Senin, Oktober 25, 2021
BerandaBerita JabarAdaptasi Kebiasaan Baru: New Normal Ala Jawa Barat, Begini Aturannya!

Adaptasi Kebiasaan Baru: New Normal Ala Jawa Barat, Begini Aturannya!

Berita Jabar, (harapanrakyat.com),– Setidaknya 15 Kabupaten/Kota berada di level 2 zona biru. Ke-15 daerah tersebut diusulkan untuk menerapkan new normal ala Jawa Barat atau disebut sebagai Adaptasi Kebiasaan Baru.

Daerah yang akan menerapkan AKB, terlebih dahulu harus mencabut status PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Selanjutnya Pemda bisa mengajukan surat permohonan AKB kepada Kementerian Kesehatan RI.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang juga menjabat sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, mengatakan, istilah AKB dipilih karena new normal akan membingungkan masyarakat. Mereka akan menganggap aktivitas normal kembali.

“Jika memakai istilah normal, akan membingungkan, sebagian berpikir kondisi sudah membaik dan normal lagi seperti biasa. Padahal belum. Karena itu kami memilih istilah AKB,” ungkap Emil, sapaan akrab Gubernur Jabar, Selasa (2/6/2020) lalu.

Tahapan Adaptasi Kebiasaan Baru

Emil juga menerangkan lima tahapan adaptasi dalam AKB. Berikut penjelasannya:

AKB di Tempat Ibadah

Tahap pertama adaptasi di tempat ibadah, terutama di masjid. Protokol kesehatan harus dijalankan, diantaranya dengan pengecekan suhu tubuh, pemakaian masker, jaga jarak dan cuci tangan. Emil juga meminta jemaah membawa perlengkapan salat sendiri, dan berwudu dari rumah.

Sementara pengurus masjid diizinkan untuk membuka masjid dengan kapasitas 50 persen saja. Pengurus masjid juga perlu mengajukan izin kelaikan operasional dan bebas Covid-19 ke Kantor Kecamatan setempat.

“Arahan dari Kementerian Agama, setiap masjid mengajukan surat ke kecamatan, apakah masjidnya dikategorikan aman dan layak untuk dibuka ke publik,” kata Emil.

Adaptasi Kebiasaan Baru di tempat ibadah akan dievaluasi setelah tujuh hari. Selanjutnya, daerah yang masuk zona biru bisa masuk ke tahap kedua.

AKB di Sektor Ekonomi

Tahap kedua AKB adalah adaptasi di sektor ekonomi industri, perkantoran, dan pertanian. Adaptasi di sektor ekonomi ini pun akan dievaluasi setelah 7 hari.

Jika tidak ada perubahan dalam penyebaran Covid-19, maka wilayah tersebut bisa masuk tahap ketiga AKB.

AKB Mall dan Retail Atau Pertokoan

Adaptasi Kebiasaan Baru tahap ketiga yakni pembukaan mall dan retail atau pertokoan. Namun, meskipun mall atau pertokoan buka namun harus didampingi tim pengendali dari Gugus Tugas.

Tim ini akan mengawasi aktivitas pengunjung, termasuk pemilik toko dan petugas keamanannya. Pemilik toko maupun mall harus bertanggungjawab apabila ada penularan di areanya.

Selain itu, petugas keamanan di mall atau toko bisa menegur pembeli apabila tidak menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker.

“Mall buka tapi pengunjungnya hanya boleh 50 persen saja dari kapasitas mall. Tentunya sambil menjalankan protokol kesehatan. Untuk bioskop dan karaoke masih belum bisa dibuka, karena ruangannya dianggap tidak aman,” katanya.

Pemulihan Sektor Wisata

Pemulihan sektor wisata masuk ke tahap empat Adaptasi Kebiasaan Baru, yakni satu bulan sejak AKB tahap pertama. Sektor wisata bisa dibuka kembali hanya dengan catatan tidak ada kasus Covid-19 di tahapan adaptasi sebelumnya.

Emil menegaskan, pariwisata di Jabar apabila dibuka kembali tidak diperkenankan untuk menerima wisatawan dari luar daerah Jawa Barat.

“Jangan sampai ketika pariwisata dibuka, datang tamu yang punya riwayat perjalanan ke zona merah,” katanya.

Emil juga berpesan kepada Bupati dan Walikota yang jadi tempat pariwisata agar berhati-hati ketika membuat perencanaan membuka kembali tempat wisata.

AKB Sektor Pendidikan

Tahap kelima Adaptasi Kehidupan Baru adalah adaptasi di sektor pendidikan. Meskipun begitu, Emil memastikan sekolah tidak akan dibuka dalam waktu dekat.

“Untuk sekolah saya pastikan tidak bisa dibuka sekarang. Masih dalam pembahasan. Wacananya Januari 2021 baru bisa dibuka, itu baru yang bisa kita perhitungkan,” katanya.

Emil mengatakan, saat ini, masih butuh waktu untuk membuka sekolah. Dia tidak ingin mengorbankan anak-anak. “Tapi kalau ada keputusan lain tidak sampai Januari, akan kita sampaikan lagi,” katanya.

Adaptasi Kebiasaan Baru di Pesantren

Pesantren juga menjadi sorotan dalam pelaksanaan AKB. Gugus Tugas Jabar sedang mengkaji protokol aktivitas di pesantren agar berjalan lancar.

“Kalau di pesantren itu agak beda, karena kan asrama atau kobong. Pak Wakil (UU Ruzhanul Ulum) sudah saya minta untuk berkonsolidasi dengan pesantren agar punya protokol khusus untuk mencegah penyebaran Covid-19,” katanya.

AKB New Normal Ala Jawa Barat

AKB sendiri merupakan istilah yang digunakan Pemprov Jabar terkait new normal. AKB ini merupakan kebiasaan baru bagi warga Jabar selama masa Pandemi Covid-19 atau sebelum obat dan vaksin Covid-19 ditemukan.

Kebiasaan sehari-hari diubah dan protokol kesehatan diterapkan secara disiplin. Kunci dalam Adaptasi Kebiasaan Baru adalah disiplin dan kewaspadaan individu sehingga bisa hidup, aman, sehat, dan tetap produktif.

Setidaknya ada 3 protokol kesehatan yang wajib dilakukan, yakni menggunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak minimal 1,5 meter dengan orang lain saat di luar rumah.

Perhatikan juga keluarga yang rentan terpapar Covid-19, seperti lansia, atau yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, gangguan paru, ginjal, penyakit autoimun, dan ibu hamil.

Jika AKB diberlakukan di zona biru, maka warga Jabar diimbau tidak lepas kendali. Situasi bisa berubah kapan saja jika penularan Covid-19 meningkat lagi. Karena itu keberhasilan Adaptasi Kebiasaan Baru ini tergantung warga Jabar. (R7/HR-Online)

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img