Imbas Physical Distancing, Jasa Pijat Tunantera Hasta Husada Banjar Sepi Pelanggan

Imbas Physical Distancing, Jasa Pijat Tunantera Hasta Husada Banjar Sepi Pelanggan
Imbas physical distancing, jasa pijat tunantera Hasta Husada Banjar sepi pelanggan. Foto:Hendra/HR

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Dede Fachrudin (60), penyandang tunanetra sejak lahir, warga Lingkungan Lemburbalong, RT.03/RW.05, Kelurahan/Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari bergantung pada keahlian memijat yang dimilikinya dengan membuka jasa pijat bernama Hasta Husada.

Namun, semenjak virus corona (Covid 19) mewabah di Indonesia, keahliannya dalam memijat itu sudah tidak bisa lagi menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk menopang kehidupannya sehari-sehari.

Pasalnya, para pelanggan yang membutuhkan jasa pijatannya kini sudah tidak mau bepergian jauh karena diterapkannya physical distancing oleh pemerintah, akibat wabah Covid-19.

“Setelah adanya wabah virus corona, memang pasien saya semakin berkurang, yang biasanya banyak pada datang ke rumah saya, tapi sekarang tidak ada satupun yang datang untuk dipijat. Mereka rata-rata takut akan virus corona,” ungkap Dede Fachrudin, kepada Koran HR, saat ditemui di rumahnya, Selasa (05/05/2020).

Dengan tidak sepinya pelanggan atau pasien yang menggunakan jasa pijatnya, dia mengaku secara kasat mata virus corona telah memangkas pendapatannya sehari-hari.

Dede mengaku, sebelum Covid-19 mewabah di Indonesia, dalam sehari biasanya dia bisa mendapatkan pemasukan dari jasa pijatnya antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu.

“Tapi sekarang saya ngegel curuk. Sekarang dapat 50 ribu rupiah saja sulit. Kan tarif pijat seluruh tubuh kalau sama orang jauh itu mereka suka ngasih sekitar 50 ribu rupiah, dan sekarang jarang, paling juga tetangga yang rata-rata ngasih 20 ribu rupiah. Segitu juga Alhamdulillah masih ada rezekinya,” tutur Dede.

Meskipun begitu, dirinya masih bisa bernapas lega. Karena, dua anaknya dari tiga bersaudara itu merupakan penerima bantuan PKH (Program Keluarga Harapan), yang kisaran bantuannya sebesar Rp 250 ribu per bulan, dengan rincian anak keduanya mau masuk SMP sebesar Rp 75 ribu, sedangkan anaknya yang bungsu yang masih balita dapat bantuan sekitar Rp 175 ribu.

“Alhamdulillah, saya masih termasuk penerima bantuan dari program PKH, sehingga untuk kebutuhan sehari-hari dapat tertolong. Yang 75 ribu rupiah digunakan untuk kebutuhan sekolah, sedangkan yang 175 ribu rupiah dipakai beli susu dan keperluan anak saya yang masih balita,” ungkapnya.

Dede juga mengaku, biasanya menjelang Lebaran, keluarganya mendapat bantuan dari zakat fitrah. Seperti Lebaran tahun lalu yang mendapat bantuan dari zakat fitrah sebesar Rp 100 ribu, dan beras sekitar 3 kilogram.

Saat ini Dede hanya berharap wabah Covid-19 segera hilang agar kehidupan bisa kembali berjalan normal, sehingga usaha jasa pijatnya kembali lancar. (HND/Koran HR)

Loading...