Hutan Hujan Kuno di Antartika, Inilah Awal Mula Penemuannya

Hutan Hujan Kuno di Antartika
Hutan Hujan Kuno di Antartika. Foto: Istimewa

Akhir-akhir ini berhembus kabar tentang hutan hujan kuno di Antartika yang juga sempat meninggalkan dunia dengan tanda tanya besar. Mendengar kata Antartika, terdapat banyak pertanyaan yang menyelimuti benua misterius ini.

Berada di kutub Bumi, benua yang satu ini memang menawarkan berbagai hal yang tidak bisa diraih oleh manusia.

Terlebih lagi, banyak penelitian yang mengatakan bahwa benua ini memang tidak layak dihuni karena keadaan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.

Dengan segala ketidaktahuan orang tentang benua Antartika, tidak heran bila banyak orang sering mengkaitkan mitos-mitos aneh dengan benua ini.

Namun, kini mulai banyak ekspedisi-ekspedisi para peneliti hingga beberapa paket wisata yang menawarkan perjalanan ke benua Antartika.

Hutan Hujan Kuno di Antartika

Beberapa peneliti asal Eropa memberikan kabar yang menggemparkan tentang kemungkinan adanya jejak hutan hujan tropis di benua paling dingin di dunia ini. Pengurutan peneliti hutan hujan ini ada sebelum Antartika menjadi seperti sekarang ini.

Lewat penelitian mereka pada tahun 2017 lalu, berbekal kapal RV Polarstern, telah berhasil mengitari perairan Amundsen, bagian barat Antartika.

Peneliti selanjutnya melakukan pengeboran ke dasar perairan tersebut hingga akhirnya menemukan komponen sedimen yang lebih dekat ke permukaan.

Sedimen berwarna lain tersebut, mereka temukan pada pengeboran di kedalaman 27-30 meter. Hal ini yang menjadi cikal bakal pemikiran adanya hutan hujan kuno di Antartika.

Awalnya, para peneliti hanya merasa bahwa sedimen tersebut adalah sedimen dasar yang membentuk daratan di Antartika. Namun, akhirnya muncul hipotesa baru setelah sampel sedimen tersebut diteliti lebih lanjut oleh para peneliti.

Lewat mesin peneliti yang super rumit, mereka mengetahui bahwa sedimen tersebut merupakan akar-akar tanaman yang sudah menjadi fosil.

Terkejut dengan hal itu, para peneliti langsung melakukan tindakan penelitian mikroskopis terhadap sampel tersebut.

Hasilnya, diketahui bahwa sampel tersebut adalah serbuk sari dan spora yang semakin menguatkan indikasi adanya hutan hujan kuno di Antartika.

Penjelasan Singkat Mengenai Benua Antartika

Antartika merupakan sebuah benua yang terletak di kutub selatan Bumi. Hampir seluruh wilayahnya terdapat dalam lingkar Antartika yang dikelilingi oleh tiga samudera, yaitu samudera Pasifik, samudera Atlantik, dan samudera Hindia.

Dengan luas 14 juta kilometer persegi, benua ini menjadi benua terluas kelima di dunia. Jika dibandingkan dengan benua lainnya,  Antartika hampir 100 persen lebih besar dibanding benua Australia.

Sebagai benua, Antartika merupakan benua yang tidak layak dihuni oleh manusia. Pasalnya, benua ini memiliki kelembaban dan suhu terendah di Bumi.

Daerah yang dinyatakan dulunya sebagai hutan hujan kuno di Antartika memiliki suhu yang memang tergolong ekstrem. Rata-rata suhu terendah di benua ini berkisar -80 hingga -95 derajat Celcius di musim dingin, sedangkan -50 derajat di musim panas.

Hampir seluruh bagian benua Antartika tertutup salju setebal 2,5 kilometer. Karena berada di kutub Bumi, membuat benua ini tidak memiliki musim yang biasa dialami oleh manusia.

Kehidupan di Antartika

Beriklim tundra, hanya organisme tertentu yang mampu hidup di benua Antartika. Terdapat beberapa jenis jamur, algae, bakteri, protista, dan tumbuhan hidup lainnya.

Dari segi hewan, benua ini menjadi tempat bermain-main bagi berbagai jenis penguin dan anjing laut. Kedua hewan tersebut memang menjadi penghuni yang kental dengan Antartika.

Dengan keadaan ini, memang menarik jika ada kabar yang mengatakan hutan hujan kuno di Antartika tersebut benar adanya. Padahal, di sana tidak ada satu tumbuhan hijauan pun yang mampu tumbuh dengan baik.

Penelitian Lebih Lanjut

Mengetahui kemungkinan bahwa bagian barat Antartika dulunya adalah daerah hutan, para peneliti kemudian menyusun sebuah permodelan.

Permodelan yang dibuat dilakukan untuk mengetahui iklim dari kawasan yang diduga sebagai hutan hujan yang hilang tersebut.

Berdasarkan data biologi dan biokimia yang didapatkan, hipotesa tentang adanya hutan hujan kuno di Antartika semakin terkuak.

Permodelan yang dilakukan menambah keyakinan adanya hutan hujan tersebut mungkin saja terjadi terutama pada masa Mid-Cretaceous.

Pada masa tersebut, tingkat karbondioksida Bumi tergolong tinggi dan membuat suhu Bumi menjadi sangat panas. Proses panas masa ini akhirnya membentuk susunan vegetasi di daerah yang seharusnya dingin.

Meski dinilai sebagai sebuah penemuan, para peneliti masih belum bisa membenarkan sepenuhnya hipotesa mereka.

Namun, secara ilmu peneliti, lebih mengambil pemahaman tentang hubungan karbondioksida dengan iklim kutub di masa prasejarah dibandingkan tentang hutan hujan kuno di Antartika. (R10/HR-Online)

Loading...