Sejarah Bidan Indonesia, Berawal Keperihatinan Praktek Dukun Beranak

Sejarah Bidan Indonesia
Sejarah Bidan Indonesia. Foto ini menggambarkan bidan pribumi sedang merawat bayi yang baru lahir di rumah sakit bersalin sekitar tahun 1930-1940-an. Foto: Istimewa

Sejarah bidan Indonesia rupanya memiliki catatan perjalanan yang sangat panjang. Selain dibentuk saat keadaan kesehatan persalinan yang mengkhawatirkan, juga sempat diperbantukan sebagai petugas palang merah saat perang revolusi fisik di era penjajahan Belanda.

Seperti diketahui, Bidan adalah salah satu profesi yang sangat dibutuhkan khususnya oleh kaum perempuan. Bidan sangat memegang peranan penting dalam membantu lahirnya seorang bayi dari dalam kandungan sang ibu.

Tak jarang tugasnya banyak dihargai dengan beragam cara. Salah satunya dengan memperingati momentum peringatan Hari Bidan Nasional yang jatuh pada tanggal 24 Juni.

Lalu bagaimana sejarah bidan di Indonesia? Mari simak penjelasan lebih lanjut dibawah ini.

Sejarah Bidan Indonesia

Menurut Bara Pratama dalam, “Sejarah Kebidanan Indonesia” (Artikel Online Universitas Mahalayati Bandar Lampung: 7/April/2016), menyebut Hari Bidan Nasional yang selalu diperingati setiap tanggal 24 Juni, ternyata memiliki catatan sejarah yang sangat panjang.

Menurutnya, sejarah bidan Indonesia bisa dilihat pada beberapa periode waktu. Periode awal terjadi pada tahun 1870. Pada tahun tersebut keadaan kesehatan khususnya persalinan sangat mengkhawatirkan.

Sumber sejarah mencatat telah terjadi beberapa penyimpangan dalam proses persalinan pada orang pribumi yang dilakukan oleh dukun beranak.

Baca juga: Hari Ayah Sedunia Diperingati 21 Juni 2020, Bagaimana Sejarahnya?

Bara Pratama juga menyebut dimasa itu Gubernur Jenderal Daendels membangun sebuah sarana kesehatan berupa sekolah kedokteran Jawa di Batavia tahun 1849.

Namun pendidikan ini tidak berlangsung lama lantaran kekurangan peserta yang ingin belajar. Saat itu orang pribumi masih mempercayai dukun beranak sebagai tenaga medis yang lebih baik daripada bidan.

Memasuki abad 20 beridirilah STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), atau sekolah kedokteran untuk pribumi. Hal ini membantu perkembangan ilmu kebidanan di Hindia Belanda kearah yang lebih baik dan menjadi awal sejarah Bidan Indonesia.

TCL

Menolong Korban Perang

Seperti dikutip dalam Siti Marjam, “Kongres Perempuan Pertama” (2007:228), menceritakan peran Marie Thomas sebagai mahasiswa lulusan STOVIA menjadi dokter pertama di Indonesia yang ditugaskan di Cirebon.

Marie pun bercerita bagaimana perannya menyadarkan masyarakat pribumi percaya kepada tenaga medis seperti bidan. Dalam masa-masa tugasnya Marie hanya ditemani oleh satu bidan untuk melayani satu kota di Cirebon.

Perjuangan Marie Thomas kemudian banyak menginspirasi perempuan-perempuan lain untuk menjadi dokter dan bidan di Hindia Belanda.

Pada masa revolusi fisik tahun 1946 terdapat sejarah Bidan Indonesia yang layak diapresiasi. Dimana pada waktu itu peran bidan tak kalah penting dalam menolong korban perang.

Selain itu untuk menambah relawan dan tenaga medis yang profesional, himpunan dokter yang sedang ditugaskan di Blitar, membentuk sekolah bidan di tengah-tengah perang yang sedang berkecamuk.

Hal ini seperti dikutip dalam Indro Agusni, ”Kiprah Dokter Nias-Djakarta Ika Daigaku dalam Sejarah Republik Indonesia” (2012: 153). Buku itu mencatat setelah gencatan senjata meredup di Malang, dr. Winoto, dan dr. Trisulo Pucung ditugaskan menjadi dokter di Rumah Sakit Mardi Walujo Blitar. Selain itu mereka berdua membuka pendidikan bidan selama penugasan berlangsung.

Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga medis terutama bidan yang sangat kekurangan. Menurut catatan yang sama, menyebut dua dokter ini pun tercatat berhasil meluluskan beberapa tenaga bidan yang mampu melayani persalinan secara aman kepada masyarakat di Blitar, dan sekitarnya.

Menurut Indro Agusni, selain melayani proses persalinan di rumah sakit, peran bidan pada masa revolusi pun terkenal sebagai relawan Palang Merah. Mereka ditugaskan menolong korban perang yang tertembak dan membedah peluru di beberapa titik tubuh korban yang masih bisa diselamatkan.

Sejarah Bidan Indonesia pada Kongres IBI Tahun 1951

Mengutip Bara Pratama dalam catatan yang sama menyebut, terbentuknya Hari Bidan Nasional berangkat dari konferensi Bidan pertama di Jakarta pada tahun 1951.

Konferensi tersebut digelar pada tanggal 24 Juni 1951. Kongres tersebut digawangi oleh beberapa bidan senior yang kemudian melahirkan organisasi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Jakarta.

Adapun menurut KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) menyebut, tujuan dibentuknya IBI adalah untuk membentuk profesi kesatuan yang bersifat nasional. Selai itu IBI juga mendukung persatuan dengan cara menggalang persaudaraan antara sesama bidan dan para kaum wanita di seluruh Indonesia.

Baca juga: Bahasa Arab ke Indonesia, Sejarah dan Perkembangannya

Dikutip dari catatan yang sama, pada tanggal 15 Oktober 1954 IBI diakui sebagai organisasi berbadan hukum yang tertera dalam lembaran negara dengan nomor. Y.A. 5/ 927 (Departemen Kehakiman).

Selain itu, pada tahun 1956, dimulailah sejarah bidan Indonesia menuju profesional, dimana IBI diterima sebagai anggota ICM (International Confederation of Midwifes) atau Ikatan Bidan Internasional. Kemudian pada tahun 1987, dan 2000 menjadi tuan rumah ICM Meeting untuk kawasan Asia Pasifik.     

Dari penjelasan diatas maka kita ketahui peran bidan di Indonesia sangatlah panjang. Tercatat dari masa kolonial, revolusi fisik, hingga saat ini sungguh peran bidan sangat berarti.

Mereka sudah selayaknya diberi perhatian khusus oleh pemerintah dengan memperingati Hari Bidan Nasional yang diperingati sesuai dibentuknya IBI yakni, pada tanggal 24 Juni 1951.

Maka dengah itu hingga saat ini, setiap tanggal 24 Juni selalu diperingati sebagai Hari Bidan Nasional sebagai peringatan sejarah bidan Indonesia yang telah memberikan peran nyata dalam perjalanan bangsa ini. (Erik/R2/HR-Online)

Loading...