Pandemi Covid-19 Gelombang Kedua Bisa Dihindari, Ini Hasil Risetnya!

Pandemi Covid-19 Gelombang Kedua
Ilustrasi Covid-19 Gelombang Kedua. Foto: Istimewa

Pandemi Covid-19 gelombang kedua diperkirakan akan melanda banyak negara. Perkiraan ini menyusul pelonggaran kebijakan lockdown dan penerapan new normal yang diterapkan di berbagai negara.

Wabah penyakit yang diakibatkan virus Corona ini telah menimbulkan banyak kerugian bagi umat manusia. Selain banyak yang meninggal dunia, virus yang sangat menular ini mendorong banyak negara menerapkan kebijakan lockdown.

Kebijakan Lockdown atau PSBB ternyata membawa dampak yang lebih luas. Perekonomian dunia mengalami penurunan drastis. Bahkan ada yang meramalkan akan terjadinya krisis ekonomi global jika Lockdown berlangsung lebih lama.

Ketika lockdown mulai dilonggarkan, muncul kekhawatiran tentang pandemi Covid-19 gelombang kedua. Kembalinya orang beraktivitas di luar rumah diprediksi bisa memicu penularan virus Corona yang saat ini mulai menurun.

Lockdown sebenarnya merupakan seruan badan kesehatan dunia WHO untuk mencegah penularan virus Corona. Hampir semua negara pun menerapkannya untuk mencegah interaksi antar warganya.

Lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan kebijakan yang diterapkan dengan ‘melarang’ warganya ke luar rumah. Aktivitas ditekankan agar dilakukan di rumah saja tanpa interaksi langsung dengan orang lain.

Namun benarkah pandemi Covid-19 gelombang kedua akan benar-benar terjadi? Jika benar terjadi, apa yang harus dilakukan dan apakah pandemi baru ini bisa dicegah atau dihindari?

Hasil Riset Menghadapi Pandemi Covid-19 Gelombang Kedua

Untuk menghadapi kemungkinan wabah Coronavirus gelombang kedua, sejumlah ahli dari Barcelona Institute for Global Health (ISGLOBAL) melakukan penelitian. Riset dilakukan dengan menggunakan teknik studi model.

Dalam penelitian ini, para ahli membuat proyeksi berdasarkan beberapa kelompok model populasi. Yaitu kelompok rentan, dikarantina, terpapar, menular tidak terdeteksi, dilaporkan menular dan terkurung, kelompok pulih, dan kelompok yang mati.

Para peneliti juga membuat simulasi tentang tingkat lockdown wilayah maupun strategi yang bisa diterapkan pasca new normal atau pelonggaran baru yang berbeda.

Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Human Behavior minggu ini memperlihatkan bahwa serangan Covid-19 gelombang kedua ternyata bisa dicegah dan dihindari.

Dalam model yang dikembangkannya, peneliti ISGlobal menemukan bahwa perilaku individu merupakan faktor penentu dan kunci utama dalam mencegah penularan virus Corona.

“Model kami memang berbeda dan menganggap kembalinya orang yang telah terkurung di rumah ke populasi yang rentan bisa memperkirakan dampak pelonggaran,” kata Xavier Rodo, kepala program Iklim dan Kesehatan ISGlobal, seperti dilansir scitechdaily.com, Rabu 24 Juni 2020.

Lockdown Tidak Lagi Diperlukan

Para peneliti itu juga menemukan bahwa perilaku individu mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam mencegah dan menghadapi serangan infeksi Covid-19 gelombang kedua.

Yang tak kalah menariknya, dari riset model itu para ahli juga membuktikan bahwa langkah lockdown, penguncian wilayah, atau PSBB tak lagi diperlukan. Bahkan warga tak perlu lagi ‘dikurung’ di dalam rumah.

Namun syaratnya, setiap orang harus disiplin dalam menjaga jarak sosial, pemakaian masker wajah, selalu menjaga kebersihan tangan. Untuk menjaga kedisiplinan perilaku individu, maka diperlukan intervensi dari pihak otoritas.

Para ahli dari Institut Barcelona untuk Kesehatan Global atau ISGlobal juga menekankan bahwa pelonggaran ini perlu dilakukan secara bertahap. Hal ini penting untuk mengurangi risiko paparan virus Covid-19 gelombang kedua.

Selain itu, pelonggaran yang dilakukan secara bertahap juga untuk membangun kebiasaan baru yang lebih sehat dan mandiri. Perilaku individu yang berlandaskan pada kesadaran ini lebih efektif menghadapi pandemi Covid-19.

Riset itu juga memetakan berbagai negara yang belum mencapai puncak kasus Covid-19. Negara semacam ini, menurut para peneliti itu, masih harus melakukan lockdown setidaknya selama 60 hari.

Meskipun begitu para peneliti mengakui adanya dilema antara pelonggaran dengan kebutuhan untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi. Tanpa kehati-hatian, pelonggaran justru memicu datangnya serangan Covid-19 gelombang kedua. (R11/HR-Online)