Selasa, November 29, 2022
BerandaBerita TerbaruMemprediksi Dampak Pelonggaran PSBB dengan Model dari Ahli Ini

Memprediksi Dampak Pelonggaran PSBB dengan Model dari Ahli Ini

Apakah dampak pelonggaran PSBB akan memberikan hasil yang lebih baik ketimbang menerapkan lockdown yang ketat? Adakah yang bisa memastikan bahwa pelonggaran PSBB juga akan menghambat penyebaran Covid-19?

Saat ini wacana tentang pelonggaran PSBB menjadi topik yang diangkat dan menjadi pembahasan yang menarik. Rencana pemerintah melonggarkan PSBB disampaikan melalui wacana penerapan kehidupan new normal.

Kebijakan lockdown ataupun PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diterapkan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Namun langkah ini telah menimbulkan problem lain yang tak kalah parah, yaitu ancaman krisis ekonomi.

Sebuah tim peneliti dari University College London (UCL) bekerja sama dengan Universitas Tsinghua China telah membuat sebuah model untuk memprediksi dampak pelonggaran PSBB atau lockdown di berbagai negara.

Model dibuat berdasarkan riset yang dilakukan di 140 negara yang menerapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Termasuk menyangkut dampak yang ditimbulkannya.

Berbagai Dampak Pelonggaran PSBB

Seperti dilansir scitechdaily.com, laporan hasil riset yang diterbitkan di Nature Human Behavior, 3 Juni 2020 lalu. Pada laman itu menyebutkan bahwa dampak pelonggaran PSBB atau lockdown yang dilakukan secara hati-hati mungkin memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap ekonomi jangka panjang.

Penelitian itu menemukan bahwa kebijakan karantina wilayah, lockdown, ataupun PSBB yang diterapkan secara ketat dalam waktu singkat lebih disukai ketimbang karantina yang lebih moderat namun diberlakukan lebih lama.

“Studi ini memperlihatkan efek lockdown terhadap mata rantai pasokan (supply chains) secara global. Bahkan negara-negara yang tidak secara langsung terdampak Covid-19 justru mengalami kerugian ekonomi lebih besar,” kata peneliti Profesor Dabo Guan.

Para peneliti mencatat bahwa negara-negara yang tidak terlalu berat kasus pandemi Covid-19 bisa mengalami kerugian hingga dari 20 persen dari PDB negaranya. Hal ini akibat berhentinya bisnis dan rantai pasokan.

Selain itu, penerapan lockdown selama dua bulan seperti pernah dilakukan China dari sisi ekonomi lebih baik dari pada dampak pelonggaran PSBB atau karantina yang lebih longgar. Namun diterapkan selama empat atau enam bulan.

Penerapan lockdown juga memberikan dampak lebih parah pada negara yang menerapkan ekonomi terbuka maupun sangat terspesialisasi. Seperti dialami negara-negara Karibia yang sangat bergantung pada pariwisata.

Begitu juga dengan negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan yang sangat bergantung pada ekspor energi. Industri global yang mengandalkan pemasok khusus, seperti pabrik mobil, juga sangat rentan. Produksi mereka diperkirakan turun sampai setengahnya.

Diakui Profesor Dabo Guan, memperkirakan dampak kerugian riil akibat lockdown tidak mungkin dilakukan, namun penelitian itu menemukan karantina wilayah yang lebih singkat dan lebih ketat bisa meminimalkan dampak pada rantai pasokan.

Dampak pelonggaran PSBB atau lockdown selama satu tahun, menurut Dabo Guan, mungkin lebih baik daripada mencabut lockdown dengan cepat dan diikuti bentuk karantina lainnya.

Dampak Pelonggaran PSBB dari Pandemi Covid-19 Gelombang Kedua

Dalam model yang dibuat para peneliti itu juga diulas tentang kemungkinan dampak pandemi Covid-19 gelombang kedua. Pembatasan atau karantina wilayah pada gelombang kedua bisa berdampak lebih parah akibat pasokan yang telah habis digunakan.

Untuk meminimalisir risiko secara global, khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 gelombang kedua, para peneliti menyarankan pentingnya melakukan lockdown secara terkoordinasi pada semua negara.

Model yang dikembangkan para peneliti itu menggunakan model ekonomi “disaster footprint” atau jejak bencana untuk menghitung dampak biaya langsung akibat lockdown.

Dari model itu, para peneliti menemukan bahwa dampak pelonggaran PSBB yang dilakukan selama 12 bulan bisa meminimalkan risiko dampak rantai pasokan dibandingkan dengan mencabut lockdown lebih cepat. Namun menerapkan lockdown lagi pada periode selanjutnya. (R11/HR-Online)