Sejarah Kopi Priangan, Komoditas Ekspor Terlaris Masa Kolonial Belanda

Sejarah Kopi Priangan
Potret para petani kopi perempuan di Priangan Jawa Barat yang sedang memisahkan biji kopi kualitas ekspor pasaran Eropa. Sejarah kopi Priangan memang tak lepas dari peran kolonial Belanda. Foto: Istimewa

Sejarah kopi Priangan atau kopi yang berasal dari daerah Jawa Barat, rupaya pernah memiliki catatan gemilang di zaman kolonial Belanda. Betapa tidak, biji kopi dari daerah Tatar Sunda ini kala itu pernah menjadi komoditas ekspor dan dijual di pasar Eropa dengan harga yang lumayan tinggi.

Beberapa wilayah di Priangan yang menjadi pusat perhatian Belanda untuk ditanami benih kopi unggul standar pasaran Eropa, diantaranya wilayah Priangan bagian barat dan Priangan bagian timur, termasuk kesultanan Cirebon.

Diketahui pada tahun 1707 Belanda menetapkan daerah Priangan sebagai daerah uji coba penanaman kopi. Akan tetapi melihat permintaan kopi yang semakin meningkat, Belanda memperluas perkebunan kopi hingga ke Pekalongan Jawa Tengah, Ceylon, dan Ambon.

Sejarah kopi Priangan mulai berkibar ketika Belanda menetapkan status Priangan sebagai wilayah yang diproyeksikan menjadi daerah penghasil komoditas kopi terbanyak di tanah Nusantara.

Wilayah Priangan juga diharapkan dapat memenuhi permintaan kopi dalam jumlah besar atau sesuai permintaan pasar Internasional yang sedang berkembang di Eropa. Lalu bagaimana proses perdagangan kopi yang direncanakan oleh Belanda di Priangan saat itu?

Sejarah Kopi Priangan, Kopi Terbaik Standar Ekspor Internasional  

Kopi berawal dari tanaman uji coba Belanda di India bagian selatan. Biji kopi hasil petikan langsung dari kebun dibawa ke Belanda dan diberikan kepada para pimpinan VOC Heeren Zeventien pada tahun 1706.

Karena kopi memiliki aroma yang harum dan mengandung cita rasa yang nikmat, kemudian Hereen Zeventien menyuruh utusannya dari Belanda menyampaikan pesan khusus untuk Gubernur Jendral Van Hoorn. Pesan itu intinya agar pembudidayaan tanaman kopi menjadi perhatian Van Hoorn.

Setelah mendapat pesan khusus, Van Hoorn kemudian membagikan beberapa benih kopi siap tanam di wilayah pesisir Cirebon dan Batavia. Namun hasilnya tak memuaskan. Akhirnya Van Hoorn memberikannya kepada petani di wilayah Priangan, tepatnya di daerah Cianjur. Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Dari sinilah sejarah kopi Priangan dimulai.

Baca juga: Surat Kabar Pertama Milik Pribumi Bernama Medan Prijaji

Pada tahun 1711 Bupati Cianjur menjadi penyetor pertama ke Belanda dengan jumlah yang sangat banyak. Tanaman kopi yang ditanam di tanah Priangan diketahui jenis tanaman yang memerlukan suhu udara dingin untuk tetap tumbuh dan menghasilkan biji buah kopi terbaik.

Dalam buku sejarawan Jan Breman, “Kopi Jawa Bikin Kecanduan Orang Eropa”, disebutkan bahwa Cianjur menjadi daerah pemasok kopi terbesar untuk kongsi dagang Belanda VOC pada awal abad ke 18. Daerah ini biasa disebut dengan wilayah tambang kopi yang kaya dan melimpah.

Unjuk Rasa Petani Tercatat pada Sejarah Kopi Priangan

Setelah perkebunan kopi di wilayah Priangan semakin berkembang, rupanya memberikan keuntungan bisnis yang sangat besar bagi orang-orang Belanda. Namun kondisi berbeda dialami petani kopi yang malah dibuat sengsara.

Awalnya, petani kopi dibayar dengan harga yang sebanding oleh Belanda. Namun ketika bisnis kopi mulai berkembang, Belanda malah mengubah kebijakan secara mendadak. Belanda menghargai kopi petani dengan harga sangat rendah.

Dikutip dari beberapa referensi sejarah kopi Priangan, kebijakan itu dikeluarkan Belanda setelah menyadari bahwa bisnis perkebunan kopi dapat memberikan keuntungan yang lebih besar jika perdagangan petani kopi di Priangan dimonopoli.

Alhasil Belanda melarang penjualan kopi ke pedagang swasta (tengkulak) dan pelanggarnya bisa dikenai sanksi hukuman.

Selain itu Belanda juga mewajibkan para petani kopi menyetorkan hasil panennya pada setiap kepala daerah masing-masing. Kepala daerah ini mendapat kewenangan mengontrol dan memobilisasi masyarakat dalam menanam kopi.

Dari keadaan yang serba sulit ini memaksa para petani kopi melakukan berbagai unjuk rasa. Mereka pun melakukan sabotase pada kebun-kebun kopi milik Belanda. Penurunan harga kopi sangat berpengaruh pada nasib para petani. Mereka semakin sengsara dan hidup dalam kemiskinan.

Sejarah Kopi Priangan Bagi Orang Eropa

Sejak dibagikannya benih-benih kopi unggul oleh Gubernur Jenderal van Hoorn di Cianjur, Kopi menjadi komoditi ekspor yang tembus pasaran dunia.

Dalam beberapa catatan sejarah seperti yang ditulis sejarawan C.R. Boxer dalam Jan Kompeni: Sejarah VOC dalam Perang dan Damai, menyebutkan bahwa pada tahun 1730 hampir empat sampai enam juta ton kopi diangkut dari wilayah Priangan menuju Belanda.

Baca juga: Sejarah Masjid Cheng Ho, Bukti Akulturasi Tiongkok dan Arab di Indonesia

Bahkan seperti dikutip dalam catatan pendeta Belanda F.Valentijn, menyebut orang-orang Eropa sangat kecanduan dengan kopi dari Priangan.

“Orang Eropa mengeluh bahwa kopi dari Priangan sudah begitu umum disukai hingga sampai ke kalangan pelayan-pelayan wanita. Bahkan selama kopi Priangan belum ada di meja, para penjahit enggan bekerja sebelum cairan hitam itu diseduh,” tutur Boxer dalam (Jan Kompeni: Sejarah VOC dalam Perang dan Damai).

Begitulah sejarah Kopi Priangan yang pernah menjadi komoditas ekspor terlaris di pasar Internasional. Sebagaimana biasa, tulisan ini layak untuk menjadi bahan pertimbangan pembaca guna menambah pengetahuan historis yang lebih mendalam. (Erik/R2/HR-Online)

Loading...