Kebiasaan Unik Orang Indonesia yang Mengadopsi Budaya Belanda

Kebiasaan Unik orang Indonesia
Jalan Kliteren di Yogyakarta. Nama jalan ini tercipta dari kebiasaan unik orang Indonesia. Sebab pada jaman dahulu di daerah jalan ini tinggal orang Belanda bernama Tuan Klierens. Orang Indonesia sering menyebutnya dengan sebutan Tuan Kliteren. Foto: Istimewa

Terdapat kebiasaan unik orang Indonesia yang diambil dari budaya Belanda, apakah kalian tahu? Kebiasaan- kebiasaan unik ini berawal dari masa kolonial Belanda.

Ketika orang Belanda menancapkan bendera di Indonesia beratus-ratus tahun lamanya, membuat mereka sering bergaul dengan pribumi dan menciptakan sebuah kolaborasi budaya yang saling menyesuaikan satu sama lainnya.

Dari hasil kolaborasi itulah kemudian terbentuk sebuah kebiasaan-kebiasaan unik orang Indonesia yang sebagian besar diserap dari budaya Belanda yang eksis hingga saat ini.

Pertanyaannya, bagaimana proses terbentuknya kolaborasi budaya unik tersebut, lalu seperti apa saja kebiasaan-kebiasaan unik yang dimaksud? Dari pada penasaran mending yuk langsung simak penjelasan dibawah ini.

Kebiasaan Unik Orang Indonesia

Kebiasaan-kebiasaan unik tersebut awalnya terbentuk dari perkawinan silang antara orang Belanda dan pribumi. Dalam jangka waktu lama orang-orang Belanda tinggal di Hindia (sekarang Indonesia) dan kemudian mengubah cara berpikir orang Indonesia.

Saat itu orang Indonesia asli sudah akrab bergaul dengan orang asing termasuk Belanda. Pergaulan mereka dapat dilihat dalam beberapa bidang kegiatan seperti jual beli barang dagangan.

Baca juga: Sejarah Bidan Indonesia, Berawal Keperihatinan Praktek Dukun Beranak

Beberapa kegiatan sosial lainnya pun sudah menjadi kebiasaan dan sering dilakukan oleh orang Belanda kepada orang pribumi. Karena sebab itulah secara alamiah muncul kebiasaan unik orang Indonesia yang mengadopsi budaya Belanda.

Belakangan diketahui, hal ini terjadi karena orang Belanda banyak menaruh simpati kepada kaum pribumi yang cenderung mudah manut atau bisa dikendalikan.

Pembukaan Jalur Terusan Suez

Semenjak orang-orang Belanda rajin berkunjung serta mengekspolarasi Indonesia, pada tahun 1870, dibukalah jalur emas yang membahagiakan bagi orang-orang kulit putih tersebut. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan sebutan “Pembukaan Jalur Terusan Suez (1870)”.

Seiring dibukanya jalur tersebut menyebabkan jarak antara Indonesia dengan Belanda semakin dekat. Alhasil banyak orang-orang Belanda yang penasaran dengan dongeng negeri Hindia. Kemudian mereka ikut menyeberang dan tiba di Indonesia dengan keadaan haus seks. Kenapa itu bisa terjadi?

Menurut Djoko Soekiman, dalam bukunya “Kebudayaan Indis: dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi”, hal ini terjadi karena diakibatkan oleh pembatasan perempuan Belanda pergi ke Hindia. Kaum laki-laki, baik yang sudah beristri atau belum menikah yang mendapatkan tugas pergi ke Hindia, harus direlakan pergi begitu saja tanpa diperbolehkan membawa istri atau kekasihnya.

Dengan begitu, banyak laki-laki Belanda yang menikah dengan wanita pribumi dan menjadikannya sebagai istri simpanan yang disebut dengan Nyai. Dari perkawinan silang ini pun menjadi awal munculnya kebiasaan unik orang Indonesia yang mengadopsi budaya Belanda.

Setelah banyak perkawinan silang tersebut menyebabkan ledakan penduduk di Hindia semakin berkembang dan mengubah budaya Indonesia. Hingga memunculkan kelompok etnis masyarakat baru hasil perkawinan silang antara orang Belanda dan pribumi. Di kemudian hari etnis ini sering didiskriminasi karena tak dianggap status bangsanya.

Beberapa catatan sejarah menyebut mereka yang terlahir dari perkawinan silang itu sering disebut dengan sebutan “Orang Indo”. Ada pula yang menyebutnya dengan sebutan “Orang Indis”.

Dari lahirnya etnis baru ini menyebabkan percampuran dua budaya yang berbeda dan saling menyesuaikan. Kebiasaan orang Jawa akhirnya bercampur dengan kebudayaan Belanda. Kemudian lahirlah beberapa kebiasaan unik orang Indonesia yang dianggap aneh pada masa kolonial, bahkan hingga saat ini. Apa saja kebiasaan unik tersebut?

Menyalakan Petasan

Fakta kebiasan orang Indonesia yang menarik perhatian salah satunya adalah menyalakan petasan di momen-momen tertentu seperti bulan puasa, dan lebaran. Hal ini adalah salah satu kebiasaan orang Indonesia yang diserap dari budaya Belanda pada masa kolonial. Gak percaya?

Menurut Djoko Soekiman dalam Kebudayaan Indis (2014:126), menyebut menyalakan petasan adalah salah satu kegemaran orang Belanda ketika merayakan momen-momen tertentu, salah satunya dalam upacara pernikahan.

Upacara Memorial pada Peringatan Hari Kematian

Beberapa orang di Indonesia melengkapi peringatan hari kematian sanak famili biasanya dengan menggelar do’a bersama atau dalam muslim dikenal dengan tahlil.

Selepas doa, biasanya si tuan rumah membagikan beberapa bingkisan bagi para tamu yang sudah mendoakan arwah yang meninggal tersebut.

Kebiasaan ini rupanya sudah ada sejak orang Belanda hidup di Indonesia. Hal ini tentu bisa dikatakan kebiasaan unik orang Indonesia yang mengadopsi dari budaya Belanda. Karena kebiasaan ini sesungguhnya bukan budaya Islam.

Baca juga: Menak Sunda Kelompok Partai Rakjat Pasundan Pernah Menolak NKRI

Seperti diketahui, membagikan bingkisan, seperti cinderamata piring keramik yang ditulis nama dan tanggal kematian seseorang yang meninggal, banyak ditiru oleh orang Indonesia hingga saat ini.

Penamaan Jalan yang diserap dari Bahasa Belanda

Selain kebiasaan melakukan sesuatu di atas, ternyata ada juga kebiasaan yang lebih unik lainnya seperti penyebutan pada suatu perkampungan di Yogyakarta yang diserap dari bahasa Belanda.

Pertama, di Yogyakarta terdapat nama jalan atau kampung Kleringan (timur stasiun Tugu). Menurut Djoko Soekiman (2014: 172), menyebut nama itu diserap dari nama orang Belanda yakni, Tuan Klierens.

Selain itu terdapat nama Godean (kurang lebih 6 kilometer di utara kota Yogyakarta) berasal dari nama Tuan ‘Goude’. Dia adalah seorang tuan pemilik pabrik gula di kampung tersebut.

Penyebutan nama jalan termasuk kebiasaan unik orang Indonesia lantaran seringkali memiliki makna historis dan terkadang tanpa diciptakan secara sengaja. Sebutan itu muncul dari kebiasaan masyarakat secara turun temurun serta alamiah dan kemudian menjadi nama sebuah jalan atau kampung.  

Ada lagi di Yogyakarta nama Kampung Ratmakan dan Ledok di belakang pasar Beringharjo. Dinamakan demikian karena dahulu terdapat apotek bernama Rathkamp milik orang Belanda.

Ada pula nama kampung Klitren diserap dari bahasa Belanda (koelieterein) atau kuli kereta api, dimana perkampungan ini memang dekat dengan lingkungan stasiun Lempuyangan.

Begitulah sejarah kebiasaan unik orang Indonesia yang diserap dari Budaya Belanda yang layak untuk dibaca sebagai bahan pengetahuan sejarah periode kolonialisme di Indonesia. (Erik/R2/HR-Online)

Loading...