Terdampak Covid-19, 90 Persen Pengrajin Sale Pisang di Langensari Kota Banjar Berhenti Produksi

Terdampak Covid-19, 90 Persen Pengrajin Sale Pisang di Langensari Kota Banjar Berhenti Produksi
Watijan, pengrajin sale pisang di Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, saat menunjukkan tempat untuk mengeringkan sale pisang. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Sejak wabah corona masuk ke Indonesia, kegiatan masyarakat di berbagai sektor terdampak, bahkan ada yang sampai terhenti total. Seperti halnya pengrajin sale pisang yang ada di Kota Banjar.

Watijan, salah satu pengrajin sale asal Lingkungan Langkaplancar, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, menuturkan, sejak ada Covid-19 ini, permintaan sale pisang menurun drastis, sehingga hampir 90 persen pengrajin yang ada di wilayahnya berhenti total.

“Di sini hampir 50 persen warga memiliki sampingan menjadi pengrajin sale, dan karena Covid-19, hampir 90 persen berhenti,” ujarnya, kepada Koran HR, Selasa (05/05/2020).

Penyebab berhentinya permintaan sale pisang tersebut, kata Watijan, karena pengepul maupun bandar sudah tidak lagi menarik hasil sale dari para pengrajin, dengan alasan sulit pemasarannya. Meskipun ada, namun intensitasnya tidak begitu tinggi jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

“Daripada merugi barangnya tidak diambil oleh pengepul, mendingan berhenti. Kalaupun diambil, itu waktunya lama. Bandar besarnya kan ada di Bandung. Karena lebih awal Covid-19 tersebar di Bandung, makanya dampaknya juga ke kita sebagai pengrajin sejak 1 bulan lalu,” tuturnya.

Sejak wabah ini masuk ke Indonesia, lanjut Watijan, sale pisang yang awalnya dihargai Rp 11 ribu per lembar, secara perlahan menurun hingga dihargai Rp 7 ribu saja per lembarnya.

Dalam satu lembar sale, dirinya bisa menghabiskan buah pisang sekitar hampir 2 kilogram dan dapat dikerjakan sekitar 1 jam. Sementara, dalam sehari bisa mengerjakan 5 hingga 15 lembar.

Sebelum menjadi pengrajin sale, Watijan mengaku dirinya menjahit orderan dari sebuah konveksi. Namun, sejak adanya corona, permintaan menjahit sudah tidak ada lagi karena perusahaan penampungnya sudah tutup.

“Saya kira dengan beralih ke sale pisang bisa ketutup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi ternyata terdampak juga,” ujarnya.

Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, saat ini Watijan hanya bisa menjadi buruh tani yang bekerja ke pemilik sawah. Tapi, petani juga sekarang ini tengah kesulitan akibat hama wereng yang menyerang tanaman padi.

“Bayangkan saja, 100 bata hanya dapat panen tiga karung padi. Buruh tani pun sekarang pilih-pilih kalau mau ikut memanen, karena kalau padi yang terserang hama wereng hasilnya sedikit,” katanya.

Meski pemerintah menjanjikan bantuan kepada masyarakat terdampak Covid-19, Watijan mengaku hingga saat ini belum mendapatkannya. Hanya saja pendataan sudah dilakukan pemerintah.

“Ya belum dapat apa-apa. Sekarang sedang serba sulit. Semoga saja cepat selesai agar kegiatannya normal lagi,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)