Penerapan New Normal di Jabar Tidak Akan Mengurangi Kewaspadaan Terhadap Covid-19

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, saat konferensi pers yang digelar Jum’at (29/05/2020), di Gedung Pakuan, Bandung. Foto: Dok. Humas Pemprov Jabar.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, saat konferensi pers yang digelar Jum’at (29/05/2020), di Gedung Pakuan, Bandung. Foto: Dok. Humas Pemprov Jabar.

Berita Jabar (harapanrakyat.com),- Penerapan new normal di Jabar tidak akan mengurangi kewaspadaan terhadap Covid-19. Hal itu ditegaskan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, dalam konferensi pers, Jum’at (29/05/2020), di Gedung Pakuan, Bandung.

Ia menyebutkan, penerapan new normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Jabar akan dibarengi pengendalian risiko penularan virus corona secara komprehensif.

Seperti melakukan pengetesan secara masif dan intens, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan (fakes) konsisten ditingkatkan.

Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, menyatakan, penerapan new normal di Jabar berdasarkan pada pertimbangan sains. Dan juga level kewaspadaan Covid-19 yang dilakukan di setiap daerah kabupaten/kota se-Jabar.

“Kami di Jabar proporsional berdasarkan keilmiahan, kami juga tetap waspada dan tetap bertahap. Kami mengimbau warga agar perlahan-lahan tidak melakukan euforia ketika penerapan AKB,” katanya.

Di Jabar 12 Daerah Zona Kuning dan 16 Zona Biru

Selanjutnya, berdasarkan evaluasi Gugus Tugas Covid-19 Jabar, terdapat 12 daerah yang kini berada di zona kuning atau level 3.

12 daerah tersebut meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi.

Kemudian, Kota Bandung, Kota Bogor, Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kota Cimahi. Itu artinya pad klaster tunggal telah ditemukan kasus Covid-19. Sehingga, 12 daerah tersebut direkomendasikan untuk melanjutkan lagi PSBB parsial. 

Sementara, 15 daerah yang masuk level 2 atau zona biru meliputi Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Ciamis, Cianjur, Kabupaten Cirebon, Garut, Kuningan, Majalengka.

Selanjutnya, Kabupaten Pangandaran, Purwakarta, Sumedang, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kota Tasikmalaya, Sukabumi, dan Kota Cirebon.

Semuanya daerah tersebut di atas kini berada di level 2 atau zona biru, dan bisa memasuki new normal atau AKB.

“Kewaspadaan Gugus Tugas Jabar dalam mengendalikan Covid-19 tentunya tidak akan berkurang, apalagi di daerah yang bisa menerapkan AKB,” tandas Kang Emil.

Ia juga mengatakan, pengetesan Covid-19 melalui metode tes swab atau polymerase chain reaction (PCR) maupun rapid test bakal intens dilakukan.

Dengan pengetesan masif akan mendapatkan peta sebaran Covid-19 secara komprehensif sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran Covid-19.

Pengetesan Covid-19 secara masif akan membatasi ruang gerak SARS-CoV-2. Selain itu, juga untuk mendeteksi keberadaan virus, serta melacak kontak terpapar Covid-19.

Lebih lanjut Kang Emil menjelaskan, pihaknya akan merilis banyak ambulans yang di dalamnya terdapat rapid test. Nantinya, 60 persen wilayah di Jabar yang bakal menerapkan AKB akan dihadirkan ambulans.

Petugas kesehatan akan datang menggunakan ambulans ke tempat-tempat kerumunan warga untuk melakukan tes Covid-19.

“Inilah cara kami untuk memastikan AKB dapat berjalan baik, jangan menghilangkan kewaspadaan,” ujarnya.

Dalam melaksanakan pengetesan masif, Gugus Tugas Covid-19 Jabar ini menggunakan pola yang dilakukan oleh Korea Selatan. Yakni mengetes sebanyak 0,6 persen dari jumlah penduduk atau 300 ribu penduduk Jabar.

“Kabar baiknya, di Jawa Barat ini, bulan depan PCR produksi PT Biofarma telah tersedia. Produk tes tidak impor lagi. Karena, alat rapid test berkualitas yang dibuat Unpad dan ITB tersedia. Meskipun jumlahnya terbatas,” kata Ridwan Kamil.

Ia menegaskan, jangan sampai kaget jika angka-angkanya kurang baik, maka kami akan memperketat lagi PSBB,. 

Gugus Tugas Jabar Akan Menambah Alat Tes Covid-19

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Jabar, Berli Hamdani, menambahkan, pihaknya kini memiliki sebanyak 34.000 alat tes swab, dan 5.000 alat rapid test. Gugus Tugas Jabar juga bakal terus menambah alat tes Covid-19.

Selain melakukan pengetesan masif, Gugus Tugas Jabar juga intens tingkatkan kesiapan manajemen bagi ruang perawatan Covid-19.

Baik dari mulai tingkat pelayanan dasar, ruang-ruang perawatan di RS (Rumah Sakit) rujukan, hingga transportasi rujukan.

Hal itu sebagai salah satu upaya dalam menekan risiko tingkat kematian pasien positif Covid-19. Berli mengatakan, semuanya diperbaiki serta distandarisasi ulang yang sesuai dengan standar baru layanan Covid-19.

Ia juga melaporkan, hingga sekarang ini, persentase tingkat keterisian di ruang perawatan Covid-19 yang ada di RS rujukan hanya 30,21 %. Itu artinya, ada sekitar 69,79 % ruang perawatan Covid-19 di RS rujukan yang masih tersedia.

Kemudian, untuk ketersediaan APD, jika bulan April semua daerah di Jabar mengeluhkan kekurangan APD sesuai level resiko. Maka bulan Mei ini semua permintaan tersebut telah mampu terpenuhi.

“Kini sudah tidak ada lagi Faskes yang mengeluhkan atau mengungkapkan kekurangan APD maupun soal APD yang tidak standar,” tandasnya.

Gugus Tugas Covid-19 Jabar juga konsisten dalam menginventarisasi pusat isolasi tambahan di beberapa daerah.

Hal itu sebagai salah satu upaya dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 positif.

Barli menyebutkan, hingga Rabu, 27 Mei 2020, jumlah tempat tidur yang tersedia di pusat isolasi Jabar mencapai 1.312.

Dari jumlah total kapasitas tempat tidur yang tersedia, yang sudah terisi 153 atau 11,66 persen. (Eva/R3/HR-Online)

Loading...