Perbedaan Sel Volta dan Sel Elektrolisis Beserta Penerapannya

Perbedaan Sel Volta dan Sel Elektrolisis
Ilustrasi Perbedaan Sel Volta dan Sel Elektrolisis. Foto Istimewa

Perbedaan sel volta dan sel elektrolisis menjadi hal yang sangat penting terutama di dalam sel elektrokimia. Dengan kata lain, sel elektrokimia terdiri dari dua jenis, yaitu sel volta (sel galvani) dan sel elektrolisis.

Sel elektrokimia merupakan alat yang digunakan untuk mengubah energi kimia dihasilkan di dalam reaksi redoks kemudian menjadi energi listrik.

Baca Juga: Benzena dan Turunannya, Penjelasan, Sifat, Beserta Kegunaannya

Setiap setengah sel elektrokimia terdiri dari batang logam yang dimasukkan ke dalam larutan dari ionnya sendiri. Reaksi reduksi oksidasi atau sering disebut sebagai redoks akan berlangsung di dalam sel elektrokimia.

Di dalam reaksi redoks, reduksi maupun oksidasi terjadi secara bersamaan. Selama reaksi ini terjadi, jumlah elektron yang keluar sana dengan jumlah elektron yang didapatkan.

Perbedaan Sel Volta dan Sel Elektrolisis

Sel volta pertama kali ditemukan oleh Alessandro Volta. Penamaan sel volta memang diambil dari nama penemunya.

Sel volta adalah salah satu sel elektrokimia yang mampu menghasilkan listrik secara spontan. Listrik ini dihasilkan dari reaksi kimia yang berlangsung di dalam larutan.

Sedangkan sel elektrolisis sendiri merupakan sel elektrokimia yang mengalami reaksi kimia saat arus listrik dialirkan menuju sel tersebut.

Dengan demikian, di dalam sel volta atau galvani terjadi reaksi spontan dan reaksi non spontan berlangsung pada sel elektrolisis. Meskipun demikian, di dalam kedua jenis sel tersebut mengandung elektroda.

Dimana menjadi tempat berlangsungnya reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Seperti yang kita tahu, reksi oksidasi terjadi pada anoda dan reaksi reduksi terjadi pada katoda.

Perbedaan sel volta dan sel elektrolisis dapat dilihat dari berbagai hal penting. Diantaranya, perubahan energi yang terjadi dan pembagian sel.

Bahkan perbedaan keduanya dapat dilihat dari sifat anoda serta katoda dan sumber elektron untuk sel. Di dalam sel elektrolisis anoda bermuatan positif.

Hal ini dikarenakan anoda menarik anion dari dalam larutan. Sedangkan untuk katoda bermuatan negatif. Lain lagi dengan sel volta atau galvani, yang mana anoda bermuatan negatif.

Sebab, oksidasi spontan yang terjadi pada anoda merupakan sumber elektron sel atau disebut muatan negatif. Sementara itu, pada sel volta atau galvani, katoda bermuatan positif.

Namun, di dalam kedua sel, baik itu sel volta maupun sel elektrolisis, oksidasi terjadi di anoda. Sehingga elektron akan mengalir dari anoda ke katoda.

Penerapan Sel Volta

Setelah kita tahu, apa saja perbedaan sel volta dan sel elektrolisis, maka akan dengan mudah memahami penerapan keduanya. Ada penjelasan penting mengapa reaksi redoks di dalam sel volta merupakan reaksi spontan.

Alasan yang melatarbelakangi, karena sel volta sering diaplikasikan sebagai baterai. Reaksi di dalam sel volta memasok energi yang dimanfaatkan untuk melakukan kerja atau usaha.

Energi yang dihasilkan akan digunakan dengan menempatkan oksidasi beserta reduksi dalam wadah terpisah. Sehingga akan bergabung dengan suatu alat yang memberikan kemungkinan elektron mengalir. Sebuah sel volta yang umum merupakan sel Daniell.

Penerapan Sel Elektrolisis

Masih membahas terkait perbedaan sel volta dan sel elektrolisis. Setelah memahami penerapan sel volta di dalam kehidupan sehari-hari, kini kita beralih ke penerapan sel elektrolisis.

Di dalam sel elektrolisis terjadi reaksi redoks non spontan. Hal ini dikarenakan energi listrik dibutuhkan untuk mengindikasi reaksi elektrolisis.

Contoh sel elektrolisis yang paling umum kita jumpai adalah penguraian garam menjadi unsur pembentuknya. Atau sering disebut sebagai NaCl cair.

Elektrolisis NaCl cair ini akan membentuk natrium cair dan juga gas klorin. Dimana ion-ion natrium berpindah menuju arah katoda.

Kemudian ion-ion natrium ini akan direduksi menjadi logam natrium. Begitu pula dengan ion klorida, ion klorida berpindah menuju anoda, kemudian dioksidasi membentuk gas klor.

Jenis sel ini digunakan untuk memproduksi natrium dan juga klorin. Kenyataannya gas klorin bisa dikumpulkan di sekitar sel.

Logam natrium yang kurang padat dibandingkan dengan garam cair. Sehingga akan dihapus seperti mengapung ke bagian atas wadah reaksi.

Dari penerapan keduanya, baik itu sel volta maupun sel elektrolisis, dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa perbedaan sel volta dan sel elektrolisis dapat dilihat dari proses terjadinya reaksi redoks. (R10/HR-Online)