Kronologis Anggota DPRD Pangandaran Bubarkan Pemudik yang Dikarantina, Ini Kata Kades

pemudik yang dikarantina
Kantor Kepala Desa Kertaharja, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran yang dijadikan tempat karantina bagi para pemudik. Foto: Istimewa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Awalnya Masluh tak percaya Oman Rohman yang dikenal sebagai anggota DPRD Pangandaran bakal datang ke kantornya dan membubarkan para pemudik yang dikarantina.

Masluh yang menjabat sebagai Kepala Desa Kertaharja, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, mengaku awalnya mendapat telepon pada malam takbiran.

Oman terdengar marah di telepon. Menurut Masluh, Oman mempertanyakan kenapa ada tebang pilih pemudik yang diisolasi.

“Awalnya nelepon, marah. Pak Oman menanyakan kenapa pemudik yang diisolasi diwilah-wilah. Lebih baik bubarkan saja. Begitu dia bilang. Saya pikir cuma menggertak, tak tahunya Pak Oman benar-benar datang,” ujar Masluh, Senin (25/5/2020).

Oman memang mendatangi kantor desa yang dijadikan tempat karantina para pemudik yang pulang ke Desa Kertaharja, tepat pada malam takbiran.

“Marah-marah sambil mencaci maki saya. Ngobrolnya juga tak pantas. Katanya, kuwu tidak adil, kuwu tidak becus,” ucapnya.

Saat itu, kata Masluh, tidak ada yang meladeni amarah anggota DPRD Pangandaran tersebut. Namun, sebanyak 21 orang pemudik yang dikarantina membubarkan diri dan memilih pulang ke rumahnya.

“Jelas kami tidak menerima aksi pembubaran ini. Kami ini di desa hanya menjalankan aturan dari Pemda. Silakan saja itu kebijakan Pemda jika ingin dibawa ke ranah hukum atau mau dibawa kemana, saya tidak tahu,” katanya.

Berita Terkait: Karantina Pemudik Dibubarkan Anggota DPRD Pangandaran, Bupati Tak Terima

Masluh juga menanggapi tuduhan Oman yang menyebutnya tebang pilih dalam karantina pemudik. Menurutnya, aksi Oman dilatarbelakangi kepulangan empat orang pemudik dari Jakarta, Rabu minggu lalu.

“Kamisnya saya datangi keempat pemudik tersebut. Saya datang bersama tim dari gugus tugas. Kami bermaksud membawa mereka untuk menjalani isolasi di ruang khusus,” terang Masluh.

Keempat orang tersebut menolak menempati karantina khusus yang sudah disediakan Pemdes. Mereka memilih rumah kosong yang lebih layak milik mereka untuk dijadikan tempat isolasi mandiri.

“Saya sempat koordinasi dengan Camat, Babinsa, dan Babinkamtibmas, membahas ini. Akhirnya kemudian diputuskan, keempat pemudik itu akan menempati isolasi khusus di desa pada hari Sabtu atau Minggu. Sayangnya Pak Dewan malah marah-marah pada Sabtu malam,” terangnya.

Pemudik yang Dikarantina Bisa Ajukan Isolasi Mandiri di Rumah

Masluh mengungkapkan, pemudik juga bisa mengajukan untuk menjalani isolasi mandiri di rumah, dan tidak perlu menjalani isolasi di tempat khusus yang telah disediakan Pemdes. Hal ini bahkan sudah dilakukan di kecamatan lain.

Namun, menurut Masluh, ada syarat tertentu yang harus dipenuhi, salah satunya lokasi rumah untuk isolasi mandiri benar-benar kosong dan tidak dihuni oleh orang lain.

Lokasinya pun harus diperiksa terlebih dahulu oleh tim gugus tugas. Sehingga akhirnya bisa disetujui oleh Kades, Camat, RT, RW, Babinsa, dan Babinkamtibmas.

Syarat lainnya, pemudik juga harus membuat surat pernyataan akan mematuhi aturan selama menjalani isolasi mandiri. Salah satu aturannya adalah tidak keluyuran keluar rumah.

Berita Terkait: Ini Alasan Anggota DPRD Pangandaran Bubarkan Karantina Pemudik

Masluh juga mengakui tempat isolasi khusus Desa Kertaharja masih sering ramai oleh para pembesuk. Malah banyak dari pemudik yang tengah menjalani isolasi yang nongkrong di luar. Dalam hal ini Masluh mengaku sulit menertibkannya.

“Itu kami akui sebagai kelemahan kami, karena tak bisa tegas. Jika kami tegur, mereka protes, mereka bilang mereka bukan tahanan. Ini cukup dilematis bagi kami,” tandasnya. (R7/HR-Online)

Loading...