Kegigihan Nabi Ilyas Berdakwah di Tengah Penolakan Bani Israil

Kegigihan Nabi Ilyas
Ilustrasi. Foto: Net/Ist

Kegigihan Nabi Ilyas berdakwah patut diteladani. Nabi Ilyas berdakwah untuk menyampaikan ajaran pada kaum Bani Israil yang berada di negeri Ba’labak (berhala perempuan) yang menyembah berhala, bukannya menyembah Allah SWT.

Nabi Ilyas adalah keturunan keempat dari Nabi Harun. Sejak masih kecil, Nabi Ilyas telah menunjukkan kesuciannya dalam menghafal isi kitab Taurat secara keseluruhan.

Beliau juga dikenal lebih menyukai berada di tengah hutan bersama hewan untuk teman bermainnya. Nabi Ilyas diutus Allah SWT menjadi seorang nabi untuk bisa membimbing kaum Yordan.

Kegigihan Nabi Ilyas Berdakwah

Beliau diberi amanat untuk membawa kaum Bani Israil agar bisa kembali menyembah Allah SWT dan meninggalkan kebiasaan menyembah berhala. Wahyu turun pada Nabi Ilyas pada usianya yang ke-35 tahun.

Setelah mendapat wahyu dan perintah Allah SWT, maka Nabi Ilyas segera melakukan dakwah untuk membuat mereka kembali pada jalan yang benar.

Sayangnya, perbuatan Nabi Ilyas bukannya mendapat perhatian malah menerima penolakan yang datang silih berganti.

Namun demikian tidak membuat Nabi Ilyas merasa putus asa dengan penolakan yang Beliau terima. Dengan kegigihan Nabi Ilyas berdakwah, maka terus berusaha menuntun ke jalan kebenaran.

Beliau telah memperingatkan kaum yang menolaknya mengenai azab yang akan mereka terima karena telah mengingkari Allah SWT dan para Nabi dengan mengajak mereka untuk bertobat dan meninggalkan berhala.

Beliau mengatakan jika patung-patung berhala yang disembah tidak akan bisa menolong kaum Bani Israil saat azab datang.

Hal ini membuat penduduk marah dan merasa terganggu. Mendengar ucapan Nabi Ilyas, maka penduduk mengusirnya keluar daerah sambil ada yang melemparinya dengan batu.

Melihatnya diusir dan dilempari dengan batu, Beliau diam saja tanpa melakukan perlawanan. Inilah wujud kegigihan Nabi Ilyas berdakwah.

Hari demi hari dilalui dengan tetap berdakwah meski penolakan semakin datang. Sampai suatu hari, para penduduk sudah sangat marah sehingga mereka mengusirnya untuk selama-lamanya.

Mendengar hal ini, Nabi Ilyas segera pergi dan mencari tempat persembunyian. Di dalam persembunyiannya, Beliau meminta doa untuk perlindungan dan agar Allah SWT mau memberi peringatan untuk kaum Bani Israil.

Azab Kaum Bani Israil

Kegigihan Nabi Ilyas berdakwah terlihat. Dengan tak berselang lama memanjatkan do’anya, terdengar jika negeri Ba’labak dilanda kekeringan yang berkepanjangan. Sampai banyak korban yang meninggal satu per satu.

Kini pertikaian terjadi diantara penduduk untuk merebutkan makanan. Hal kecil saja bisa membuat perselisihan terjadi di negeri itu. Para penduduk marah karena menganggap bencana yang datang akibat berhala yang mereka sembah marah atas kedatangan Nabi Ilyas.

Dalam sumber yang lain dikisahkan jika Raja Israil sampai meminta para imam agar mau mendo’akan pada berhala agar kemarau segera berakhir. Namun kenyataannya, kemarau tidak kunjung usai dan masih berlanjut.

Kemudian penduduk bertekad untuk mencari Nabi Ilyas dalam kemarahan mereka. Sementara itu, Nabi Ilyas dalam pelariannya menemukan sebuah rumah yang berada di tengah gurun pasir.

Pada sumber yang lain, Nabi Ilyas dalam persembunyiannya diminta untuk menemui seorang ibu yang mempunyai anak laki-laki. Beliau berada disana untuk sementara waktu dengan makan dan minum disana.

Pertemuan Dengan Ilyasa

Kegigihan Nabi Ilyas berdakwah selanjutnya dimulai di rumah seorang ibu dengan bertemu Ilyasa yang kelak juga diutus untuk menjadi nabi. Kini Ilyasa sedang dalam keadaan yang sakit parah yang telah ia derita sejak lama.

Dengan izin dari Allah SWT, maka Nabi Ilyas bisa menyembuhkan Ilyasa dengan berdo’a memohon kesembuhan. Do’a Nabi Ilyas pun didengar dan dikabulkan.

Selang beberapa saat, Ilyasa sembuh dan pulih. Kini Ilyasa menjadi murid dari Nabi Ilyas paling setia. Kini Nabi Ilyas mengajarkan semua ilmu tauhid pada Ilyasa.

Dengan begitu, Beliau melakukan dakwah dengan ditemani Ilyasa. Di tengah keputusasaan yang dirasakan karena kemarau panjang, kaum Bani Israil mulai mendengarkan Nabi Ilyas.

Mereka secara perlahan kembali ke ajaran Allah SWT. Tak lama dari itu, mulai turun hujan dan membuat penduduk bersuka cita menyambut hujan yang turun.

Beberapa hari kemudian, tumbuhan mulai tumbuh dan binatang bisa makan dan minum serta penduduk terlepas dari kelaparan. Inilah kegigihan Nabi Ilyas berdakwah yang membuat kaum Bani Israil kembali kepada Allah SWT. (R10/HR-Online)

Loading...