Memprediksi Puncak Pandemi Covid-19 dengan Model Baru Ini

puncak pandemi Covid-19
Ilustrasi puncak pandemi Covid-19. Foto: Ist

Memprediksi puncak pandemi Covid-19 sempat menjadi topik perbincangan yang hangat di kalangan para ahli. Setiap ahli memiliki metode atau cara yang berlainan dalam memperkirakan pandemi Covid-19 akan segara berakhir.

Penularan virus Corona hingga akhir Mei 2020 telah menyebabkan lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia yang terpapar dengan korban meninggal mencapai lebih dari 300 ribu orang. Jumlah ini tampaknya masih akan bertambah.

Virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan Covid-19 pertama kali ditemukan di daerah Wuhan, China. Namun sejumlah negara yang mengalami kondisi paling parah justru berada jauh dari wilayah China.

Amerika Serikat maupun Italia dan Spanyol di Eropa tercatat menjadi negara dengan jumlah orang yang terinfeksi terbilang yang terbesar. China sendiri juga termasuk sangat tinggi jumlah warganya yang terpapar.

Baca juga: Khawatir Terjadi Gelombang Kedua Covid-19, IDAI Anjurkan Sekolah Dibuka Bulan Desember

Namun setelah berlangsung sekitar 5 bulan sejak akhir Desember 2019, sejumlah negara memperlihatkan puncak pandemi Covid-19. Grafik pun sudah mulai menurun dengan jumlah korban yang semakin berkurang.

China yang menjadi episentrum penyebaran virus Corona maupun Korea Selatan yang ada di dekatnya sudah sangat menurun jumlah kasus yang dilaporkan. Apakah penurunan grafik kasus memperlihatkan akan segera berakhirnya pandemi Covid-19?

Model untuk Memprediksi Puncak Pandemi Covid-19

Dua orang ahli fisika berhasil membuat model yang mampu memperkirakan kapan puncak pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Kedua ahli itu bernama Constantino Tsallis dari Institut Santa Fe dan Ugur Tirnakli dari Universitas Ege, Turki.

Hasil penelitian kedua fisikawan yang telah diterbitkan dalam jurnal Frontiers itu kabarnya mampu memperkirakan puncak pandemi Corona. “Berdasarkan tahap uji coba, formula ini bisa bekerja di semua negara,” kata Tsallis seperti dikutip dari Scitech Daily.

Model alat temuan baru itu bekerja berdasarkan semua data tentang kasus aktif dan kematian yang ada. Model ini bekerja dengan menggunakan statistik-Q dan perangkat fungsional lainnya untuk menemukan probabilitasnya.

Menurut Tsallis, model ini mampu memprediksi kapan puncak pandemi Covid-19 akan datang. Model ini ditemukannya saat fisikawan ini melihat grafik kasus Covid-19 yang terjadi di China.

Bentuk model itu ternyata mirip dengan model serupa yang pernah ditemukannya dua dekade sebelumnya. Namun model buatan Tsallis ini digunakan untuk memperkirakan perilaku pasar saham.”Bentuknya persis sama,” katanya.

Jika untuk data keuangan, model tersebut mampu memperlihatkan probabilitas pertukaran saham yang akan terjadi.

Baca juga: WHO: Virus Corona Tidak Akan Musnah dari Muka Bumi, Sama Seperti HIV

Dengan model serupa, kedua ilmuwan itu kemudian mengembangkan model untuk memprediksi kapan puncak pandemi Covid-19 akan terjadi. Model ini menganalisa jumlah kasus infeksi dan tingkat kematian yang terjadi setiap hari sebagai fungsi waktu.

Dalam model baru ini, Tsallis dan Tirnakli juga menggunakannya untuk memperkirakan kasus pandemi Covid-19 di China. Menurut mereka, negara asal virus Corona itu telah melewati masa puncak Covid-19.

Kedua ilmuwan itu juga menerapkannya pada sejumlah negara, seperti Inggris, Perancis, dan Brasil. Negara disebut terakhir ini bahkan naik kasusnya dan saat ini menjadi negara dengan jumlah kasus terbesar melewati Amerika Serikat.

Data dari ketiga negara ini kemudian dianalisa. Menurut Tsallis, kasus Covid-19 di negara itu cocok dengan evolusi kasus aktif dan tingkat kematian dari waktu ke waktu. Namun dia tidak menyebutkan kapan puncak pandemi Covid-19.

Model temuan baru ini, menurut Tsallis, bisa dimanfaatkan untuk membuat alat seperti aplikasi yang bisa diperbaharui dan disesuaikan dengan data baru secara real time.

“Bentuk fungsionalnya bersifat universal. Model ini tidak hanya untuk memprediksi puncak pandemi Covid-19 saja namun juga bisa untuk kasus wabah atau pandemi penyakit lain yang mungkin akan muncul,” tegasnya. (R11/HR-Online)

Loading...