000. Harga disesuaikan dengan bahan-bahan racikan jamu.

“Per botol bekas mimuman mineral, saya jual sekitar Rp 15.000  sampai Rp 20.000, atau tergantung pesanan yang dipintanya. Karena sudah kenal biasanya mereka menawar, dan saya juga biasanya mengiyakannya,” terang Marsih.

Jika menggunakan rempah-rempah yang langka, maka harga akan disesuaikan dan biasanya ada tawar menawar harga terlebih dahulu.

“Beda lagi kalau memang rempah-rempah atau bahan racikannya susah dicari, maka sebelumnya akan tawar menawar harga, atau kalau dalam bahasa Sunda papaitan dulu, agar tahu harganya, jadi enak ke kita maupun pemesannya, “ pungkas penjual jamu di Kota Banjar ini. (HND/R7/HR-Online)