Dari Goa Bau Pangandaran Sampai Jadi Desa Wisata Nasional

Goa Bau Pangandaran
Lokasi Goa Bau Pangandaran di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. Foto: Enceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Keberadaan Goa Bau Pangandaran yang berada di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran dimanfaatkan warga sekitar untuk memberdayakan diri.

Selain menyerap tenaga kerja, Desa Kertayasa lokasi Goa Bau tersebut berhasil meraih juara pertama Desa Wisata tingkat Nasional pada tahun 2019.

Kegiatan lomba Desa Wisata Nusantara yang digagas Kementerian Desa diikuti Desa Kertayasa, sampai akhirnya berhasil mendapatkan juara pertama. Penghargaan diberikan di Sleman, Yogyakarta, pada 10 Desember 2019.

Perjalanan Goa Bau Pangandaran Hingga Meraih Anugerah Desa Wisata Nasional

Awalnya Goa Bau dikelola BUMDES Desa Kertayasa pada tahun 2012. Dengan potensi keindahan yang dimiliki Goa Bau berhasil dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Teten Sutarjo, Ketua BUMDES Desa Kertayasa, menuturkan, pengelolaan Goa Bau berkaca pada Wisata Green Canyon yang dibuka pada tahun 1993.

“Kami memiliki tekad untuk memanfaatkan Goa Bau dengan keindahannya itu, terutama untuk memberdayakan masyarakat, karena itu berbagai inovasi kami lakukan,” kata Tete, Jum’at (26/6/2020).

Modal untuk merintis BUMDES saat itu berasal dari Dana Desa. Anggaran yang digelontorkan sebesar Rp 50 juta pada 27 November 2012. Selanjutnya pada akhir pembukuan tahun 2013 pendapatan yang dihasilkan baru mencapai Rp 60 juta.

Meskipun begitu, pendapatan dari BUMDES terus meningkat secara siginifikan sehingga mampu membuka unit usaha lainnya selain wisata Goa Bau Pangandaran.

“Setelah itu unit usaha lain mulai dikembangkan, seperti jasa wisata, kios desa, warung BUMDES, foto copy, BRI link, body rafting sampai penyewaan perahu,” ungkapnya.

Semakin banyaknya unit usaha di bawah naungan BUMDES, tenaga kerja dari masyarakat pun makin banyak terserap. “Pelaku usaha untuk setiap unit usaha BUMDES ini adalah masyarakat setempat,” katanya.

TCL

Untuk menghindari persaingan usaha tidak sehat dengan usaha yang sudah ada di masyarakat, maka BUMDES mengembangkan usaha yang belum ada di masyarakat.

“Saat ini BUMDES dikelola oleh 9 orang, selain itu 150 warga setempat juga bekerja di berbagai unit usaha dan sebagai tim marketing juga pemandu,” katanya.

Masyarakat Desa Kertayasa lulusan SMP dan SMA kini memilih terlibat dalam usaha BUMDES dibanding merantau ke luar kota.

“Kami sebagai tim punya komitmen untuk terus maju dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama,” kata Teten.

Laba yang Berhasil Diraih BUMDES Desa Kertayasa

Karena komitmen dan kerjasama tim, BUMDES Desa Kertayasa pernah meraih laba Rp 175.000.000 tahun 2015.

Sejak saat itu pendapatan terus meningkat, keuntungan pun stabil. Rata-rata pendapatan dalam satu bulannya mencapai Rp 300 juta.

Hal ini lantaran pengunjung yang berwisata ke Desa Kertayasa terus berdatangan, terutama pengunjung ke Goa Bau Pangandaran. Setiap bulannya tak kurang dari 2000 pengunjung berdatangan dari berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, dan juga dari luar negeri.

“Ada body rafting juga yang bisa dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung. Tarif untuk body rafting mulai Rp 200 ribu untuk trek pendek, untuk trek panjang Rp 225 ribu,” jelasnya.

Untuk kenyamanan pengunjung, BUMDES juga memanfaatkan rumah warga untuk menjadi home stay bertarif Rp 500 ribu.

Selain itu, masyarakat pelaku UMKM juga banyak yang memproduksi cenderamata seperti kunci kolotok kebo, gantungan kunci golok, sampai kerajinan lainnya dengan bahan dasar anyaman.

Rencananya BUMDES Desa Kertayasa akan melakukan ekspansi usaha pupuk organik sisa kotoran hewan.

“Awalnya ketika ikut lomba Desa Wisata sekedar untuk ajang promosi, tapi Alhamdulillah malah jadi juara,” tandasnya. (Ceng2/R7/HR-Online)

Loading...