Sabtu, Oktober 23, 2021
BerandaBerita TerbaruAktivitas Tektonik di Bulan, Bukti Bahwa Bulan Tidak Mati

Aktivitas Tektonik di Bulan, Bukti Bahwa Bulan Tidak Mati

Adanya anggapan bahwa Bulan sudah lama mati, kini terbantahkan dengan adanya aktivitas tektonik di Bulan. Bila kita perhatikan secara seksama, Bulan mungkin terlihat seperti bongkahan batu mati yang dingin mengambang di angkasa.

Namun, adanya tanda kehidupan mungkin saja bisa terjadi. Kabar yang sedang beredar baru-baru ini, ahli geologi telah menemukan petunjuk tektonik di dekat Bulan. Bahkan adanya kemungkinan aktivitas tektonik ini sedang berlangsung hingga saat ini.

Aktivitas Tektonik di Bulan

Sejak era Apollo, Bulan masih mengeluarkan suara gemuruh. Dalam beberapa dekade yang lalu, seismometer telah ditempatkan di permukaan Bulan oleh astronot Apollo.

Tak disangka, sebuah fakta pun terungkap bahwa terjadi gempa di Bulan yang lemah di bawah permukaan dan gempa tektonik dangkal di kerak Bumi.

Berkat kejadian tersebut, para ahli geologi memberikan sebuah kesimpulan bahwa gempa Bulan purnama merupakan hasil interaksi gravitasi akan Bumi yang menempatkan sejumlah tekanan pada Bulan.

Mungkin saja, dari sinilah terjadinya aktivitas tektonik di Bulan menjadi sebuah perkiraan. Namun, gempa Bulan dangkal dikit lebih sukar untuk dijabarkan. Fenomena ini serupa dengan gempa Bumi yang kuat.

Akan tetapi, Bulan sendiri pun tidak mempunyai lempeng tektonik seperti yang menyebabkan Bumi bergidik, sehingga getaran yang ditimbulkan tidaklah mudah untuk dijelaskan.

Lebih mencengangkan lagi, para ilmuwan temukan satu kemungkinan terjadinya aktivitas tektonik yang disebabkan oleh Bulan menyusut sebab terus mendingin usai terbentuk 4,5 miliar tahun yang lalu.

Bukti Baru Adanya Aktivitas Tektonik di Bulan

Pernyataan Bulan tidak berarti mati telah dibenarkan dengan adanya bukti yang belum lama ini telah ditemukan.

Punggungan yang baru saja ditemukan di permukaan Bulan membuat para ilmuwan berpikir bahwa adanya kemungkinan Bulan memiliki sistem tektonik aktif.

Para peneliti telah menemukan sejumlah punggungan dengan batuan dasar yang terbuka, tidak adanya regolith Bulan atau tanah Bulan yang tersebar di permukaan dekat Bulan. Data tersebut diambil dari Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) NASA,

Punggungan ini berbintik-bintik dengan batu-batu besar. Sehingga bisa menjadi bukti bahwa belum lama berselang terjadinya aktivitas tektonik di Bulan yang menghancurkan permukaan Bulan.

Sementara itu, sebagian besar permukaan Bulan telah ditutupi oleh lunar regolith dan ada beberapa tambahan yang jarang terjadi dari batuan dasar yang terbuka ini.

Akan tetapi, menurut Peter Schultz, yakni profesor di Departemen Bumi, Ilmu Lingkungan dan Planet Bumi Brown University sekaligus penulis pendamping dari sebuah studi baru yang menggambarkan temuan tersebut, memberikan pernyataan karena regolith terbentuk dengan cepat di permukaan pasti ada sesuatu yang menciptakan punggung bukit ini dengan batuan dasar yang terbuka di Bulan.

Bukan hanya itu saja, Schultz juga menambahkan bahwa punggungan dengan batuan dasar yang terbuka telah terlihat sebelumnya. Kejadian ini bisa dijelaskan menggunakan bukti yang memperlihatkan bahwa lava sempat mengalir di sana.

Berkat berat dan gerakannya, akhirnya menciptakan punggungan. Namun dalam studi baru yang telah dilakukan, ditemukan punggungan yang tak bisa dijelaskan oleh pergerakan vulkanik purba serta tampaknya justru terkait dengan aktivitas tektonik di Bulan.

Ada 500 Bidang Batuan Terbuka

Selain itu, telah dilakukan sebuah pengamatan lainnya yang dipimpin oleh Adomas Valantinas, seorang mahasiswa pasca sarjana di Universitas Bern di Swiss. Pengamatan ini menggunakan instrumen Diviner LRO yang mengukur suhu di permukaan Bulan.

Dari data Diviner tersebut mampu menentukan jenis batuan dan jenis permukaan yang terletak di area tertentu. Dikarenakan area yang tercakup dalam regolith Bulan cenderung lebih dingin jika dibandingkan dengan area terbuka dari batuan dasar yang bebas dari regolith.

Dari pengamatan ini pula, mereka dapat menemukan 500 bidang batuan terbuka pada punggung sempit di permukaan bulan dekat Maria Bulan atau bercak hitam besar di Bulan.

Valantinas dan Schultz telah memetakan semua punggungan terbuka ini dan ternyata berbaris sempurna dengan retakan kuno di kerak Bulan yang terlihat oleh misi GRAIL NASA pada tahun 2014.

Sebenarnya, studi baru yang diterbitkan pada 13 April di jurnal Geology bukanlah satu-satunya bukti untuk aktivitas tektonik di Bulan.

Contoh lainnya, seismometer yang dipasang di permukaan Bulan oleh astronot Apollo pada akhir tahun 1960an serta awal 1970an juga telah mengambil bukti terjadinya banyak gempa. (R10/HR-Online)

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img