Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah, Antara Madinah-Habasyah

Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah
Ilustrasi Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah. Foto: Ist

Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah termasuk sejarah Islam yang penting untuk diketahui. Ummu Habibah sendiri merupakan keponakan dari sahabat Beliau yang bernama Ustman bin Affan Radhiallahu ‘anhu.

Ibu Ummu Habibah adalah Shafiyah binti Abi al-Ash bin Ummayah. Nama asli Ummu Habibah sendiri adalah Ramlah binti Abu Sufyan (Shakhr) bin Harb bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf al-Umawiyah.

Namun untuk nama asli tersebut, terdapat beberapa yang beda pendapat dari para ulama. Ada yang menyebutkan jika nama asli Ummu Habibah adalah Hindun, namun ada yang menyatakan jika nama Ramlah lebih masyhur. Oleh sebab itu, pendapat dari Ibnu Abdil Barr yang menyebutkan nama Ramlah tersebutlah yang dianggap sahih.

Kisah Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah

Ummu Habibah merupakan wanita pemeluk Islam dari masa generasi pertama. Pada waktu itu, sang ayah Abu Sufyan bin Harb marah saat mengetahui putrinya memeluk agama Islam. Padahal sang ayah adalah pemimpin dan tokoh besar di Makkah.

Baca juga: Kisah Sayyidah Hafshah Binti Umar Sebagai Istri Rasulullah SAW

Oleh karena itu, Ummu Habibah hijrah ke Habasyah bersama sang suami. Mereka melakukan perjalanan yang sangat jauh ke Afrika. Apalagi dalam perjalanan tersebut, Ummu Habibah sedang mengandung dan membuat perjalanan mereka semakin berat.

Kemudian di Habasyah, ia melahirkan anak yang diberi nama Habibah. Sehingga, ia pun dipanggil dengan sebutan Ummu Habibah. Permasalahan berat kembali terjadi saat sang suami malah memeluk Nasrani.

Sebelum pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah, ia tak mungkin kembali ke kampung halaman karena sang ayah tak menerima agama yang ia anut yaitu Islam.

Namun, ia tetap teguh pada keislamannya. Saat itu, Ummu Habibah sempat bermimpi dan akhirnya mimpi itupun menjadi kenyataan. Di dalam mimpi tersebut, ia melihat sang suami berpenampilan sangat buruk.

Ia pun merasa takut, maka dari sanalah kondisinya berubah. Ummu Habibah mengingatkan sang suami tentang mimpinya, namun sang suami tak peduli dan akhirnya menjadi pecandu khamr.

Sehingga, membuat sang suami sakit dan meninggal. Ummu Habibah sungguh merasakan beban yang berat sedang ia pikul. Sang ayah yang kufur serta sang suami murtad.

Pernikahan Rasulullah Dengan Ummu Habibah Jarak Jauh

Pada saat kesendiriannya pun tak ada yang dapat menggoyahkan imannya. Kemudian ia kembali bermimpi. Di dalam mimpi tersebut, ada yang mendatanginya. Orang itu berkata jika Rasulullah SAW akan mempersuntingnya.

Kemudian setelah selesai masa iddah, ada seseorang yang kembali datang menemuinya, seorang utusan an-Najasyi. Ia merupakan budak perempuan bernama Abrahah. Ia yang mengurusi pakaian an-Najasyi serta meminyakinya.

Utusan tersebut kemudian mengatakan jika Rasulullah SAW menulis surat untuk pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah. Rasulullah SAW juga meminta untuk menunjuk wali dari Ummu Habibah sebagai wali untuk menikah.

Baca juga: Sayyidah Zainab Istri Rasulullah, Dermawan Bergelar Ummul Masakin

Selanjutnya, Ummu Habibah menunjuk Khalid bin Said al-Ash. Kemudian ia memberikan dua gelang peraknya kepada Abrahah, lalu dua perhiasannya yang ia kenakan pada kakinya sebagai bentuk syukur atas kabar yang sangat menggembirakannya itu.

Setelah sore tiba, an-Najasyi menyuruh Ja’far bin Abu Thalib untuk mengundang semua kaum muslim dalam resepsi pernikahan tersebut.

Di dalam khotbahnya, an-Najasyi mengatakan jika Rasulullah SAW mengiriminya surat agar menikahkan Beliau dengan Ummu Habibah. Kemudian an-Najasyi memberi 400 dinar dan dibagikan ke beberapa kelompok orang.

Khalid bin Saad pun menyerukan jika Rasulullah SAW adalah utusan dari Allah SWT dengan petunjuk serta agama yang benar. Kemudian ia memenuhi seruan dari Rasulullah SAW tentang pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah.

Lalu sejumlah dinar tersebut diberikan kepada Khalid bin Saad, sehingga menjadikan acara walimah tersebut selesai. Setelah itu, Khalid berkata, “Duduklah. Sesungguhnya di antara sunnah para nabi apabila mereka menikah, mereka memberi hidangan makanan.”

Setelah itupun mereka semua menyantap hidangan dan pulang. Setelah menikah, Ummu Habibah menyerahkan mas kawin yang ia terima untuk diberikan kepada Abrahah.

Namun, Abrahah menolak dan berkata, “Raja berpesan padaku agar tak menerima sedikit pun darimu. Dan akulah orang yang mengurusi pakaiannya serta wewangiannya. Sungguh aku telah mengikuti agama Muhammad Rasulullah SAW. Dan aku telah berserah diri (berislam) kepada Allah SWT. Raja menitahkan kepada istri-istrinya agar mengirimimu wewangian yang mereka punya”.

Usai pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah, dikatakan “Saat aku berjumpa dengan Rasulullah SAW, kuceritakan bagaimana proses lamaran dan segala perbuatan baik Abrahah padaku. Beliau tersenyum. Dan aku sampaikan salam darinya pada Beliau. Rasulullah menjawab, “Untuknya juga keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah.” (Ibnu Saad: ath Thabaqat al-Kubra, 8/97-98). (R10/HR-Online)

Loading...