Paguyuban Pasundan dan Peranannya pada Masa Pergerakan Nasional

Paguyiban Pasundan
Anggota Dewan Provinsi Paguyuban Pasundan pada tahun 1940. Foto: Istimewa/Soekapoera Insitute

Siapa sangka, sejarah mencatat segelintir putra Sunda ternyata pernah berperan aktif di masa pergerakan nasional yang terjadi di awal abad 20. Mereka yang terdiri dari cendikiawan muda yang sedang mengenyam pendidikan formal di masa itu mendirikan sebuah organisasi sosial bernama Paguyuban Pasundan.  

Para cendikiawan muda yang merupakan asli keturunan sunda ini bersekolah di tiga pendidikan formal di era penjajahan Belanda. Diantaranya Hogere Burger School (HBS), Kweek School (Sekolah Guru), dan STOVIA (Sekolah Kedokteran Pribumi). Mereka kemudian berkumpul dan bersepakat mendirikan organisasi sosial yang bertujuan untuk memajukan tanah Sunda.

Paguyuban Pasundan sendiri didirikan pada tanggal 20 Juli tahun 1913. Organisasi ini terbentuk dari hasil pertemuan beberapa orang dengan latar belakang suku yang sama, yaitu suka Sunda.

Pertemuan awal organisasi ini dikoordinir di Jakarta dan Bogor oleh Dayat Hidayat. Kemudian didukung oleh D.K Ardiwinata dan beberapa tokoh Sunda lainnya di Jakarta.

Namun, menurut Syarif Amin, dalam buku “Perjoangan Paguyuban Pasundan 1914-1942” (2013:23), menyebutkan, Paguyuban Pasundan pertama kali lahir di kediaman D.K Ardiwinata yang beralamat di gang Paseban, Jakarta.

Baca juga: Sejarah Kopi Priangan, Komoditas Ekspor Terlaris Masa Kolonial Belanda

Diketahui pada tahun-tahun tersebut pembentukan organisasi sosial tengah menjadi trend tersendiri di kalangan anak muda intelektual, tak terkecuali anak muda yang berasal dari Jawa Barat atau pada jaman itu masih disebut wilayah Pasundan.

Peranan organisasi ini tidak hanya bergerak pada misi organisasi yang berhaluan sosial, tetapi juga aktif pula dalam bidang politik. Lalu apa saja peranan organisasi cendekiawan muda Sunda ini pada masa pergerakan nasional? Untuk memahami jawaban lebih lanjut, silahkan simak penjelasan dibawah ini.

Paguyuban Pasundan Berperan dalam PPPKI

Menurut Ade Bagus Irshanto, dalam buku “Kiprah Politik Paguyuban Pasundan Periode 1927-1959” (Jurnal Ilmiah UPI: 5), menyebutkan bahwa organisasi ini memiliki peran aktif dalam badan PPPKI yang digelar di Bandung pada tanggal 17-18 Desember tahun 1927.

Kegiatan PPPKI tersebut dihadiri pula oleh berbagai organisasi lain seperti, Budi Utama, Partai Sarekat Islam, Partai Nasionalis Indonesi (PNI), Studies Indonesia Club, Serikat-serikat Sumatera dan Kaum Betawi.

Pada awal berdiri, Paguyuban Pasundan konsen bergerak di bidang sosial, budaya dan pendidikan. Namun seiringnya dibentuk Volksraad (Dewan Wakil Rakyat), organisasi ini pada perjalanannya menyibukkan diri dalam bidang politik.

Selain itu, menurut catatan yang sama menyebutkan bahwa organisasi intelektual muda Sunda ini ikut mendirikan PPPKI. Sejak bergabung dengan PPPKI, kiprah mereka semakin luas. Selain berkembang di wilayah lokal Jawa Barat, organisasi ini pun berkembang ke wilayah lainnya di Nusantara.

Perkembangannya semakin pesat semenjak organisasi ini dikenal luas oleh para tokoh nasional. Seiring hal tersebut, organisasi ini juga turut berperan aktif dalam politik, baik yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri.

Salah satu yang pernah dilakukan Paguyuban Pasundan antara lain mendukung terbentuknya organisasi Perhimpunan Indonesia (PI) yang beranggotakan Moh. Hatta, Abdoel Madjid Djojodiningrat, Ali Sastroamidjojo, dan Nazir St, Pamoentjak, di Belanda.

Peran aktif dalam pergerakan nasional tidak berhenti sampai disitu saja. Beberapa aksinya diperlihatkan ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Soekarno terlibat masalah dengan pemerintah Belanda. Hingga akhirnya terjadi penangkapan terhadap tokoh PNI seperti, Soekarno, Maskoen, Gatot Mangkoepraja dan Soepriadinata.

Dibawah naungan Paguyuban Pasundan, PNI dibekali seorang ahli hukum (pengacara) bernama R. Idih Prawirodipoetra. Di persidangan PNI dituduh telah melakukan kegiatan usaha penggulingan kekuasaan Hindia Belanda. Pembelaan ini dilakukan sebagai bukti simpati Paguyuban Pasundan terhadap organisasi yang dipimpin Soekarno tersebut.

Menentang Berdirinya PRP (Partai Rakjat Pasundan) Bentukan Belanda

Menurut Oom Komala Sandy dalam buku “Etnonasionalisme Paguyuban Pasundan Dalam Asas Tunggal Pancasila 1980-1990” (Jurnal Ilmiah UNS: 198), menjelaskan bagaimana organisasi intelektual muda Sunda ini pernah padam lalu bangkit ketika menentang berdirinya PRP atau Partai Rakjat Pasundan.

PRP yang dipimpin R.A.A.M.M Soeria Kartalegawa yang merupakan bentukan Belanda ini memiliki tujuan ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia pada tahun 1947.

Hal ini berawal dari rumor beberapa tokoh Paguyuban Pasundan terlibat dalam keanggotaan PRP. Menurut Oom, adapun rumor tersebut menjadikan tokoh-tokoh Sunda merasa dicemarkan.

Baca juga: Surat Kabar Pertama Milik Pribumi Bernama Medan Prijaji

Hal itu juga yang membuat organisasi intelektual Sunda yang sempat vakum ini berdiri kembali pada tahun 1947. Sebagai organisasi yang memiliki anggaran dasar berdasar pada UUD 1945 tentu merasa terusik ketika segelintir orang Sunda yang mengatasnamakan PRP menentang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain itu menurut catatan yang sama menyebut pendirian kembali organisasi ini merupakan bentuk pernyataan bahwa Paguyuban Pasundan bukan bagian dari PRP.

Organisasi cendikiawan Sunda ini kemudian berdiri kembali di tiga kota besar. Yaitu Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Setelah eksis kembali dan menyatakan sikap menentang terbentuknya PRP, kemudian mengganti nama menjadi PARKI (Partai Kebangsaan Indonesia). Langkah membentuk partai sebagai transformasi ke arah yang lebih nasional atau tidak sekedar organisasi kesukuan. (Erik/R2/HR-Online)