Lopinavir dan Arbidol Tidak Efektif untuk Obat Anti Virus Corona

Obat Anti Virus Corona
Ilustrasi Obat Anti Virus Corona. Foto: istimewa

Dua jenis obat anti virus corona yang sedang dalam tahap uji klinis akhirnya dinyatakan tidak efektif atau gagal. Masing-masing adalah lopinavir atau ritonavir (LPV / r) dan Arbidol.

Kesimpulan terhadap hasil uji klinis tersebut disampaikan Linghua Li, Wakil Direktur Pusat Penyakit Menular Rumah Sakit Guangzhou Cina.

“Kami menemukan baik lopinavir/ritonavir maupun Arbidol ternyata tidak memberikan manfaat yang signifikan pada hasil uji klinis untuk pasien Covid-19,” katanya seperti dikutip dari laman scitechdaily.com. Bahkan kedua obat ini kemungkinan memberikan efek samping yang tidak menguntungkan.

Hasil penelitian ini muncul dalam sebuah laporan yang diterbitkan di jurnal medis Med yang diterbitkan oleh Cell Press. Laporan tentang kegagalan dalam perburuan obat anti virus Corona ini merupakan yang pertama dilaporkan.

Penelitian untuk menemukan obat yang efektif dalam menghadapi virus Corona dilakukan banyak negara. Bahkan badan kesehatan dunia WHO juga juga ikut berlomba dengan waktu secepatnya menemukan obat maupun vaksin Corona yang tepat.

Baca juga: Uji Coba Avigan Obat Corona Langkah Efektif Penanganan Corona

Saat ini WHO telah merekomendasikan sebanyak 70 jenis obat dan vaksin virus Corona untuk diteliti lebih lanjut. China dinilai sebagai negara yang paling terdepan dalam riset untuk menemukan obat anti virus Corona.

Inggris juga dilaporkan baru saja mendukung dan mendanai uji klinis obat virus Corona yang ditemukan para peneliti dari Universitas Oxford. Obat bernama ChAdOx1 nCoV-19 ini dikembangkan dari jenis virus flu biasa bernama adenovirus.

Begitu juga Jerman yang tengah melakukan uji coba vaksin Corona yang diproduksi oleh BioNTech dan Pfizer. Hasil uji coba pada pasien Corona di Inggris dan Jerman ini diharapkan memberikan hasil yang menggembirakan.

Hasil Uji Klinis Lopinavir dan Arbidol sebagai Obat Anti Virus Corona

Obat bernama lopinavir atau populer dengan sebutan ritonavir (LPV / r) selama ini telah digunakan untuk pengobatan terhadap penyakit HIV-1. Sedangkan Arbidol sering dimanfaatkan untuk menyembuhkan influenza.

Pemilihan terhadap LPV/r dan Arbidol untuk obat anti virus Corona dilakukan setelah Komisi Kesehatan Nasional China mengeluarkan sejumlah rekomendasikan calon obat covid-19 yang potensial.

Rekomendasi ini dikeluarkan setelah sebelumnya dilakukan riset yang cukup mendalam maupun tes in vitro dan uji lab serta dari data dari SARS dan MERS. Karena itulah uji klinis lanjutan ini dilakukan.

Baca juga: FDA Tidak Rekomendasikan Ivermectin untuk Pengobatan Virus Corona

Pada tahapan uji klinis ini penelitian melibatkan 86 orang relawan yang telah mengalami infeksi atau terpapar Covid-19 ringan dan sedang. Jumlah ini dibagi dalam beberapa kelompok yang diberikan perlakuan berbeda-beda.

Sebanyak 34 relawan mendapat pengobatan LPV/r, 35 orang relawan menerima Arbidol, dan 17 orang lainnya tidak diberikan obat sama sekali sebagai kelompok kontrol.

Setelah diamati selama 7 hingga 14 hari, para pasien dari semua kelompok ternyata memperlihatkan hasil yang tidak berbeda alias sama saja. Baik menyangkut kondisi demam, batuk, maupun hasil CT scan dada.

Yang menarik, kedua kelompok yang menerima pengobatan justru mengalami efek samping, seperti mual, diare dan hilangnya nafsu makan. Sedangkan kelompok kontrol justru tidak mengalami efek samping.

Selain untuk pasien Covid-19 dengan gejala ringan dan sedang, penelitian obat anti virus Corona ini juga dilakukan untuk penderita yang berat. Hasilnya juga menunjukkan kesimpulan yang kurang menggembirakan.

“Temuan kami memperlihatkan perlunya mempertimbangkan dengan sangat hati-hati sebelum memanfaatkan obat ini,” tambah Li.

Baca juga: Indonesia Juga Berlomba Teliti Obat Infeksi Virus Corona

Namun dia menegaskan masih akan meneliti dan menemukan obat yang benar-benar efektif dan aman untuk ovid-19.

Sebagai negara terdepan dalam riset tentang vaksin Corona, China masih terus berusaha menemukan obat anti virus corona yang benar-benar efektif dan aman. Kita tunggu hasil riset lainnya. (R9/HR-Online)