Obat Flu Baloxavir Direkomendasikan untuk Pengobatan Covid-19

Obat Flu Baloxavir Pengobatan Covid-19
Ilustrasi pengobatan Covid-19. Foto: Istimewa

Alternatif pengobatan Covid-19 mendapat rekomendasi para ahli untuk menggunakan obat flu Baloxavir. Baloxavir yang dikenal sebagai obat influenza ini dinilai lebih efektif untuk penanganan pasien Covid-19.

Belum ditemukannya obat virus Corona yang benar-benar efektif dan aman mendorong para ahli melakukan penelitian terhadap berbagai jenis obat yang sudah ada. Langkah ini dinilai lebih cepat dibandingkan harus menunggu obat Corona.

Selama ini sudah ada berapa jenis obat yang telah dikenal untuk digunakan dalam perawatan pasien Corona. Seperti obat maag Famotidine, obat malaria Hydroxychloroquine, atau Remdesivir yang dikenal untuk Ebola, SARS, dan MERS.

Pengobatan Covid-19 dengan Obat Flu Baloxavir

Pengobatan Covid-19 dengan menggunakan obat flu Baloxavir direkomendasikan para ahli dari University of Texas, Austin, Amerika Serikat. Saran utamanya untuk menurunkan angka kematian Covid-19 yang sangat tinggi.

Rekomendasikan ini berangkat dari penelitian yang mereka lakukan. Dalam risetnya, mereka menemukan beberapa jenis obat antivirus yang ada berguna untuk penanganan pasien Covid-19 sesaat setelah timbul gejala.

Hasil riset para peneliti dari Universitas Texas itu dipublikasi di jurnal Nature Communications Juni 2020. Riset dilakukan untuk menguji sejumlah obat antivirus dalam pengobatan Covid-19.

Dalam penelitian itu ditemukan sejumlah obat antivirus yang dinilai cukup efektif dalam mengatasi gejala penyakit Covid-19. Obat itu antara lain oseltamivir, tamiflu, dan obat flu Baloxavir (dijual dengan merek Xofluza).

Jenis obat influenza yang direkomendasikan para ahli itu adalah Baloxavir. Bahkan dibandingkan berbagai jenis obat antivirus yang lebih tua, Baloxavir dinilai lebih efektif mengatasi gejala pernafasan akut yang umum dialami pasien Covid-19.

Selain mampu meredakan gejala yang ada, kondisi pasien juga banyak yang menjadi lebih baik. Pengobatan Covid-19 tak hanya untuk pasien yang dirawat di rumah sakit, namun juga untuk perawatan di rumah.

“Pengobatan dengan pemberian obat flu Baloxavir setelah gejala muncul selama musim influenza mampu meredakan jutaan orang yang terinfeksi virus dan menyelamatkan ribuan nyawa,” kata peneliti Robert Krug seperti dikutip dari Scitech Daily.

Pengobatan Covid-19 untuk Cegah Penyebaran Virus

Profesor biosains molekuler ini juga mengatakan bahwa dari pemetaan model yang dibuat, Baloxavir juga memberikan dampak yang lebih besar dalam mencegah penyebaran virus influenza saat itu.

Pengobatan dengan Baloxavir, juga mampu menghentikan replikasi virus dengan lebih efektif dan cepat. Temuan ini juga berimplikasi pada kemampuannya dalam menghalangi proses penularan virus dan membatasi penyebaran flu.

Bahkan penelitian yang dipimpin Profesor Lauren Ancel Meyers juga menyimpulkan bahwa obat flu Baloxavir ini akan efektif untuk pengobatan Covid-19. Baik untuk meredakan penyakit maupun mencegah penularannya.

“Pada dasarnya, kita bisa mengisolasi kasus Covid-19 secara farmasi daripada secara fisik, sehingga efektif untuk mengganggu rantai penularan virus ini,” kata Meyers.

Bahkan menurut Krug, pengobatan antivirus yang dilakukan sejak dini bisa memblokir penularan virus kepada orang lain. “Dalam jangka panjang, langkah ini tentunya bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa,” katanya.

Hingga saat ini sebagian besar penelitian untuk menemukan vaksin pengobatan Covid-19 lebih mengutamakan penggunaan obat antivirus yang ada. Karena obat ini bisa dimanfaatkan dengan segera untuk menyelamatkan pasien yang terpapar Covid-19.

Pemberian obat flu Baloxavir ini disarankan untuk pasien yang tampak sehat atau dinyatakan positif setelah tes Covid-19. Sebaliknya, obat ini bukan untuk pasien yang kritis. Ini agar potensi penularan virus Corona bisa cepat dicegah.

Dengan hasil riset yang memperlihatkan kemampuan Baloxavir terhadap flu, para peneliti sangat merekomendasikannya agar obat flu ini juga bisa digunakan untuk pengobatan Covid-19 dan mencegah penyebarannya. (R11/HR-Online)