Kisah Sayyidah Hafshah Binti Umar Sebagai Istri Rasulullah SAW

Kisah Sayyidah Hafshah Binti Umar Sebagai Istri Rasulullah SAW
Kisah Sayyidah Hafshah Binti Umar sebagai istri Rasulullah SAW. Foto:Ist/Net

Kisah Sayyidah Hafshah binti Umar sebagai istri Nabi Muhammad SAW dan juga putri sahabat beliau, Umar Bin Khattab. Kisah ini berawal dari Rasulullah SAW menikahinya pada bulan Sya’ban tahun ketiga hijriyah.

Saat itu umur Sayyidah Hafshah menginjak 21 tahun. Dia adalah janda dari Khunais bin Hudzafah as-Sahmi. Khunais sendiri adalah orang yang masuk agama Islam pada masa awal.

Khunais juga pernah mengikuti Rasulullah SAW hijrah dua kali, yaitu ke Madinah dan ke Habasyah Ethiopia. Kemudian ia meninggal pada perang Ubud yang membuatnya terluka parah.

Kisah Sayyidah Hafshah binti Umar

Setelah Khunais meninggal, Sayyidah Hafshah dikembalikan pulang ke rumah ayahnya, yaitu Umar bin Khattab. Dengan hal seperti itu, keadaan Umar bin Khattab makin menderita.

Pasalnya, saat itu keadaan Umar bin Khattab sedang mengalami perekonomian yang sulit. Sehingga, keberadaan Sayyidah Hafshah membuatnya makin terpuruk karena memikirkan nasib putrinya tersebut.

Bahkan, ia memikirkan nasib Sayyidah Hafshah yang kini hidup menjanda setelah meninggalnya Khunais.

Melihat kondisi sahabatnya tersebut, Nabi Muhammad SAW pun memutuskan untuk menikahi Sayyidah Hafshah. Kisah Sayyidah Hafshah binti Umar sebagai istri Rasulullah pun dimulai.

Alasan yang Rasulullah SAW sebutkan adalah karena sebagai wujud perhatian Beliau terhadap kondisi Umar bin Khattab sahabatnya.

Nabi Muhammad SAW beserta Umar bin Khattab mempunyai peran yang sangat besar dalam hal menegakkan ajaran agama Islam pada masa awal berdiri.

Umar bin Khattab sangat teguh dalam membela agama Islam, juga rela bertaruh jiwa dan raganya demi ajaran Islam ditegakkan.

Nabi Muhammad SAW Menikahi Sayyidah hafshah

Merasakan kepedihan kisah Sayyidah Hafshah binti Umar yang hidup menjanda, maka Umar bin Khattab mendatangi Abu Bakar As-Siddiq untuk memintanya menikahi Hafshah. Namun, setelah Umar bercerita, Abu Bakar hanya diam tanpa berkata sedikitpun.

Umar mengerti jika sahabatnya itu sedang menolak secara halus. Kemudian dari rumah Abu Bakar, Umar mendatangi rumah Ustman bin Affan yang juga sahabatnya. Seperti yang ia lakukan di rumah Abu Bakar, Umar juga bercerita tentang kepedihannya.

Namun, Ustman yang keadaannya sudah tidak beristri karena meninggal akibat penyakit tersebut meminta waktu untuk berpikir. Setelah beberapa hari, Ustman mendatangi Umar dengan mengatakan jika ia belum ingin menikah.

Sedih dengan kenyataan tersebut, berlanjut Umar menemui Nabi Muhammad SAW dan menceritakan apa yang ia rasakan. Kemudian Nabi Muhammad SAW mengatakan jika Hafshah akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Ustman, sedangkan Ustman juga akan menikahi wanita yang lebih baik dari Hafshah.

Mendengar punuturan Rasulullah SAW, Umar pun menjadi lega dan kembali ke rumah untuk segera memberi tahu kabar gembira tersebut pada putrinya.

Sayyidah Hafshah Sebagai penjaga AlQuran

Kisah Sayyidah Hafshah binti Umar adalah wanita yang dikenal sebagai seorang yang pandai dalam membaca dan juga menulis. Hal itu merupakan satu kelebihan yang jarang dimiliki oleh seseorang pada zaman itu.

Oleh karena itu, Hafshah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai penulis yang pertama dan satu-satunya dari naskah Al-Qur’an yang diawasi langsung oleh Rasulullah SAW. Dengan dasar seperti itulah, Sayyidah Hafshah memiliki gelar “Penjaga Al-Qur’an”.

Media yang ia pakai untuk menulis Al-Qur’an adalah batu, papan, pelepah kurma, tulang, kulit, dan masih banyak media lain yang ia pakai. Naskah yang Hafshah tulis tersimpan sangat rapi dan baik.

Sampai suatu ketika, dalam usaha mengodifikasi Al-Qur’an zaman kekhalifahan Abu Bakar, naskah Al-Qur’an itu pun diminta. Pada saat itu, Zaid bin Tsabit yang ditunjuk sebagai kodifikasi Al-Qur’an.

Setelah itu, naskah dituangkan ke dalam lembaran kulit serta disusun dengan rapi berdasarkan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Sedangkan naskah dari kisah Sayyidah Hafshah binti Umar dihancurkan.

Sayyidah Hafshah juga adalah wanita yang tidak segan untuk mengeluarkan pendapatnya, meskipun akan berbeda dari yang lain, bahkan dengan pendapat Nabi Muhammad SAW sendiri.

Pernah suatu ketika seperti yang sudah diriwayatkan, Sayyidah Hafshah tidak sependapat dengan pernyataan Rasulullah SAW tentang para sahabat yang sebagai pengikut perjanjian Hudaibiyah tidak akan masuk neraka.

Lalu, Hafshah menyebutkan dalam QS. Maryam ayat 71 yang berbunyi, “tidak seorang pun di antara kamu melainkan akan melewatinya”.

Setelah itu, Rasulullah membenarkan pemahaman kisah Sayyidah Hafshah binti Umar mengenai ayat tersebut. Beliau kemudian membacakan ayat berikutnya yang berbunyi, “Lalu, kami akan menyelamatkan orang yang bertakwa serta membiarkan orang zalim di dalam neraka dalam kondisi berlutut”. (R10/HR Online)