Petani Kopi di Pangandaran Terapkan Pengeringan Teknik ‘Green House’, Apa Keistimewannya?

Petani Kopi di Pangandaran

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Petani kopi di Pangandaran, Jawa Barat, rupanya sudah mengunakan metoda khusus dalam mengolah hasil pertaniannya. Dengan cara dan tahapan yang benar ini ternyata menghasilkan cita rasa kopi yang istimewa.

Untuk menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas dan nikmat, ternyata terdapat cara khusus. Namun tidak semua petani kopi tahu dan melakukannya. Cara khusus ini dilakukan dari saat mulai menanam pohon kopi, perawatan, saat panen hingga proses penjemuran.

Salah seorang petani kopi di Pangandaran, Gugi, mengatakan, setelah penyajian kopi barista mulai akrab di masyarakat, dirinya kemudian mencari tahu cara menamam hingga mengolah kopi yang berkualitas.

“Kalau dulu yang penting pohon kopi berbuah dan setelah panen langsung dijual ke tengkulak. Namun sekarang tidak seperti itu. Karena apabila asal tanam dan asal berbuah saja, hasil kopinya kurang berkualitas,” ujarnya, kepada HR Online, Minggu (31/05/2020).

Cara Petani Kopi di Pangandaran Hasilkan Kopi Berkualitas

Gugi mengakui terdapat teknik khusus mulai saat menanam, merawat hingga kopi dipanen dan dikeringkan. Setiap tahapan itu harus dilakukan dengan teliti agar menghasillkan kopi yang benar-benar berkualitas. “Kalau teknik rincinya tidak akan saya sebutkan, karena itu rahasia perusahaan,” kata Gugi sambil berkelakar.

Namun begitu, Gugi memberikan satu bocoran agar kopi yang dihasilkan memiliki aroma khas dan nikmat. Menurutnya, setelah kopi dipanen, jangan dijemur di tanah atau di atas terpal. Dalam proses penjemuran harus disimpan di sebuah tempat yang disebut green house.

“Pada penjemuran green house juga terdapat cara perawatan khusus untuk menghasilkan kopi yang berkualitas. Sebagai petani kopi di Pangandaran yang sudah lama, saya merasakan betul perbedaan kopi yang dihasilkan dengan cara-cara yang sudah sesuai standar ini,” ujarnya.

Menurut Gugi, apabila kopi yang baru dipanen dijemur di tanah atau terpal, nantinya ketika sudah digiling dan siap seduh akan sedikit tercium bau apek. Apalagi kalau dijemur diterpal, pada aroma kopinya akan tercium bau plastik.

“Saat diminum pun rasanya kurang nikmat. Kalau penikmat kopi barista mungkin akan hapal mana kopi berkualitas dan mana yang kurang,” katanya.

Proses Pengeringan Kopi 14 Hari

Gugi mengatakan proses penjemuran di green hause memang waktunya cukup lama atau sekitar 14 hari. Selain itu, penyusutan dari kopi basah menjadi kering pun lumayan banyak. “Satu kilogram kopi basah bisa menyusut menjadi 3 ons kopi kering. Namun begitu hasil kopinya sangat luar biasa istimewa,” katanya.

Menurut Gugi, tempat penjemuran green house berukuran 6 meter x 12 meter dan mampu menampung 5 kwintal kopi dalam kondisi basah. Namun begitu, dia sebagai petani kopi di Pangandaran terkendala lahan untuk membuat penjemuran green house yang lebih banyak.

“Kopi yang saya tanam jenisnya robusta dan ditanam di lokasi di atas 500 MDPL. Setiap musim panen, lahan kebun kopi milik saya yang luasnya 35 hektare bisa menghasilkan 60 ton kopi. Karena lahan penjemuran green hauisenya terbatas, membuat proses penjemuran yang cukup lama,” katanya.

Namun begitu, lanjut Gugi, dengan cara tanam, perawatan hingga penjemuran yang memenuhi standar membuat produk kopinya diterima dengan harga yang cukup tinggi.

“Kalau dulu dengan cara tanam dan proses pengeringan asal-asalan, saya menjual ke tengkulak dengan harga Rp. 18 ribu per kilo. Tapi sekarang dengan kopi kualitas super bisa diterima di pasar dengan harga Rp. 45 ribu per kilo,” terangnya.

Kopi Super Laku di Pangandaran

Kopi super hasil olahannya, lanjut Gugi, tidak perlu lagi dijual ke luar daerah. Karena permintaan pasar di Pangandaran akan kopi super saat ini terbilang cukup tinggi.

“Kedai-kedai kopi barista di wilayah Pangandaran hampir semua menggunakan kopi super dari produksi saya. Alhamdulilah jika ditekuni dengan serius hasilnya pun akan menjanjikan,” katanya.

Sebagai petani kopi di Pangandaran, Gugi mengaku situas pandemi Covid-19 tidak berpengaruh terhadap penjualan usahanya. Menurutnya, selain penyebaran Covid-19 di Pangandaran bisa dikendalikan, juga karena kopi barista sudah mulai diterima oleh masyarakat secara luas. “Untuk permintaan dan penjualan masih normal seperti biasa,” pungkasnya. (Ceng2/R2/HR-Online)

Loading...