Obat Maag Bantu Sembuhkan Covid-19, Ini Penjelasan Para Ilmuwan

Obat maag bantu sembuhkan covid-19. Foto. Ilustrasi.
Obat maag bantu sembuhkan covid-19. Foto. Ilustrasi.

Obat maag bantu sembuhkan covid-19. Di New York, Amerika Serikat, peneliti sedang melakukan uji klinis kemanjuran obat maag untuk membantu sembuhkan Covid-19.

Dirangkum dari berbagai sumber, dalam uji klinis itu, peneliti mengkombinasikan obat maag dengan obat malaria, yakni hydoxycloroquine.

Sejak awal April 2020, lebih dari 150 orang terlibat dalam penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan Feinstein Institutes for Medical Research.

Hingga saat ini sejumlah negara pun masih terus melakukan pencarian obat yang efektif untuk mengatasi Covid-19.

Menurut laporan yang dilansir New York Post, peneliti di AS tengah berupaya mencari tahu apakah senyawa aktif, yakni famotidine yang terkandung dalam obat Pepcid dapat menghambat infeksi COVID-19.

Obat maag bantu sembuhkan Covid010. Menurut peneliti, cara kerja obat tersebut tak berbeda jauh dengan memblokir replikasi pada HIV/AIDS.

Pasien yang terlibat dalam penelitian itu diberikan obat maag secara intravena, dikombinasikan dengan hydroxychloroquine.

Wakil Presiden, David Battinelli, yang juga Kepala Petugas Medis Northwell, mengatakan, penelitian tersebut dilakukan di tiga rumah sakit yang berbeda.

Ketiga rumah sakit itu meliputi Long Island Jewsih Medical Center, Northwell’s North Shore University Hospital, dan Lenox Hill Hospital.

Diketahui para peneliti pada awalnya cuma ingin menguji famotidine tunggal, namun karena banyaknya pasien yang dirawat dan diberi hydroxychloroquine, maka mereka tidak memiliki banyak subjek penelitian.

Peneliti dalam laporannya menyebutkan, pasien yang diberikan kombinasi obat akan dibandingkan dengan mereka yang hanya diberi obat antimalaria, yakni hydroxychloroquine, serta kelompok kontrol.

Obat maag bantu sembuhkan Covid-19. Sementara, menurut Presiden Donald Trump, obat hydroxychloroquine masih efektif mengatasi infeksi COVID-19.

Padahal, menurut beberapa sumber kalau obat ini justru malah membunuh pasien COVID-19. Battinelli menyebutkan, secara anekdot obat sakit maag menjanjikan bis bantu sembuhkan Covid-19.

Karena itu, ia berharap penelitian ini dapat dilakukan pada pasien dengan jumlah lebih besar lagi, mungkin sebanyak 1.250 pasien COVID-19.

Obati Pasien Covid-19, Peneliti Prancis Pakai Nikotin

Banyak obat yang tengah diuji guna mengatasi Covid-19. Dari mulai obat malaria hingga untuk HIV-AIDS.

Bahkan, para peneliti di negara Prancis memakai nikotin untuk menyembuhkan para pasien positif Covid-19.

Para ilmuwan di Prancis melakukan penelitian terhadap nikotin. Diduga zat nikotin mampu menekan perkembangan virus Corona.

Studi tersebut dapat diakses melalui platform jurnal online Qeios yang diterbitkan tanggal 21 April 2020, dan sampai sekarang belum melakukan proses peer-review.

Penelitian di Prancis ini sejalan dengan penelitian dari China yang diterbitkan akhir Maret lalu dalam New England Journal of Medicine.

Penelitian di China menunjukkan, dari sebanyak 1.000 orang yang positif Covid-19, hanya ada 12,6 persen yang punya kebiasaan merokok.

Sedangkan, jumlah perokok di negara itu diperkirakan hanya sekitar 28 persen dari total jumlah penduduknya.

Di Prancis ditemukan, dari jumlah pasien sebanyak 11.000 yang dirawat di rumah sakit, cuma 8,5 persen saja yang merokok.

Sementara, jumlah perokok di negara ini diperkirakan ada sekitar 25,4 persen dari total jumlah penduduk.

Dalam laporannya para peneliti di Prancis menyebutkan bahwa, studi cross-sectional pihaknya yakin menunjukkan kalau mereka yang merokok tiap hari, risiko mengalami infeksi parah akibat terjangkit Covid-19 jauh lebih kecil dibanding populasi umum.

Karena itulah para peneliti mengembangkan Nicotine patch (plester nikotin) sebagai salah satu alat untuk terapi pasien Covid-19 di Prancis.

Untuk menggelar eksperimen itu, para ilmuwan saat ini tengah menunggu izin yang dikeluarkan otoritas kesehatan Prancis.

Rencana tersebut berawal dari penelitian di Pitié-Salpêtrière Hospital di Paris. Hasil dari penelitian menunjukkan, kemungkinan besar nikotin, diduga membuat perokok lebih sulit terpapar Covid-19.

Dalam penelitian tersebut, 480 pasien Covid-19 menjalani wawancara dengan para ilmuwan. Dari jumlah itu, sebanyak 350 pasien dirawat di rumah sakit, dan sisanya dirawat di rumah.

Plester Nikotin Covid-19

Pasien yang dirawat di rumah sakit rata-rata berusia 65 tahun, dan hanya 4,4 persen saja yang punya kebiasaan merokok.

Sedangkan, mereka yang tidak dirawat di rumah sakit rata-rata usianya 44 tahun, dan hanya 5,5 persennya saja yang merokok.

Meski begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa merokok tetap berbahaya, sehingga sangat tidak dianjurkan dijadikan cara untuk mencegah penularan Covid-19.

Menurut para peneliti, nikotin mungkin saja dapat mencegah orang terpapar virus Corona Covid-19, namun racun lainnya dalam rokok berpotensi memperparah gejala pada pasien.

Selain itu, ilmuwan juga membandingkan antara data yang mereka miliki dengan data perokok di Prancis.

Dan hasilnya menunjukkan kalau jumlah perokok dari pasien yang diwawancarai mereka jauh lebih kecil.

Hal itu karena ada sekitar 40 persen orang berusia 44-53 tahun di Prancis yang merokok.

Sedangkan, pada kelompok usia 65-75 tahun hanya ada sekitar 8,8-11,3 persen yang merokok.

Menurut Jean-Pierre Changeux, pakar neurobiologi terkemuka di Prancis, telah me-review studi tersebut.

Ia menduga bahwa zat nikotin merupakan zat yang mampu mencegah virus corona hingga mencapai sel-sel dalam tubuh manusia.

Menurut Changeux, nikotin juga diduga sudah mencegah sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi secara berlebihan.

Gejala itu biasanya ditemukan pada pasien positif Covid-19 yang menjalani perawatan dengan kondisinya sudah sangat parah. (Eva/R3/HR-Online)