Jejak Buaya Purba Ditemukan di Korea Selatan

Jejak Buaya Purba
Ilustrasi jejak buaya purba. Foto: Net/Ist

Jejak buaya purba yang baru-baru ini ditemukan oleh para peneliti di Korea Selatan. Jejak buaya ini berawal dari adanya fosil bekas kaki yang masih terawat sampai sekarang.

Kendati fosil tubuh dari fauna belum ditemukan para ilmuwan, akan tetapi ilmuwan mengklaim hasil temuannya tersebut dari beberapa tanda kaki makhluk hidup yang hidup pada zaman purba.

Martin Lockey, Ilmuwan Emeritus di Universitas Colorida, Amerika Serikat, menyebut jenis hewan ini adalah Batrachopus Garndi lantaran mirip dengan Batrachopus Crocs, namun ukurannya justru lebih besar.

Ia juga menjelaskan, spesies tersebut berjalan dengan dua kaki, seperti halnya burung unta atau sama dengan cara berjalannya T-Rex.

“Kita bisa melihat pada jejak tersebut seperti ada tonjolan kulit pada tangan manusia. Mereka meletakan satu kaki di depan yang lain, berjalan lurus tanpa ada jejak kaki depan,” katanya.

Baca juga: Mengungkap Tabir Buaya Siluman Citanduy

Jejak Buaya Purba di Korea

Sementara itu, Profesor Kyung Soo Kim dari Universitas Chinju, Korsel mengatakan, jejak tumit pada fosil tersebut mendukung pendapat sebelumnya.

“Jalurnya terlihat sangat sempit, lebih terlihat seperti buaya yang berjalan seimbang dan menggunakan ikatan tali,” jelasnya.

Kemudian, Kyung Soo juga menambahkan, tidak adanya bekas ekor merupakan bukti yang kuat bahwa makhluk yang memiliki tanda tersebut berjalan dengan dua kaki.

“Saat dilihat, dengan tidak adanya tanda seretan ekor, sudah menjadi jelas ini bergerak dengan cara bipedal atau dua kakinya,” tambahnya.

Jejak buaya purba tersebut berukuran 18 – 24 sentimeter, dan diperkirakan hidup 110 juta tahun yang lalu.

Temuan Mengubah Persepsi Buaya

Sesuai hasil studi di area sedimen berlumpur yang mengelilingi sebuah danau pada masa awal cretaceous Korsel, akan mengubah anggapan tentang persoalan hewan predator ini yang sebetulnya.

Pasalnya, menurut Martin Lockey kebanyakan orang menganggap buaya tidak banyak beraktivitas dan lebih banyak bersantai di area sungai.

“Kebanyakan orang cenderung menganggap mereka hanya bermalas-malasan di tepi Sungai Nil atau di sebelah sungai di Kosta Rika sepanjang hari,” ujarnya.

Lockey juga mamparkan, jikalau anggapan masalah kaki buaya yang mana sejak dahulu berjalan menggunakan empat kaki juga bakal ikut mendapatkan tantangan baru dari penemuan tersebut.

“Apabila ternyata jenis ini dulunya memiliki 2 kaki dan dapat berjalan halnya burung unta, tentu tidak ada yang otomatis bertanya dan berpikir soal ini,” katanya.

Dukungan terhadap penemuan ini juga diungkapkan oleh Profesor Phil Manning dari Universitas Manchester Inggris.

Meskipun masih belum mempercayai persepsi di atas, namun Ia tertarik untuk mendiskusikannya.

“Ini sangat menarik sekali. Akan tetapi menurut saya jejak buaya purba itu lebih mirip Dinosaurus dan tidak sesuai geometri keseluruhan dari hewan ini,” pungkasnya. (Muhafid/R6/HR-Online)